• Serah Terima Amanah

    Serah Terima Amanah dari Syah Azis Perangin Angin (Ketua FLP Semarang 2011 - 2014) kepada Muh. Hafidz Nabawi (Ketua FLP Semarang Periode 2014 - 2016). Semoga dapat membawa FLP Semarang menjadi lebih baik. Amin...

  • Pelantikan Pengurus Wilayah FLP Jateng di Semarang

    Pelantikan Pengurus FLP Wilayah jawa tengah di SDIT Cahaya Bangsa Semarang. Semoga amanah ya... Amin..

  • Open Recruitmen Anggota FLP SMG

    Berpose setelah selesai mengikuti Rekrutmen Anggota Baru FLP Semarang... Ayo, Tunjukkan Orange-Mu.. Menanti karya Flpers Semarang... Semoga makin produktif... Amiin..

Showing posts with label AkudanFLP. Show all posts
Showing posts with label AkudanFLP. Show all posts

Thursday, November 1, 2012

AKU DAN FLP



                            Oleh: Alissyfa
Cinta pertamaku pada FLP bermula sekitar 5 tahun lalu. Ketika itu menjelang liburan sekolah setelah kelulusan SMP. Bisa dibayangkan roman kehidupan seorang gadis kecil yang kaku, masih bingung, meraba-raba mana bentuk, mana topeng untuk dipakai saat berkumpul bersama teman-teman. Agaknya peristiwa pada cinta pada pandangan pertama ini berbuntut panjangm, hinga kini, kini aku duduk di semester 6, di sebuah Universitas Islam yang sering kali kusebut “The Andaluslan University”.
Ketika itu, setelah seusai pulang dari pendaftaran siswa baru di SMA ! Purwodadi, yang katanya ‘sekolah favorit’. setibanya dirumah, ternyata kakak laki-lakiku yang sulung juga baru saja sampai kampung halaman, ‘mudik’. Dulu merupakan istilah asing di telingaku. “Dek, aku bawa buku bagus”. Kata masku pendek. Buku sedang dengan warna merah tua, bergambar wanita dengan jilbab diusung judul ‘gara-gara jilbabku’ diujung paling atas buku tersebut. Tak lupa torehan nama penulis di bawahnya: Asma Nadia, dkk.” Wah novel religi. Nggak gitu tertarik, paling ceritanya sama, kesedihan, monoton, dan penuh kepasrahan”. Jawabku sambil bergidik. Masku hanya tersenyum kecil. Lalu mengusap kepalaku dan meletakkan buku itu ditanganku .
Meski minatku pada tiap genre bacaan selalu berubah-ubah (tergantung mood), akhirnya kubaca juga buku bernuansa novel tersebut. Selembar, dua lembar, 15 menit, setengah jam, semalam suntuk kupaksa untuk menyelesaikan bacaan ‘kecil’ yang memancing rasa penasaranku. Tumpahan kisah haru, tentang perjuangan mengibarkan ‘panji’ jilbab yang dituturkan sangat apik, mulai dari Ifa Avianty, Jazimah Al-Muhyi, Maya Lestari G.F, Leyla Imtichonah, dan Asma Nadia sendiri tentunya, berbekas rasa heran. Heran pada diriku sendiri. Satu kalimat dari Andi Tenri Dala F, dia bilang : “tiada yang membelenggu kita kecuali pikiran kita sendiri”. Glek. Aku sadar meskipun pura-pura masih bermimpi. Kendala akhwat yang satu ini pun sama denganku, kurasa hobi berrmain musik sangat tidak pantas dimonopoli orang-orang dengan penutup kepala ini.
Takut di cap sok alim? tidak juga. Cuma rasanya terlalu aneh saja, apa kata orang nanti jika melihat pemain musik, gedombrangan pula, dan gitaris atau violisnya seorang wanita berjilbab? “Namun rasanya seperti jatuh cinta pada seseorang tapi tidak bisa mengungkapkannya”. tutur salah satu penulis di buku tersebut. Begitulah, karena pada dasarnya saya suka membaca buku bermakna, ( cieee……), maka begitu pun buku tersebut mulai merasuki rongga hati mengalir deras bersama ketupan semangat penuh inspirasi dari para penulisnya. Belakangan baru ku tahu semua nama penulis yang telah kuceritakan itu sebagian besar adalah pejabat FLP di kota tempat mereka tinggal. Luar biasa. Bisa-bisa nya masku mengganti ceramah hariannya yang membosankan itu dengan memberiku buku cantik ini. Trik yang cukup cerdas, ( thanks ya mas, jika boleh kusebut dirimu sebagai agen pengantar hidayah kecil ini untukku ^_^ ).
Masa orientasi siswa kuputuskan untuk berjilbab. Sedikit banyak aku bercermin pada kisah-kisah di buku tersebut. Alhamdulilah hingga sekarang, selalu kutemukan lagi goresan nasihat, saran nan manis dari para dakwatun nisa’ ini tiap kubaca buku tersebut, Andaikata suatu saat nanti aku bisa berdiri pada mereka, di satu celah sastra yang masih kusimpan di hati, betapa aku berharap semoga mereka berkenan menurunkan ilmu ‘kanuragan kepenulisan islami’ ini, untuk kusalurkan ulang pada generasi sesudahku, semoga saja…
Semarang, 7 Juni 2012
      22.05 WIB

Lianata Hidayati, bernama pena Alissyfa, Lahir di Grobogan, 21 Oktober 1991, penikmat sastra, penulis-pemula, berminat pada travelling, literatur, dan dunia berbau seni, terutama seni musik. Saat ini meneruskan studi di Universitas Islam Sultan Agung Semarang, di Prodi pendidikan bahasa Inggris, Semester 6, bisa dihubungi lewat email : electra91@gmail.com

AKU DAN FLP



Bismillahirahmanirahim

Minggu yang lalu aku pulang dari Kota Garam untuk kembali ke Semarang. Seperti biasa aku akan naik bis ke Sukun, dan menunggu Mas Dimas (kakakku) menjemput dan mengantarku sampai kos.
Selama di perjalanan sepanjang sore itu, seperti biasa juga aku menceritakan apa yang terjadi selama di rumah, apa yang aku alami atau ia akan menceritakan apa yang baru saja ia lakukan. Kami mengobrolkan tentang apapun.
Di ujung cerita, keluar satu kalimat penutup ceritaku. “Kadang aku merasa iri, mas..”
Rasa-rasanya setelah mengucap itu beban seperti telah mencair perlahan. Kata yang sesungguhnya ingin aku beberkan jauh-jauh hari namun kuurungkan.
“Manusiawi”. Jawaban yang singkat.
Aku menghela nafas, sehening mungkin agar ia tak mendengarnya. Ya, jawaban seperti itu sangat klise menurutku.
Tak lama kemudian, ia justru bertanya: “Sekarang begini, kamu ingin jadi ikan kecil di kolam yang kecil, ikan kecil di kolam besar, ikan besar di kolam kecil, atau ikan besar di kolam yang besar?”
“Ikan besar di kolam yang besar”, jawabku.
“Iya, tapi ikan yang besar dulunya adalah seekor ikan yang kecil, nok.”
Aku sedikit terhenyak.
“Kamu saat ini ibarat seekor ikan yang kecil di kolam kecil. Jika kamu ingin berada di kolam yang besar, jadilah kamu ikan yang besar dulu.
Mengapa ikan kecil dimasukkan ke kolam yang kecil? Itu karena sesuai porsinya. Ikan kecil itu akan dibiarkan tumbuh berkembang di tempat yang sesuai untukknya. Ketika ia sudah mulai besar, maka manusia akan memindahkannya ke kolam yang lebih besar.
Sedangkan jika ikan besar masih berada di kolam kecil ia sendiri tak akan berkembang. Ikan yang sudah membesar itu pun juga akan mengganggu bahkan akan memangsa ikan-ikan kecil yang juga berada di dalamnya.
Nah kalau kamu jadi ikan yang masih kecil, tiba-tiba sudah minta dimasukkan ke dalam kolam yang besar, tahu apa yang akan terjadi?
Kamu tidak akan pernah terlihat. Mereka akan sulit melihatmu, meski kamu seekor ikan yang indah, mampu berenang dengan baik, tapi tidak akan banyak yang tahu bahwa kamu ada. Bahkan sangat mungkin terjadi kamu akan dilahap oleh ikan-ikan yang jauh lebih besar darimu.
Mungkin saat ini memang kamu masih menjadi ikan kecil di kolam yang kecil. Berusahalah untuk berkembang di dalam kolammu yang kecil, sehingga mereka akan lebih mudah melihatmu tumbuh menjadi besar. Setelah engkau mampu membesarkan dirimu di kolam yang kecil, dengan sendirinya engkau akan dipindahkan ke kolam yang lebih besar.”
Mataku berkaca-kaca, dan akhirnya tumpah bendungan air mataku ini, untung saja mas Dimas tak melihatnya. Rasanya semua kata-katanya tadi telah menorehkan makna yang luar biasa.
“Kamu sudah selesai membaca novel yang baru saja kamu beli kemarin?”
“Sudah mas, bagus.”
“Nah, kamu tahu kan orang-orang besar seperti mereka dulu sekolah dimana? Apakah mereka sekolah di tempat-tempat yang keren, yang terkenal, mahal dan bergengsi?”
“Tapi mas, bukankah dengan sekolah di tempat-tempat yang luar biasa seperti itu lebih menjanjikan melahirkan generasi-generasi yang luar biasa, pengalaman dan ilmu yang didapat dari sana lebih banyak.”
“Nok, mereka yang bisa sekolah di tempat yang luar biasa memang menang satu tingkat dari orang yang sekolah di tempat yang biasa. Tapi, banyak orang yang cepat merasa puas bahwa ia bisa sekolah di tempat itu, sehingga seringkali lupa bahwa langkah-langkah selanjutnyalah yang menentukan masa depan. Dengan perasaan puasnya itu mereka terlenakan, lebih sering bermain, berfoya-foya dengan membanggakan status tempatnya bersekolah. Tapi bukankah sudah banyak contoh nyata, bahwa orang-orang yang tempat tinggalnya di pedesaan, jauh dari peradaban kota dengan kondisi yang memprihatinkan, kemiskinan, sekolah yang reot, dan segala keterbatasan lainnya, justru semua itulah pembangkit semangatnya untuk berjuang sehingga pada akhirnya merekah yang akan menang. Belajar itu bisa dimana saja, yang terpenting adalah semangat dan niat kita.”
Ya, kupikir jika aku hanya terus meratapi kegagalanku yang lalu, itu akan membuatku yang kalah justru semakin kalah. Setiap orang bisa saja kecewa, tapi selalu ada cara untuk mengelolanya.
Untuk itu, aku mulai mencoba berbagai cara untuk “membesarkan diri”, mengembangkan potensi, belajar dari manapun, kepada siapapun dan sampai kapanpun InsyaAllah. Aku akan membangun cinta menulis agar mampu menginspirasi orang lain seperti halnya penulis-penulis yang telah banyak menginspirasiku melalui buku-bukunya. Dan aku memilih Forum Lingkar Pena (FLP) untuk mengembangkan kecintaanku dan kemampuanku. Kekecewaanku karena terlambat mendapat info open recruitment FLP kemarin, mungkin karena Allah ingin aku lebih banyak belajar terlebih dahulu. Aku berharap bisa bergabung dengan FLP untuk belajar bersama dan membangun ukhuwah serta menemukan iman yang tak sendiri. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
 


Biodata

Nama   : Destya Sekar Ayu
Hobi    : membaca, menulis dan traveling
Riwayat Pendidikan:  1. TK Bhayangkari
                                    2.  SD N Leteh III Rembang
                                    3. SMP N 2 Rembang
                                    4. SMA N 1 Rembang
                                    5. UNNES (IKM 2011)

AKU DAN FLP- Mimpi Besar

Berawal dari sebuah coretan tak berarti dari seorang anak berumur 10 tahun. Tak ada yang berarti dalam tulisannya, hanya sebatas untaian kata tak bermakna. Ia gambarkan apa yang ia lihat, ia ukirkan apa yang ia rasakan. Hingga ketika ia berumur 15 tahun, setumpuk buku sebagai  cerita perjalanan hidup, menjadi koleksi indah di rak bukunya. Ia ialah sebuah bintang yang memiliki mimpi, mimpi menjadi seorang penoreh sejarah, atau sekedar inspirator cerita penuh makna, hingga siapa yang masuk dalam lembah mimpinya, mampu berimajinasi dalam dunia khayalan. Bukan sekedar khayalan kosong. Namun sebuah khayalan yang juga mampu membawa  mereka menggapai sebuah keinginan besar.
Namun segalanya seakan hilang, kala ia telah disibukkan oleh berbagai ujian hidup, ujian ketabahan, ujian keimanan. Selama 2 tahun ia menjadi sebuah boneka, yang dipermainkan oleh berbagai tuntutan, persaingan untuk menjadi yang terbaik dalam dunia eksak. Hingga akhirnya ia mampu kembali membuka album mimpinya sebagai pengukir cerita.
Dan kini ia bangkit untuk kembali menemukan seberkas cahaya bintang yang sempat meredup, terpaut pada kefanaan semata bukanlah akhir yang baik baginya. Kini ia telah memulai dalam perjalanan panjang. Sebuah perjalanan yang penuh liku dan duri. Ia memilih untuk berkumpul dengan para pengukir cerita yang lain. Di mana mimpi-mimpi itu akan semakin tumbuh berkembang, terbingkis ayu pada paket kemenangan sejati.
Sempat ia berfikir, bahwa ia akan gagal. Banyak pasukan lebih lihai di luar sana. Di mana mereka tak akan membiarkannya untuk menggapai puncak cahaya mimpinya. Menghalangi ia untuk menemukan permata yang pernah hilang.
Langkahnya semakin pasti hari itu, hanya berbekal kekuatan tekad. Bersama beberapa rekan penoreh mimpi. Jalan yang ia tempuh, seakan menjadi simfoni pengiring petualangannya. Berbagai lukisan alam di sekitar, seakan menciptakan sebuah melodi yang harmoni. Sungguh sebuah suasana yang didambakan. Tenang, damai, dan sejuk. Ia telah sampai di tempat tujuan. Sebuah bangunan yang tak begitu besar, di samping berdiri sebuah mushola mini, dan di hias beberapa gubuk gantung tanpa dinding. Orang sering menyebutnya sebagai sayung.
Satu hari satu malam, takkan pernah ia lupakan. Bersama mereka sesama pemimpi, menggapai ilmu yang sekian lama ia nantikan. Satu tahun yang lalu ia gagal di acara yang sama karena sebuah tuntutan besar yang harus ia selesaikan, akhirnya tahun ini ia mendapat kesempatan yang ditunggu-tunggu. Ia pernah berfikir, akankah ini semua mimpi? Namun ia segera sadar, bahwa ini adalah sebuah kenyataan di mana ia berada di sebuah wadah tempat impian-impian para pembuat cerita mengespresikan kemampuannya.
Meski lukisan dari sebuah pena tak berhenti semalaman karena tugas yang diemban, namun semangat mereka tak pupus untuk senantiasa masuk dalam imajinasi. Terbang untuk menangkap sebuah ilusi, dalam genggaman para calon inspirator umat.
Inilah wadah sesungguhnya bagi mereka. Awal perjalanan panjang para pembangun peradaban bumi Tuhan. Sebuah wadah yang mampu mengantarkan mereka menjemput impian. Inilah FLP (Forum Lingkar Pena). Sebuah forum sebagai wadah pembangunan dan pencipta agent of change peradaban.
Dan kini ia kembali bangkit untuk menggapai mimpi besar “sebagai inspirator umat”, yang terukir dalam sebuah goresan tinta sang penulis. 


BIOGRAFI
Patiya Azzahra...nama pena dari Fatikhah Mei Asmi, seorang mahasiswi semester 4 di Fakultas Ilmu Keperawatan Unissula. Ia lahir di lereng gunung sindoro, tepatnya di Kabupaten Wonosobo. Lahir sebagai anak pertama dari 2 bersaudara. Dalam  setiap langkah menggapai sebuah mimpi panjang, memiliki mimpi untuk masuk perkumpulan para inspirator lain, di mana aspek yang dilihat bukan hanya segi duniawi, namun juga segi ukhrowi. Ia terinspirasi dari seorang saudara sepupu yang memiliki mimpi yang sama. Di matanya kini, saudaranya itu adalah sosok luar biasa. Ia mendapat informasi berharga tentang FLP dari saudaranya itu, karena saudaranya adalah salah satu pengurus aktif di sana. Terakhir yang ingin ia sampaikan adalah terima kasih untuk semua pihak yang menginspirasi. Meski ia belum bisa menghasilkan sebuah karya besar yang bermakna, namun mimpi itu amat besar dan harapan semoga impiannya senantiasa mendapat ridho dari yang kuasa. Amiin.

AKU DAN FLP



Oleh: Aminatur Rohmah

            Pertama kali aku mengetahui nama FLP adalah dari akun jejaring sosial facebook. Aku melihat dari facebook seseorang teman. Awalnya aku belum kepikiran untuk bergabung atau sekedar menanyakan seluk beluk tentang FLP. Setelah ada seseoarang senior ku di suatu organisasi kampus memberitahu tentang acara Writing Super Camp II. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Tiba-tiba aku menjadi tertarik untuk ikut. Kemudian informasi lebih lanjut datang seiring dengan berjalannya waktu dan aku tak perlu menunggu lama. Mengikuti WSC II adalah awal dari pengalamanku tentang FLP. Aku semakin yakin untuk bergabung dengan FLP karena orangtua ku mendukung. Mereka tahu kalau aku memang suka menulis dan membaca.
Sudah sejak dulu aku suka dunia menulis dan membaca. Hanya saja baru semangat saat sekarang. Aku kadang kepikiran, aku ini menurun kebiasaanya siapa sehingga suka sekali membaca dan menulis. Dari latar belakang keluargaku tidak ada yang begitu antusiasnya untuk membaca, bahkan menulis. Aku sempat memutar otak karena rasa penasaranku. Sehingga aku cukup sedikit tahu. Sejak SMP, aku sudah senang membaca tapi belum se-antusias sekarang. Selain membaca aku pun juga suka menulis, tapi pada saat itu baru menulis buku harian yang menjadi hobiku. Tapi kini aku menyadari. Dengan seringnya aku menulis buku harian atau juga bisa dikatakan aku curhat kepada buku. Aku jadi terlatih untuk menuangkan isi pikiran kedalam bentuk tulisan. Bisa dikatakan itulah awal dari aku menjadi suka menulis.
Setiap aku curhat kepada buku harianku, hati terasa lebih plong. Sehingga hobi itu semakin lama manjadi suatu kebutuhan. Ketika tidak ada yang mengerti, buku harianku lah yang selalu ada saat ku butuhkan untuk tempat berbagi. Aku mulai membuat cerpen saat lulus SMK. Namun itu hanya sekedar coba-coba dan hasil karyaku masih belepotan. Karena belum mau serius, aku jarang mempunyai keinginan untuk membuat cerpen lagi.
 Dengan seiring berjalannya waktu, jumlah buku yang aku baca semakin bertambah. Tidak hanya buku seperti novel, tapi aku pun juga sering baca cerpen sejak dulu. Dari sering menulis diary dan membaca itulah keinginan untuk menjadi penulis sedikit demi sedikit tercipta. Sebelumnya tidak ada yang mengajariku menjadi seorang penulis. Awal membuat cerpen aku hanya mencontoh cerpen-cerpen yang pernah ku baca, tapi tetap aku berimajinasi sendiri. Entah karena beruntung atau mendapat petunjuk dari Tuhan, aku bertemu dengan seseorang yang juga suka menulis di kampus. Berkat beliau, aku jadi lebih tahu tentang menulis. Beliau juga memberi jawaban hebat atas pertanyaanku tentang bagaimana memulai untuk menjadi seorang penulis. Dengan menghayati jawaban itu, semangatlah aku untuk menulis dan ingin sekali berkarya.
Tidak hanya tentang menulis yang aku dapatkan dari seseorang yang baik itu, tapi seperti yang sudah aku katakan di paragraf pertama. Aku juga mengenal FLP. Bagiku itu bagus. Kebetulan aku suka kalau dapat pengalaman baru, teman baru, ilmu baru, kesibukan baru. Apalagi kalau itu mengenai dunia menulis. Mungkin memang banyak yang belum aku ketahui tentang FLP, tapi Insya Alloh aku bisa berusaha untuk mempelajarinya lebih dalam.
Aku punya beberapa impian. Dan salah satunya adalah menjadi seorang penulis. Seperti identitas dari FLP, menulis untuk mencerahkan. Aku pun juga ingin menjadi penulis yang dapat memberikan cahaya dan menginspirasi orang lain. Ingin sekali membuat orang lain juga suka menulis. Karena di lingkungan sekitarku sedikit sekali yang suka menulis. Dan terkadang aku berpikir, kenapa tidak ada yang ingin mencoba untuk menjadi penulis.
Ketika aku ingin mempromosikan acara FLP ke teman-teman, pasti sebelumnya aku bertanya pada suka nulis atau tidak. Dan sebagian jawaban yang aku dapat adalah tidak. Entah apa alasannya, aku sedikit kecewa. Aku ingin sekali teman-temanku yang setiap hari ku temui ingin mencoba untuk menulis. Sekarang, aku belum bisa menginspirasi orang lain. Namun suatu saat nanti, pasti! .
Oiya, dari mengikuti acara WSC II aku jadi tahu arti dari melihat gelas setengah penuh dan setengah kosong. Ternyata melihat setengah penuh artinya optimis, dan setengah kosong adalah pesimis. Aku bersyukur sekarang sudah tahu. Aku kemudian berprinsip bahwa aku memilih menjadi orang yang melihat setengah penuh. Menjadi orang yang optimis.. optimis untuk menjadi seorang penulis yang menginspirasi, optimis dapat menambah pengetahuan dengan mengikuti FLP.
FLP, Forum Lingkar Pena. Yang ku ketahui maksudnya adalah forum untuknya yang suka dunia menulis. Telah memberi ku pelajaran berharga dari acara yang di selenggarakan. Aku semakin sadar, semakin semangat, optimis, dan yakin untuk meneruskan keinginan menjadi penulis. Terima kasih dengan pengetahuan-pengetahuan hebatnya. Harapanku kelak FLP dapat lebih super lagi. Dan kemudian lebih banyak lagi pribadi-pribadi yang antusias untuk menulis. Moving up untuk FLP.
 


BIOGRAFI

Aminatur Rohmah lahir di Purwodadi, tanggal 1 Mei 1992. Lahir dari keluarga yang baik dan pengertian. Sekarang masih aktif kuliah di Universitas Stikubank Semarang, jurusan Ekonomi Manajeman ’10. Suka menulis karena bagi cewek ini, tak jarang menulis dapat menghilangkan stres. Dengan mulai menulis, yang tadinya down hanya butuh waktu beberapa detik... kata down sudah mengganti diri dengan up..
Mengenal FLP dari seorang senior di suatu organisasi kampus. Dan sekarang jadi lebih tahu mengenai menjadi seorang penulis. Di sela-sela waktu kuliah, Rohmah menghabiskan waktu dengan membaca novel, membaca cerpen di suatu blog, online, posting sesuatu di blog sendiri, belajar^^ , dan tentu saja menulis.. tidak hanya menulis cerpen atau puisi, tapi juga menulis buku harian yang telah menjadi bagian dari hari-hariku.
Pesan Rohmah untuk pembaca: setiap pribadi adalah jiwa istimewa. Mempunyai ciri khas sendiri untuk berkarya. Jadi... jangan hanya moving on, tapi lebihkan dengan moving up^^.

Sunday, July 8, 2012

Aku dan FLP

Aku dan FLP
Oleh: Winas Nazula

Aku lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang baik. Orang tuaku menutup telinga dan mataku dari kata-kata yang kasar. Aku justru baru tahu ada beberapa kosakata yang tidak pantas diucapkan setelah masuk ke dalam lingkungan sekolah. Ada beberapa teman satu kelas yang entah dari mana mendapatkan kata-kata yang terasa kasar ketika ku dengar. Seperti bahasa Jawa karma plesetan maupun isi kebun binatang yang digunakan untuk mengumpat.
Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa ta’ala masih menjagaku. Sampai sekarang aku masih tidak menyukai adanya ‘kosa kata tidak pantas’ untuk dibaca maupun didengar. Oleh karena itu, aku menjadi orang yang cukup pemilih untuk masalah bacaan.
Aku menyadari bahwa pandangan merupakan salah satu pintu masuknya informasi dan membaca adalah jalannya. Hal-hal yang aku baca biasanya secara tidak langsung terekam dalam ingatan dan mempengaruhi pola pikir serta tindakan yang aku ambil. Maka dari itu bacaan yang bagus (meski tidak best seller) sering aku pilih. Salah satunya aku dapatkan dari karya teman-teman di FLP.