by Lala di batas maya
hari-hari telah menua
keriput senja tak lagi menawan
rimbun dosa kian membuncah
adakah jeda untuk sekedar hela?
titian menit tanggalkan detik
mendulang rumit berbisik-bisik
tergamit resah di tiap desah
adalah pasrah muara berserah
temali jari-jari tak lagi menari
kerjap mata menjauh dari purnama
penyenandung kalam bungkam melantun
di manakah jasad iman terjatuh?
pagi tak mau bersambut embun
siang enggan berbalut mendung
dan senja mulai tertawan renta
hingga malam-malam padam
sinar gemintang hilang pendar
mungkin di titik itulah
dian hati terkapar
oh, adakah semilir di hening pikir
menyertakan kabar dari langit
tentang enggan kapankah beringsut
dari hati nan makin kusut
Ramadhan,1435 H
hari-hari telah menua
keriput senja tak lagi menawan
rimbun dosa kian membuncah
adakah jeda untuk sekedar hela?
titian menit tanggalkan detik
mendulang rumit berbisik-bisik
tergamit resah di tiap desah
adalah pasrah muara berserah
temali jari-jari tak lagi menari
kerjap mata menjauh dari purnama
penyenandung kalam bungkam melantun
di manakah jasad iman terjatuh?
pagi tak mau bersambut embun
siang enggan berbalut mendung
dan senja mulai tertawan renta
hingga malam-malam padam
sinar gemintang hilang pendar
mungkin di titik itulah
dian hati terkapar
oh, adakah semilir di hening pikir
menyertakan kabar dari langit
tentang enggan kapankah beringsut
dari hati nan makin kusut
Ramadhan,1435 H


