• Serah Terima Amanah

    Serah Terima Amanah dari Syah Azis Perangin Angin (Ketua FLP Semarang 2011 - 2014) kepada Muh. Hafidz Nabawi (Ketua FLP Semarang Periode 2014 - 2016). Semoga dapat membawa FLP Semarang menjadi lebih baik. Amin...

  • Pelantikan Pengurus Wilayah FLP Jateng di Semarang

    Pelantikan Pengurus FLP Wilayah jawa tengah di SDIT Cahaya Bangsa Semarang. Semoga amanah ya... Amin..

  • Open Recruitmen Anggota FLP SMG

    Berpose setelah selesai mengikuti Rekrutmen Anggota Baru FLP Semarang... Ayo, Tunjukkan Orange-Mu.. Menanti karya Flpers Semarang... Semoga makin produktif... Amiin..

Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

Thursday, July 18, 2013

#8 Kisah Ramadhan Pejuang Pena Semarang


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang Tersayang Dalam 12 Putaran.
 oleh Kun Maryono

     Pada hati yang padanya terdapat iman yang pertama menyambut datangnya Ramadhan adalah panggilan
kebahagiaan layaknya sunyi menyambut rindu, yang membiru pada
tanah dan bertalu talu menyebut cinta yang meruah di angkasa kemudian memenuhi langit dengan doa, Ramadhan adalah menyambut kasih sayang yang meluap seakan meledak bagai nuklir di mata yang mencair menjadi ratap bahagia bersama rindu kemarin yang dengan rahmatnya kita masih dapat menangisi dosa yang lalu, rindu kita sebagai manusia beriman dan bukankah demikian Rabb mempersembahkan Ramadhan itu, hanya bagi orang orang beriman.

     Baiklah wahai secuil kekalahan, seperti yang sudah sudah dan semakin bertambah akut bahwa makna Ramadhan itu luntur tak terkendali bersama kebebasan, seakan Ramadhan benar benar penjara yang terkumpul seluruh kesenangan itu dalam ruang sunyi yang ada pada siang hari, kemudian di salah artikan bahwa adzan magrib adalah kunci kebebasan pada penjara sunyi itu dan syawal adalah

Tuesday, July 16, 2013

#7 Kisah Ramadhan Pejuang Pena Semarang

Selimut Al-qur’an

Oleh : Raddy Ibnu Jihad


Angin berhembus menerpa tubuh. Sejuk rasanya. Bagaimana jika setiap hembusan itu berhiaskan senandung Al-qur’an yang menyelimuti? Subhanallah jauh lebih indah pastinya.


Ramadhan pun mengajak muslim berkompetisi dalam berdialog dengan Al-qur’an. Menjadikan insan yang tersering dalam berbicara dengan Al-qur’an. Senandung suci menggelora membumi laksana alunan harmonisasi antar chord yang terangkai indah. Selayaknya mengajak untuk terus berbuat kebaikan dengan totalitas tanpa batas.


Sobat ....


Sungguh tak akan pernah kita temui kekuatan cinta pada Al-qur’an sekuat

Monday, July 15, 2013

#6 Kisah Ramadhan Pejuang Pena FLP Semarang

Islam Itu Rahmatan Lilalamin

 oleh Lala di batas maya 

Bismillahirrahmanirrahim

         ---***---
meski hidup itu singkat
prosesnya demikian panjang
sejak dalam kandungan
hingga ajal menjelang
         ---***---

Mengamati cerita-cerita dan film/sinetron yang mengaku religi beberapa hari ini membuatku bertanya-tanya. Mengapa di setiap akhir selalu ada yang dimatikan? Apakah semahal itu proses belajar untuk memperoleh rahmat Allah? Menjadi pribadi yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah?

Mari kita cermati bersama hadits berikut ini:
"Seorang masuk surga bukan karena amalnya tetapi karena rahmat Allah Ta'ala. Karena itu bertindaklah yang lurus (baik dan benar)." (HR. Muslim).

Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala banyak dibicarakan di Bulan Ramadhan. Apalagi karena bulan ini juga dikenal dengan

Sunday, July 14, 2013

#5 Kisah Ramadhan Pejuang Pena Semarang

Air Sumber Kehidupan
Oleh Adisaputra Nazar

Tadi pagi (Jum’at, 12 Juli 2013) ada kesempatan berkunjung ke Dinas PSDA Kota Semarang untuk mendampingi teman untuk paparan perkembanagn proyek drainase penanganan banjir dikawasan perempatan Cinde dan sekitaranya. Lama menunggu di lobi, ada beberapa poster tentang sumber daya air baik berupa himbauan, “Hujan adalah rahmat, salah mengelolanya akan jadi musibah.” Disertai dengan ilustrasi kartun tentang bencana banjir yang dialami penduduk di perkotaan. Namun ada sebuah poster lain yang menarik karena mengutip dari ayat Alqur’an.
"Dan Kami turunkan air dari langit dengan jangka tertentu; maka Kami endapkan dia dalam bumi. Dan Kami pun berkuasa menghabiskannya." (QS. Al Mu’minun ayat 18). 
Membacanya saya jadi berpikir, teringat oleh pada matakuliah hidrologi dan pengelolaan sumber daya air yang kudapatkan setahun yang lalu ternyata

Thursday, July 11, 2013

#3 Kisah Ramadhan Pejuang Pena Semarang

Rinduku cintaMu,
Oleh Aqil Zulfikar
 

Memasuki Romadhon kali ini seperti melihat diriku sendiri yang sedang berada di dalam bus kota yang penuh sesak. Penuh akan orang-orang dengan berbagai macam kepentingan dan tujuan. Orang-orang itu aku tak mengenalnya, mungkin saja mereka akan turun ditujuan mana saja yang mereka kehendaki sesuai dengan apa yang telah mereka niatkan saat hendak menaiki bus ini.
Di sampingku aku melihat ada seorang guru matematika. Beliau menenteng sebuah tas kulit warna coklat .Aku masih dapat melihat sisa peluh yang menempel di dahinya karena memang cuaca yang cukup panas sedang menyelimuti Semarang. Saat ku tanya hendak ke mana, beliau menjawab hendak pulang menemui keluarganya yang sudah menunggu di rumah.
Selama dalam perjalanan beliau sempat bercerita bahwa beliau mengajar para muridnya supaya pandai, selain itu sebagai aktualisasi akan ilmu yang beliau miliki, agar ilmu itu bermanfaat, bukankah, ilmu yang bermanfaat termasuk dalam amal jariyah?!!, amal yang tidak akan terputus oleh kematian . Dan semuanya diniatkan karena Alloh S.W.T, Beliau juga mengatakan kalau pernah mendengar dalam sebuah ceramah yang menjelaskan bahwa perginya seorang suami mencari nafkah untuk keluarganya adalah termasuk jihad fi sabillillah. Maka, ketika nantinya menerima hasil jerih payahnya mengajar, akan sepenuhnya diberikan untuk kepentingan keluarganya.

#2 Kisah Ramadhan Pejuang Pena Semarang

Ramadhan: Sekolahnya Kekasih Allah

oleh: Syah Azis Nangin

Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin. Hal ini karena terdapat banyak sekali fadhilah yang dapat diperoleh di dalamnya. Di antaranya bahwa di bulan Ramadhan amalan wajib dilipatgandakan pahalanya sebanyak tujuh puluh kali lipat sedangkan amalan sunnah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan. Padahal di luar bulan Ramadhan, setiap kebajikan pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Rasulullah SAW menyebutkan, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu pada umumnya umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya

Wednesday, July 10, 2013

#1 Kisah Ramadhan Pejuang Pena Semarang



Selangkah untuk Menyapa

Oleh : Raddy Ibnu Jihad

Senyuman Ramadhan kembali menyapa dalam kehangatan yang menyertai, setelah Sya’ban berpamit untuk meninggalkan kita. Sobat apa yang telah kita siapkan untuk menemui keramahan Ramadhan?

Serangkaian ibadah yang telah rasulullah ajarkan bukan menjadi sekedar anjuran atau perintah semata. Kenapa coba? Pada dasarnya Allah swt mengutus rasul-Nya untuk menyampaikan risalah suci ini bukan tanpa alasan atau tujuan yang jelas. Bahkan bukan untuk memberikan beban kepada makhluk-Nya, melainkan bentuk kasih sayang yang tak pernah kita renungkan.

Mengapa Allah meminta manusia untuk berpuasa? Mengapa Allah meminta kita untuk membaca Al-Qur’an? Mengapa Allah meminta kita bersedekah? Mengapa Allah meminta kita untuk Sholat? Mengapa Allah meminta kita untuk menuntut ilmu? Mengapa Allah mencipta manusia, lalu meminta manusia untuk melakukan ini dan itu?

Friday, February 22, 2013

REFLEKSI MILAD FORUM LINGKAR PENA



REFLEKSI MILAD FORUM LINGKAR PENA
“Di titik manakah kita sekarang?”


Semua yang kita lalui tidak bisa lepas dari yang namanya proses. Bahkan sebagai sosok manusia. Kita diciptakan melalui fase dari ‘bentuk yang hina’ hingga menjadi bagian dari ciptaan-Nya yang sempurna yang terlahir menyapa dunia. Kemudian belajar mendengar suara, melihat, dan mengartikan kata demi kata. Sampai tiba waktu dewasa kemudian kita memutuskan untuk menjadi bagian dari cerita, sebagai penulis.

Sebagai penulis pastilah hidup kita tidak jauh terpisah dari alur. Ada proses pengenalan tokoh, tempat, dan suasana. Ada tahap masuknya konflik. Berlanjut ke puncak masalah hingga bertemu jalan keluar. Terkadang tiap alur memiliki akhir sempurna, tak jarang dibiarkan terbuka begitu saja.

Nah, sebagai bagian dari Forum Lingkar Pena, apakah kita sudah cukup mengenal organisasi ini hingga kita pilih sebagai jalan syiar Islam? Sudahkah kita menjadi bagian dari proses berkembangnya organisasi ini? Sudahkah  tiap prosesisnya kita jalani? Ataukah pertanyaan sudahkah menjadi sebuah pernyataaan sudahlah?

Bila menengok ke belakang, Forum Lingkar Pena hanyalah sebentuk kegelisahan tentang perlunya memberikan bacaan bermutu kepada masyarakat. Siapa menyangka 6 tahun berikutnya forum ini telah memiliki cabang di hampir setiap propinsi di Indonesia. Bahkan dalam kurun waktu 6 tahun itu telah hadir setidaknya 200 buku mewarnai dunia literasi di Indonesia. Bukan hanya terbit, tetapi juga menjadi best seller. Seuah proses yang bisa dikatakan luar biasa.

Kini, setelah Forum Lingkar Pena sampai di tahun ke-16, di titik manakah kita sekarang?

-Lala di batas maya,HRD FLP Cabang Semarang



Thursday, November 1, 2012

AKU DAN FLP



                            Oleh: Alissyfa
Cinta pertamaku pada FLP bermula sekitar 5 tahun lalu. Ketika itu menjelang liburan sekolah setelah kelulusan SMP. Bisa dibayangkan roman kehidupan seorang gadis kecil yang kaku, masih bingung, meraba-raba mana bentuk, mana topeng untuk dipakai saat berkumpul bersama teman-teman. Agaknya peristiwa pada cinta pada pandangan pertama ini berbuntut panjangm, hinga kini, kini aku duduk di semester 6, di sebuah Universitas Islam yang sering kali kusebut “The Andaluslan University”.
Ketika itu, setelah seusai pulang dari pendaftaran siswa baru di SMA ! Purwodadi, yang katanya ‘sekolah favorit’. setibanya dirumah, ternyata kakak laki-lakiku yang sulung juga baru saja sampai kampung halaman, ‘mudik’. Dulu merupakan istilah asing di telingaku. “Dek, aku bawa buku bagus”. Kata masku pendek. Buku sedang dengan warna merah tua, bergambar wanita dengan jilbab diusung judul ‘gara-gara jilbabku’ diujung paling atas buku tersebut. Tak lupa torehan nama penulis di bawahnya: Asma Nadia, dkk.” Wah novel religi. Nggak gitu tertarik, paling ceritanya sama, kesedihan, monoton, dan penuh kepasrahan”. Jawabku sambil bergidik. Masku hanya tersenyum kecil. Lalu mengusap kepalaku dan meletakkan buku itu ditanganku .
Meski minatku pada tiap genre bacaan selalu berubah-ubah (tergantung mood), akhirnya kubaca juga buku bernuansa novel tersebut. Selembar, dua lembar, 15 menit, setengah jam, semalam suntuk kupaksa untuk menyelesaikan bacaan ‘kecil’ yang memancing rasa penasaranku. Tumpahan kisah haru, tentang perjuangan mengibarkan ‘panji’ jilbab yang dituturkan sangat apik, mulai dari Ifa Avianty, Jazimah Al-Muhyi, Maya Lestari G.F, Leyla Imtichonah, dan Asma Nadia sendiri tentunya, berbekas rasa heran. Heran pada diriku sendiri. Satu kalimat dari Andi Tenri Dala F, dia bilang : “tiada yang membelenggu kita kecuali pikiran kita sendiri”. Glek. Aku sadar meskipun pura-pura masih bermimpi. Kendala akhwat yang satu ini pun sama denganku, kurasa hobi berrmain musik sangat tidak pantas dimonopoli orang-orang dengan penutup kepala ini.
Takut di cap sok alim? tidak juga. Cuma rasanya terlalu aneh saja, apa kata orang nanti jika melihat pemain musik, gedombrangan pula, dan gitaris atau violisnya seorang wanita berjilbab? “Namun rasanya seperti jatuh cinta pada seseorang tapi tidak bisa mengungkapkannya”. tutur salah satu penulis di buku tersebut. Begitulah, karena pada dasarnya saya suka membaca buku bermakna, ( cieee……), maka begitu pun buku tersebut mulai merasuki rongga hati mengalir deras bersama ketupan semangat penuh inspirasi dari para penulisnya. Belakangan baru ku tahu semua nama penulis yang telah kuceritakan itu sebagian besar adalah pejabat FLP di kota tempat mereka tinggal. Luar biasa. Bisa-bisa nya masku mengganti ceramah hariannya yang membosankan itu dengan memberiku buku cantik ini. Trik yang cukup cerdas, ( thanks ya mas, jika boleh kusebut dirimu sebagai agen pengantar hidayah kecil ini untukku ^_^ ).
Masa orientasi siswa kuputuskan untuk berjilbab. Sedikit banyak aku bercermin pada kisah-kisah di buku tersebut. Alhamdulilah hingga sekarang, selalu kutemukan lagi goresan nasihat, saran nan manis dari para dakwatun nisa’ ini tiap kubaca buku tersebut, Andaikata suatu saat nanti aku bisa berdiri pada mereka, di satu celah sastra yang masih kusimpan di hati, betapa aku berharap semoga mereka berkenan menurunkan ilmu ‘kanuragan kepenulisan islami’ ini, untuk kusalurkan ulang pada generasi sesudahku, semoga saja…
Semarang, 7 Juni 2012
      22.05 WIB

Lianata Hidayati, bernama pena Alissyfa, Lahir di Grobogan, 21 Oktober 1991, penikmat sastra, penulis-pemula, berminat pada travelling, literatur, dan dunia berbau seni, terutama seni musik. Saat ini meneruskan studi di Universitas Islam Sultan Agung Semarang, di Prodi pendidikan bahasa Inggris, Semester 6, bisa dihubungi lewat email : electra91@gmail.com

AKU DAN FLP



Bismillahirahmanirahim

Minggu yang lalu aku pulang dari Kota Garam untuk kembali ke Semarang. Seperti biasa aku akan naik bis ke Sukun, dan menunggu Mas Dimas (kakakku) menjemput dan mengantarku sampai kos.
Selama di perjalanan sepanjang sore itu, seperti biasa juga aku menceritakan apa yang terjadi selama di rumah, apa yang aku alami atau ia akan menceritakan apa yang baru saja ia lakukan. Kami mengobrolkan tentang apapun.
Di ujung cerita, keluar satu kalimat penutup ceritaku. “Kadang aku merasa iri, mas..”
Rasa-rasanya setelah mengucap itu beban seperti telah mencair perlahan. Kata yang sesungguhnya ingin aku beberkan jauh-jauh hari namun kuurungkan.
“Manusiawi”. Jawaban yang singkat.
Aku menghela nafas, sehening mungkin agar ia tak mendengarnya. Ya, jawaban seperti itu sangat klise menurutku.
Tak lama kemudian, ia justru bertanya: “Sekarang begini, kamu ingin jadi ikan kecil di kolam yang kecil, ikan kecil di kolam besar, ikan besar di kolam kecil, atau ikan besar di kolam yang besar?”
“Ikan besar di kolam yang besar”, jawabku.
“Iya, tapi ikan yang besar dulunya adalah seekor ikan yang kecil, nok.”
Aku sedikit terhenyak.
“Kamu saat ini ibarat seekor ikan yang kecil di kolam kecil. Jika kamu ingin berada di kolam yang besar, jadilah kamu ikan yang besar dulu.
Mengapa ikan kecil dimasukkan ke kolam yang kecil? Itu karena sesuai porsinya. Ikan kecil itu akan dibiarkan tumbuh berkembang di tempat yang sesuai untukknya. Ketika ia sudah mulai besar, maka manusia akan memindahkannya ke kolam yang lebih besar.
Sedangkan jika ikan besar masih berada di kolam kecil ia sendiri tak akan berkembang. Ikan yang sudah membesar itu pun juga akan mengganggu bahkan akan memangsa ikan-ikan kecil yang juga berada di dalamnya.
Nah kalau kamu jadi ikan yang masih kecil, tiba-tiba sudah minta dimasukkan ke dalam kolam yang besar, tahu apa yang akan terjadi?
Kamu tidak akan pernah terlihat. Mereka akan sulit melihatmu, meski kamu seekor ikan yang indah, mampu berenang dengan baik, tapi tidak akan banyak yang tahu bahwa kamu ada. Bahkan sangat mungkin terjadi kamu akan dilahap oleh ikan-ikan yang jauh lebih besar darimu.
Mungkin saat ini memang kamu masih menjadi ikan kecil di kolam yang kecil. Berusahalah untuk berkembang di dalam kolammu yang kecil, sehingga mereka akan lebih mudah melihatmu tumbuh menjadi besar. Setelah engkau mampu membesarkan dirimu di kolam yang kecil, dengan sendirinya engkau akan dipindahkan ke kolam yang lebih besar.”
Mataku berkaca-kaca, dan akhirnya tumpah bendungan air mataku ini, untung saja mas Dimas tak melihatnya. Rasanya semua kata-katanya tadi telah menorehkan makna yang luar biasa.
“Kamu sudah selesai membaca novel yang baru saja kamu beli kemarin?”
“Sudah mas, bagus.”
“Nah, kamu tahu kan orang-orang besar seperti mereka dulu sekolah dimana? Apakah mereka sekolah di tempat-tempat yang keren, yang terkenal, mahal dan bergengsi?”
“Tapi mas, bukankah dengan sekolah di tempat-tempat yang luar biasa seperti itu lebih menjanjikan melahirkan generasi-generasi yang luar biasa, pengalaman dan ilmu yang didapat dari sana lebih banyak.”
“Nok, mereka yang bisa sekolah di tempat yang luar biasa memang menang satu tingkat dari orang yang sekolah di tempat yang biasa. Tapi, banyak orang yang cepat merasa puas bahwa ia bisa sekolah di tempat itu, sehingga seringkali lupa bahwa langkah-langkah selanjutnyalah yang menentukan masa depan. Dengan perasaan puasnya itu mereka terlenakan, lebih sering bermain, berfoya-foya dengan membanggakan status tempatnya bersekolah. Tapi bukankah sudah banyak contoh nyata, bahwa orang-orang yang tempat tinggalnya di pedesaan, jauh dari peradaban kota dengan kondisi yang memprihatinkan, kemiskinan, sekolah yang reot, dan segala keterbatasan lainnya, justru semua itulah pembangkit semangatnya untuk berjuang sehingga pada akhirnya merekah yang akan menang. Belajar itu bisa dimana saja, yang terpenting adalah semangat dan niat kita.”
Ya, kupikir jika aku hanya terus meratapi kegagalanku yang lalu, itu akan membuatku yang kalah justru semakin kalah. Setiap orang bisa saja kecewa, tapi selalu ada cara untuk mengelolanya.
Untuk itu, aku mulai mencoba berbagai cara untuk “membesarkan diri”, mengembangkan potensi, belajar dari manapun, kepada siapapun dan sampai kapanpun InsyaAllah. Aku akan membangun cinta menulis agar mampu menginspirasi orang lain seperti halnya penulis-penulis yang telah banyak menginspirasiku melalui buku-bukunya. Dan aku memilih Forum Lingkar Pena (FLP) untuk mengembangkan kecintaanku dan kemampuanku. Kekecewaanku karena terlambat mendapat info open recruitment FLP kemarin, mungkin karena Allah ingin aku lebih banyak belajar terlebih dahulu. Aku berharap bisa bergabung dengan FLP untuk belajar bersama dan membangun ukhuwah serta menemukan iman yang tak sendiri. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
 


Biodata

Nama   : Destya Sekar Ayu
Hobi    : membaca, menulis dan traveling
Riwayat Pendidikan:  1. TK Bhayangkari
                                    2.  SD N Leteh III Rembang
                                    3. SMP N 2 Rembang
                                    4. SMA N 1 Rembang
                                    5. UNNES (IKM 2011)

AKU DAN FLP- Mimpi Besar

Berawal dari sebuah coretan tak berarti dari seorang anak berumur 10 tahun. Tak ada yang berarti dalam tulisannya, hanya sebatas untaian kata tak bermakna. Ia gambarkan apa yang ia lihat, ia ukirkan apa yang ia rasakan. Hingga ketika ia berumur 15 tahun, setumpuk buku sebagai  cerita perjalanan hidup, menjadi koleksi indah di rak bukunya. Ia ialah sebuah bintang yang memiliki mimpi, mimpi menjadi seorang penoreh sejarah, atau sekedar inspirator cerita penuh makna, hingga siapa yang masuk dalam lembah mimpinya, mampu berimajinasi dalam dunia khayalan. Bukan sekedar khayalan kosong. Namun sebuah khayalan yang juga mampu membawa  mereka menggapai sebuah keinginan besar.
Namun segalanya seakan hilang, kala ia telah disibukkan oleh berbagai ujian hidup, ujian ketabahan, ujian keimanan. Selama 2 tahun ia menjadi sebuah boneka, yang dipermainkan oleh berbagai tuntutan, persaingan untuk menjadi yang terbaik dalam dunia eksak. Hingga akhirnya ia mampu kembali membuka album mimpinya sebagai pengukir cerita.
Dan kini ia bangkit untuk kembali menemukan seberkas cahaya bintang yang sempat meredup, terpaut pada kefanaan semata bukanlah akhir yang baik baginya. Kini ia telah memulai dalam perjalanan panjang. Sebuah perjalanan yang penuh liku dan duri. Ia memilih untuk berkumpul dengan para pengukir cerita yang lain. Di mana mimpi-mimpi itu akan semakin tumbuh berkembang, terbingkis ayu pada paket kemenangan sejati.
Sempat ia berfikir, bahwa ia akan gagal. Banyak pasukan lebih lihai di luar sana. Di mana mereka tak akan membiarkannya untuk menggapai puncak cahaya mimpinya. Menghalangi ia untuk menemukan permata yang pernah hilang.
Langkahnya semakin pasti hari itu, hanya berbekal kekuatan tekad. Bersama beberapa rekan penoreh mimpi. Jalan yang ia tempuh, seakan menjadi simfoni pengiring petualangannya. Berbagai lukisan alam di sekitar, seakan menciptakan sebuah melodi yang harmoni. Sungguh sebuah suasana yang didambakan. Tenang, damai, dan sejuk. Ia telah sampai di tempat tujuan. Sebuah bangunan yang tak begitu besar, di samping berdiri sebuah mushola mini, dan di hias beberapa gubuk gantung tanpa dinding. Orang sering menyebutnya sebagai sayung.
Satu hari satu malam, takkan pernah ia lupakan. Bersama mereka sesama pemimpi, menggapai ilmu yang sekian lama ia nantikan. Satu tahun yang lalu ia gagal di acara yang sama karena sebuah tuntutan besar yang harus ia selesaikan, akhirnya tahun ini ia mendapat kesempatan yang ditunggu-tunggu. Ia pernah berfikir, akankah ini semua mimpi? Namun ia segera sadar, bahwa ini adalah sebuah kenyataan di mana ia berada di sebuah wadah tempat impian-impian para pembuat cerita mengespresikan kemampuannya.
Meski lukisan dari sebuah pena tak berhenti semalaman karena tugas yang diemban, namun semangat mereka tak pupus untuk senantiasa masuk dalam imajinasi. Terbang untuk menangkap sebuah ilusi, dalam genggaman para calon inspirator umat.
Inilah wadah sesungguhnya bagi mereka. Awal perjalanan panjang para pembangun peradaban bumi Tuhan. Sebuah wadah yang mampu mengantarkan mereka menjemput impian. Inilah FLP (Forum Lingkar Pena). Sebuah forum sebagai wadah pembangunan dan pencipta agent of change peradaban.
Dan kini ia kembali bangkit untuk menggapai mimpi besar “sebagai inspirator umat”, yang terukir dalam sebuah goresan tinta sang penulis. 


BIOGRAFI
Patiya Azzahra...nama pena dari Fatikhah Mei Asmi, seorang mahasiswi semester 4 di Fakultas Ilmu Keperawatan Unissula. Ia lahir di lereng gunung sindoro, tepatnya di Kabupaten Wonosobo. Lahir sebagai anak pertama dari 2 bersaudara. Dalam  setiap langkah menggapai sebuah mimpi panjang, memiliki mimpi untuk masuk perkumpulan para inspirator lain, di mana aspek yang dilihat bukan hanya segi duniawi, namun juga segi ukhrowi. Ia terinspirasi dari seorang saudara sepupu yang memiliki mimpi yang sama. Di matanya kini, saudaranya itu adalah sosok luar biasa. Ia mendapat informasi berharga tentang FLP dari saudaranya itu, karena saudaranya adalah salah satu pengurus aktif di sana. Terakhir yang ingin ia sampaikan adalah terima kasih untuk semua pihak yang menginspirasi. Meski ia belum bisa menghasilkan sebuah karya besar yang bermakna, namun mimpi itu amat besar dan harapan semoga impiannya senantiasa mendapat ridho dari yang kuasa. Amiin.