• Serah Terima Amanah

    Serah Terima Amanah dari Syah Azis Perangin Angin (Ketua FLP Semarang 2011 - 2014) kepada Muh. Hafidz Nabawi (Ketua FLP Semarang Periode 2014 - 2016). Semoga dapat membawa FLP Semarang menjadi lebih baik. Amin...

  • Pelantikan Pengurus Wilayah FLP Jateng di Semarang

    Pelantikan Pengurus FLP Wilayah jawa tengah di SDIT Cahaya Bangsa Semarang. Semoga amanah ya... Amin..

  • Open Recruitmen Anggota FLP SMG

    Berpose setelah selesai mengikuti Rekrutmen Anggota Baru FLP Semarang... Ayo, Tunjukkan Orange-Mu.. Menanti karya Flpers Semarang... Semoga makin produktif... Amiin..

Showing posts with label karya. Show all posts
Showing posts with label karya. Show all posts

Saturday, March 7, 2015

REVALUASI

by Lala di batas maya

hari-hari telah menua
keriput senja tak lagi menawan
rimbun dosa kian membuncah
adakah jeda untuk sekedar hela?

titian menit tanggalkan detik
mendulang rumit berbisik-bisik
tergamit resah di tiap desah
adalah pasrah muara berserah

temali jari-jari tak lagi menari
kerjap mata menjauh dari purnama
penyenandung kalam bungkam melantun
di manakah jasad iman terjatuh?

pagi tak mau bersambut embun
siang enggan berbalut mendung
dan senja mulai tertawan renta
hingga malam-malam padam
sinar gemintang hilang pendar
mungkin di titik itulah
dian hati terkapar

oh, adakah semilir di hening pikir
menyertakan kabar dari langit
tentang enggan kapankah beringsut
dari hati nan makin kusut

Ramadhan,1435 H

Cerbung :Semesta Parallel



INTO THE VOID

Seri 1
Oleh : Izgar

Ffuuhh…, melelahkan.Ujian akhir semester kali ini seperti berbeda dari biasanya. Melampaui jam yang normal. Yah, mungkin tidak bisa disalahkan Pak Sandy.Beliau memajukan waktu ujian Kalkulus, jadi satu di hari Jumat. Karena harus berangkat memenuhi panggilan kuliah di Oxford sana. Yah, hikmahnya kami jadi punya penambahan waktu libur sehabis ujian.Walaupun penambahan itu menyumbang pening di kepala. Ah, sepertinya aku harus jalan sore lagi ini.
Melewati jalur yang biasa ku pakai menuju persimpangan Milo.Sendiri.Tanpa kendaraan.Aku menikmati waktu sunyiku ini.Biasa dilakukan saat sedang mengalami tekanan.Dalam bentuk apapun.Beberapa diantaranya saat kepala dalam keadaan begini.Di tengah perjalanan, memori membawaku ke tanah kelahiran.Ambon.Pada keluarga nun jauh disana. Ah, bagaimana keadaan Ibu di rumah. Tidak terasa sudah lewat enam tahun sejak konflik terjadi.
Pada jembatan penyeberangan, mataku menerawang di sepanjang jalan Imam Bonjol. Mengingat-ingat apa yang sudah dilalui hingga kini. Ku sadari ‘bakat’ ini tidak begitu berguna pada perjuangan di kota ini. Tidak seperti enam tahun yang lalu.Sementara penampakan mereka yang tak terlihat membuat gamang benak ini.Suara-suara mereka.Perkataan-perkataan mereka. Ahh.., aku berharap berada di tempat lain. Di waktu yang berbeda.Dimana kekuatan ini bisa berguna bagi banyak orang.Bukan malah membuat mereka ketakutan.
Seakan ada percikan hangat tumbuh di kedalaman dada.Tiba-tiba pening yang amat sangat menghantam kepalaku.Membuat pijakan limbung.Berpegangan pada pagar pembatas, aku merasa tanah bergoyang bak ombak.Semua bangunan runtuh.Bukan.Bukan hanya bangunan.Namun juga langit.Pohon.Tanah.Menampakkan kegelapan pekat dibaliknya. Tidak butuh waktu lama hingga semua kegelapan itu menyelimutiku…
Suara gelembung?Tekanan menyesakkan?Ada rasa aneh mampir di lidah.Satu yang bisa kupastikan.Ada air yang baru saja lewat di mulutku.Segera kubuka mata.Agak pedih.Di tengah keburaman pandangan, terlihat di depanku pemandangan gedung-gedung tinggi di sekitar sebuah perempatan besar.Banyak diantaranya sudah rusak berat.Jendelanya runtuh menganga.Mobil-mobil aneh yang teronggok di tengah persimpangan.Namun satu yang mencekat, semua tertutup air.Entah seberapa tinggi.
Terdengar lenguhan dari belakang.Aku menoleh.Sebuah bentuk hitam raksasa mendekat.Mulutnya terbuka lebar.Menampakkan sederetan taring tajam dengan pinggiran bergerigi.Panic, aku segera berenang menjauhi makhluk tak dikenal itu.Meski mungkin, sedikit harapan untuk bisa menjauhinya.Namun tiba-tiba, sebuah dentuman diiringi gelombang menghantam.Melemparku kedepan.Menjauh dari bentuk hitam itu.Tapi sebuah benda keras menabrak dari belakang.Mulut terbuka melepaskan jeritan.Hanya gerombolan gelembung yang keluar dan gelombang air yang masuk tanpa ampun.Aku terlempar lebih cepat.Secara tak terkendali mengarah ke salah satu dinding gedung di kiri jalan.
Tidak bisa memikirkan jalan keluar apapun, aku hanya bisa pasrah.Kejadian itu begitu cepat.Semua serba tiba-tiba.Udara pertama segera menyentuh cuping hidung.Membuat napas terbatuk.Perlahan kubuka mata.Terlihat seorang kakek berdiri sekitar dua meter dariku.Ia memakai alat seperti bando perempuan yang terhubung dengan banya kabel pada kedua meja kecil di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Tubuhnya terlihat kekar.Ia setengah menoleh padaku.
“Kau tak apa-apa, nak?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
“Baik. Berpeganglah, nak,” lanjut kakek itu sembari mencondongkan diri kedepan.“Ini akan sedikir ‘seru’.”
Tiba-tiba sebuah daya menghempaskanku hingga tersandar dinding.Kulihat sekeliling. Ruangan ini mungkin hanya seluas lima kali tiga meter. Di selimuti dinding tak kasat mata yang mencegah air masuk kedalam.Setidaknya itu yang kusimpulkan.Tapi semua itu segera patah saat kusentuhkan jari pada permukaan dinding itu.Tidak ada sesuatu yang keras pada permukaannya.Setengah dari jari masuk kedalam air tanpa membuat batas itu bocor.Karena tekanan yang luarbiasa besar membuat jariku terdorong kebelakang hingga terasa sakit. Segera kutarik ia.
Kendaraan ini melaju kencang.Menembus kedalaman suram.Melesat diantara gedung-gedung besar dalam berbagai bentuk dan ukuran.Dihadapannya makhluk seperti ikan itu.Berenang dalam kecepatan tak normal bagi ukuran tubuhnya. Sesekali si kakek menembakkan sesuatu seperti torpedo mini kearah sisi ikan itu. Yang meledak dan membuat makhluk itu merubah arah. Sudah sekitar sepuluh torpedo ditembakkan. Makhluk itu berenang hingga daerah terbuka.
“Haha…. Dia masuk jebakanku!” gelegarnya bersemangat. “Lihatlah, nak! Akan kubungkam makhluk sialan itu!”
Dengan bersemangat, ia menekan beberapa tombol. Sebuah jaring luarbiasa besar melesat dari bawah dan menjerat makhluk itu tanpa peringatan.Ikan raksasa itu meronta sekuat tenaga. Tapi entah dari bahan apa jaring itu terbuat. Makhluk aneh itu tak bisa lepas dari jeratnya. Si kakek menarik alat yang padanya terhubung kabel metal hingga dua meja kecil. Dari kanan dan kiri kendaraan ini keluar lengan logam dengan alat aneh pada ujungnya.Alat tersebut mengeluarkan tiga batang logam dari puncaknya. Tiga batang itu berhenti pada jarak lima meter dari lengan. Antara dasar dan ujungnya memancar laser berwarna biru terang. Dan tiga garis laser itu berputar mengikuti tiga batang logam dibaliknya.
“Nah, apa yang bisa kau lakukan sekarang bocah tengik!” dengus si kakek sembari mengendalikan kendaraannya mendekati makhluk itu perlahan.
Ikan raksasa itu menggeliat.Pada kedua sisi kepalanya air seperti membentuk pusaran dengan ujung permukaan kulitnya. Tanpa kuduga, ia menembakkan gelombang udara raksasa kearah kami. Tak ada rasa takut, pria tua itu melesatkan kapal selamnya menyongsong peluru si ikan.
“Percuma!” serunya sembari menyilangkan kedua tangannya kedepan dilanjutkan dengan gerakan seperti menebas sesuatu.Kedua lengan logam itu bergerak seirama dengan si kakek.Dan alat aneh tadi, yang sepertinya berfungsi sebagai pedang, membelah gelombang yang datang mendekat.
Namun dibaliknya ternyata ada gelombang yang lebih kecil tapi lebih padat.Membuat kapal ini terhempas kesamping.Goncangan yang terjadi melemparku hingga menabrak dinding.Pria tua itu mengomel keras.Torpedo kembar ditembakkan dan mengenai makhluk itu dengan telak.Di tengah goncangan tadi, pandanganku menangkap sesuatu yang mengkhawatirkan.Setelah kapal kembali stabil, pandanganku melayang ke sekitar.Dan memang, sesuatu itu nyata adanya.
“Awas kau binatang setan!” maki si kakek. Namun sebelum ia menerjang makhluk hitam itu, aku segera meremas bahunya. Ia mengendikkan bahunya sambil berkeras, “Jangan sekarang, nak! Aku harus menghabisi biang kehancuran ini! Sekarang!”
“Kanan dan kiri!!” jeritku tiba-tiba.
Ia memalingkan wajahnya menurut petunjukku. Dan pemandangan itu segera memaksanya untuk terdiam.Sekitar tujuh ikan raksasa itu mengunci setiap jalan keluar dari tanah lapang tersebut.Mengepung kami tiga ratus enam puluh derajat.Bisa saja si kakek memaksa kapalnya menuju permukaan.Namun tidak ada jalan keluar disana.Dan bukan tidak mungkin makhluk-makhluk itu menyusul sebelum kita sampai permukaan. Tidak ada kata lain. Bertarunglah pilihannya.
“Ini buruk,” gumam si kakek.
“A-apa kakek pernah mengalami h-hal ini sebelumnya?” tanyaku terbata.
“Pernah. Ketika puncak usiaku.Aku berhasil mengalahkan tiga dari mereka,” jawabnya pelan.
“J-jika pernah melakukan. P-pasti kakek bisa melakukannya lagi sekarang.”
“Entahlah, nak. Kondisiku berbeda dengan jaman itu.Tidak segesit saat itu.Satu ekor bisa kuatasi.Tapi belum tentu jika lebih dari itu.”
Kata-katanya membuatku lemas sekaligus panas. Aku, yang asing disini, harus berhadapan dengan orang yang sepertinya professional namun segera lemah saat tantangan yang sama sulit kembali datang. Tanpa peduli apa yang terjadi selanjutnya, aku berseru “Saya adalah orang asing disini! Tidak mengenal kakek sama sekali! Tapi dilihat dari pengejaran tadi, saya yakin kakek punya pengalaman yang banyak mengatasi makhluk ini. Kakek mengaku pernah melewati situasi yang mirip dan berhasil mengalahkan mereka! Kakek punya kemampuan itu! Dan sekarang tantangan itu kembali! Apakah kakek akan menyerah!? Jika ini adalah akhir, biarkan ini menjadi akhir yang membanggakan!”
Aku sudah tidak memikirkan apapun lagi.Jika ini adalah ujung hidupku, biarkan ini menjadi usaha terbaik dalam menghargai kehidupan dari-Nya.Kakek itu tersenyum kearahku.Aku membalas senyumnya sembari memasang mimik bersemangat.
“Akhir yang membanggakan? Baiklah, nak.Berpegangan!” ujarnya.Kapal meluncur ke salah satu dari tujuh makhluk raksasa itu.Kedua pedang sinar bersilangan pada kedua sisi kapal.“Kita selesaikan ini dengan cepat!”
“Yeah!” jeritku bersemangat.
Namun pening itu kembali lagi.Aku limbung.Dunia terasa berputar.Semua berpilin.Melebur dalam putaran yang cepat.Segera semua citra menyatu membentuk pusaran berujungkan mulut menganga ikan tersebut.Ujung gelap itu segera menyergap.Menangkap kesadaranku dan membawanya pergi. Ah, inilah akhirnya.

*bersambung*

Tuesday, April 9, 2013

Anugerah Cinta


Oleh: Raddy Ibnu Jihad*


“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul.
Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”
(QS. Ali-imran ayat 31-32)

Siapa makhluk yang yang tak pernah mau jika disayang atau menyayangi? Sesungguhnya rasa sayang, saling mengasihi, ataupun mencintai dan dicintai merupakan fitrah yang tertanam dalam jiwa setiap makhluk hidup. Namun, sudah benarkah fitrah suci tersebut dinisbatkan pada letak yang benar? Itu yang harus selalu kita ingat dan sadari.
Apa yang membuat seekor anak kucing begitu nyaman berada di samping induknya? Tak lain karena perlindungan sang ibu. Apa yang membuat induk ayam menjadi sangat galak saat sedang mengajak anak-anaknya makan, kemudian kita mendekati anaknya? Ya, tak lain karena rasa sayang sang induk terhadap anaknya. Apa yang membuat ibu kita sulit tidur atau bahkan sering gelisah saat kita sedang jauh dari rumah? Jelas, tak lain pula rasa cinta beliau kepada kita. Lalu, masihkah kita belum menyadari itu semua? Ada banyak cinta dan kasih saying di dunia ini. 


Berbicara masalah definisi cinta, tak ada kalimat yang paling tepat untuk menjelaskannya, kecuali wujud implementasi cinta itu sendiri. Benar sekali. Cinta itu sebuah perwujudan yang nyata dalam perbuatan, sedangkan teori hanya akan mengaburkannya. Bagaimana tidak seorang rasul yang mulia saat menjelang pertemuannya dengan sang Khaliq justru ummatnya yang disebut. Kenapa? Itulah bukti cinta Rasulullah terhadap kita semua sebagai ummatnya. Akan tetapi sudahkah kita berbalik membalasnya? Jika benar kita “memahami” cinta sang rasul, maka jiwa kita akan tersentak rindu, air mata akan melebur membasahi, tubuh akan berguncang dahsyat.

Cinta suci itu begitu indah dan luar biasa. Tak pernah menuntut sebuah penganiayaan, kedzaliman, bahkan pengorbanan bersyarat tak bersyariat. Cinta suci itu begitu menyejukkan, melembutkan, meneduhkan, menentramkan, melindungi, menyelimuti, dan yang pasti membahagiakan.

Dalam al-qur’an surat ali-Imran ayat 31 dan 32 tersebut, Allah dengan jelas menjanjikan bahwa allah akan begitu menyayangi dan mencintai kita bila kita bisa “benar-benar”taat pada-Nya. Dialah dzat yang tak akan pernah ingkar janji. Mulai kapan kita siap untuk memahami anugrah cinta yang telah Allah berikan?


*Penulis merupakan Pengampu pendidikan Jurnalistik SDIT Harapan Bunda Semarang dan Sekretaris FLP  Semarang Raya periode 2011-2013
Motivator Remaja di Cahaya Pena-Best Mover Generation (CP-BMG)

Friday, February 8, 2013

DAUN YANG KUAT TAK AKAN JATUH DITERPA ANGIN

 DAUN YANG KUAT  TAK AKAN JATUH DITERPA ANGIN
Oleh:Yaya Hikmatul Qalam




Nami Island, Seoul.
Saat semuanya berakhir dan mimipi-mimpi itu harus terpatahkan.

Aku masih duduk mematung. Menatap air Danau Cheongpyeong yang mengalir tenang. Sesekali merapatkan mantel atau membenahi syal yang melilit di leher. Awal musim semi di Seoul dengan suhu udara yang bisa kuperkirakan antara 9-12 derajat Celsius. Seharusnya, senja ini adalah awal musim semi yang indah. Menikmati kuncup bunga sakura yang mulai mekar. Memanjakan mata dengan menatap pohon metasequoia yang berjajar rapi. Ataupun sekedar bersepeda disela-sela pohon pinus. Menghabiskan sisa liburan musim gugur yang telah lepas beberapa hari yang lalu.

“Kapan Lee…???”
“rencananya tiga bulan lagi.”

Aku kembali terdiam. Air Danau Cheongpyeong kali ini tak lagi indah. Aku tersenyum hambar. Mengalihkan pandangan pada rontokan daun maple yang menumpuk. Sisa musim gugur yang baru saja berlalu.
“Kamu tau Lee…??? aku mencintaimu.”

Suaraku pelan. Bahkan hampir hilang tersapu tiupan angin musim semi

Thursday, December 27, 2012

Kisah Seorang Penjual Susu


Oleh: Fetrin Arisa Ningrum

Sudah hampir satu setengah tahun, saya melalui jalan yang sama menuju klinik tempat saya bekerja dengan sepeda motor setia saya setiap harinya, setiap pagi. Wajah-wajah masyarakat sekitar berlalu lalang di sepanjang jalan yang hanya berjarak 2 meter saja dari rel Kereta Api dan sangat dekat dengan Stasiun Tawang Semarang. Sungguh begitu banyak pemandangan yang mewarnai sepanjang jalan itu, karena hampir 75% jalan yang cukup panjang itu dijadikan tempat berjualan oleh penduduk sekitar, meski jika siang tiba hanya tinggal beberapa orang saja yang masih menjajakan barang dagangannya, agak berbeda dengan pasar-pasar di daerah lain yang bisa tetap aktif hingga malam menjelang. Ada beberapa sosok yang saya amati, meski sebenarnya bukan hanya sosok penjualnya, tetapi barang dagangannya juga. Ada ibu-ibu yang menjual sayur dan buah, bapak-bapak penjual ikan yang segar-segar, ada seorang nenek yang menjual kain dan pakaian bekas, dan para penjual lainnya yang sudah biasa kita lihat di setiap pasar tradisional pada umumnya. Namun, ada satu sosok yang amat saya soroti, setiap pagi, setiap hari, seakan tak pernah bosan, duduk seorang pria yang usianya saya perkirakan sekitar 30 tahun-an, berperawakan sedang, berjanggut tipis dan selalu memakai kopyah di kepalanya. Bapak itu setiap harinya menjual berliter-liter susu sapi segar yang dibungkus dengan plastik putih yang berukuran kecil hingga sedang. Ya, beliau adalah seorang penjual susu.

Thursday, November 29, 2012

Begitu Guru

Begitu Guru
oleh: Winas Nazula FLP Semarang


pahlawan tanpa tanda jasa
:itu dulu, kini kah?
selembar pengakuan telah dibagikan
bintang-bintang sekarang terpampang
penghidupan lebih dari kecukupan
namun selalu ada yang kurang
:terasa di pengorbanan
deret harapan mulai bertambah
yang semula nilai mulai berubah
sebagian memang bisa hidup mewah
kebanyakan ada pula masih di bawah
aljabar mulai sulit dimengerti
alfabet pun tak meresap di hati
anak didik disibukkan sendiri
belajar pada teknologi
pengajar merambah sekolah-sekolah
pendidik terkurung di rumah-rumah
begitulah guru
:kini, beda dulu
Semarang,271112

Friday, November 2, 2012

Mencari Ibu di Syurga-2

Mencari Ibu di Syurga

ARLOJI CINTA


Sri Wahyuni Radaryanti

Tik tik tik ... Arloji cinta berdetak seiring denyut nadi ....
Setiap detiknya adalah kesetiaan, setiap menitnya adalah kasih sayang, setiap jamnya adalah kerinduan,
setiap harinya adalah kebahagiaan, setiap minggunya adalah keceriaan, setiap bulannya adalah kebersamaan, setiap tahunnya adalah keindahan.
Tik tik tik ...Arloji cinta berdetak seirama nafas-nafasnya
Setiap tarikannya adalah ungkapan cinta
Setiap hembusannya adalah tebaran pesona
Setiap jedanya adalah kekaguman jiwa
Tik tik tik ... Arloji cinta terus menghitung waktu
Dari siang ke malamnya adalah saling memahami
Dari malam ke siangnya adalah saling mengisi
Dari gelap ke terangnya adalah saling melempar senyum penuh arti
Dari terang ke gelapnya adalah penuh rasa maaf
Tik tik tik...Arloji cinta tak kann henti bergerak
Dari putarannya yang stabil dan presisi, seperti jantung yg berdetak
Tak akan berhenti kecuali kematian yg menjemput dg mendadak...
Tik tik tik ... Arloji cinta Berdetak-detik...
Tik tik tik "

PUISI UNTUKMU ISTRIKU

hua..hua...hua.... tiba-tiba "i'm fallin...
Bunda Nay 
Hua..hua...hua.... tiba-tiba "i'm fallin love".jadi ngerasa jatuh cinta lagi. dapet puisi dari suami tercinta...semoga jadi inspirasi buat para abi, ayah, dan suami. jangan pelit memberi hadiah ke istri, dan jangan lupa.... puisi adalah salah satu kado yang paling terindah untuk istri. so sweet... ayo para abi... buat puisi buat istri tersayang.

Untukmu Istriku...........
Bismillah….
Yaa Alloh…
8 tahun sudah kami bersama.
Banyak suka dan duka yang telah kami lalui berdua
banyak tawa dan airmata yang telah kami bagi berdua.
Banyak juga penderitaan yang telah kami jalani bersama.
Saat dia terbaring lelap disisiku.
Kulihat seluruh kelelahan tergambar diwajahnya.
Kulihat jua sejuta keletihan tergurat diwajahnya…
Namun tak terdengar keluh kesahnya akan semua itu.
Saat aku berbaring disisinya…
Aku berharap malam tidak bertemu fajar.
Gelap tak berganti terang…
Sehingga aku dapat memeluknya..
Erat selamanya…
Yaaa Allah….
Betapa bersyukurnya hamba kepadaMu…
Engkau telah berikan hamba istri yang luar biasa…
Yang tak tergantikan oleh dunia dan seisinya…
Yang memberikan kesejukan dihati hamba selamanya…
Yang dari rahimnya engaku lahirkan generasi-generasi terbaik....
Yaa Allah…….
Hanya doa padaMu yang kupunya untuk dia Istriku tersayang…
Agar kami bersama hingga Engkau jemput kami berpulang padaMu.
Yaa Allah…
Hamba bukanlah pria sempurna, yang selalu ada dalam setiap mimpinya.
Hamba juga belum bisa membahagiakannya
tapi….
Hamba adalah pria yang mencintainya….dengan tulus ikhlas
Hamba pun selalu berusaha untuk membahagiakannya
Engkaupun tahu itu….

Yaa Allah……
Sering juga hamba dzolim kepadanya…..
Kumohonkan berjuta maaf dan ampun kepadaMu dan juga kepadanya….
Izinkan hamba kembali memperbaiki diri….
Untuk menjadi hamba yang lebih baik……
Yaaa Allah….
Hamba sungguh-sungguh memohon kepadaMu…
Berikan kekuatan pada istriku.
Agar selalu sabar menjadi pendamping hamba….
Kala hamba menjadi nahkoda dalam bahtera rumah tangga hamba…
Aamiin……..
Love you ummiku sayang…..
Mencintaimu……

HATI WANITA


by Sri Wahyuni Radaryanti 
"Mungkin hati tlah tergores...perih. Barangkali dia sering tersayat... luka. Apabila dia kerap terbelah...berdarah. Hati seorang wanita adalah terlalu kuat untuk menyimpan derita ...

Mungkin jiwa tlah teriris...sakit.
Barangkali dia sering terhimpit...nyeri.
Apabila dia kerap terbelenggu...pilu.
Jiwa seorang wanita adalah terlalu luas untuk membenci ...

Mungkin kalbu tlah patah... duka.
Barangkali dia sering tertusuk...pedih.
Apabila dia kerap terkhianat...cacat.
Kalbu seorang wanita adalah terlalu lapang untuk berhenti mencintai ...

Andai seribu sembilu menusuk kalbu...tak kann cukup darah rindu terhabisi...
Andai sejuta kapak membelah jiwa...tak kann mampu menebas cinta hingga mati...
Andai semilyar panah menancap hati...tak kann bisa mengurai kasih menjadi debu...

Hati wanita adalah besi kerangka cinta
Jiwa wanita adalah emas penghias kasih
Kalbu wanita adalah rumah yang selalu merindu para penghuninya

Terinspirasi dari nasehat Murobbiku :
Semarang,Senin, 15 okt 2012

SAMPAH

puisi 2 sampah karya mas zidan (7,5 th) aku...
Bunda Nay 

karya mas zidan (7,5 th)


aku heran...

kenapa orang-orang selalu membuang sampah sembarangan.
Padahal pak tukang sampah capek capek membersihkannya

Aku juga heran..

kenapa orang besar tidak menjaga lingkungan kita.
padahal umiku selalu mengingatkanku tidak buang sampah sembarangan.

terima kasih pak tukang sampah,

sudah mengambil sampah di lingkunganku
kalau tidak ada pak tukang sampah,
pasti jalan jadi kotor...

PUISI | ANTARA DO'A DAN CINTA

Terjawabkah do'aku akan cinta? 

Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti


Asal kau membuka mata dan mengulurkan tanganmu
Aku dapat dengan mudah menunjukkan jalan baru
Petualangan baru dalam hidupmu
Aku tak butuh kau membuka hatimu secepatnya
Yang aku butuhkan adalah kepercayaanmu padaku
Asal kau tidak membuka hati pada yang lain, aku akan selalu percaya padamu
Dan kau bisa pegang jiwaku

Mulailah meyakinkanku
Sehingga aku bisa berjalan lurus kearahmu
Percayalah padaku, sehingga aku selalu ada disampingmu
Dan mulailah membuka hatimu sedikit demi sedikit untukku
Agar aku semakin yakin dan percaya
Bahwa selama ini engkaulah yang membuatku merasakan rindu
Rindu akan kesempurnaan jiwa
Sukmaku, sukmamu
Bersatu dalam keabadian

Dengan begitu, akan terjawab do'aku


06.30


1 April 2012

By @Wawa_eN
Sumber

SKETSA HATI NURANI

SKETSA HATI NURANI Kau suruh aku sabar,.. kau...
Cahaya Petunjuk
SKETSA HATI NURANI

Kau suruh aku sabar,..

kau tuduh aku pengecut
ku pegang janjimu
kau bilang tunggu waktu
ku coba katakan
kau bilang suruh diam
kau ini gimana
Dan aku harus bagaimana...
kau suruh aku pintar
kau bilang serba kekurangan..
Kau suruh aku berlari
Kau bilang jangan mimpi
Kau suruh aku tunggu..
Kau malah menuntutku
Kau ini bagaimana..
Ku harus gimana

Mengguncang Bayi Bisa Berakibat Fatal

Mengguncang Bayi Bisa Berakibat Fatal Oleh:...
Dito Anurogo 7:25am Sep 17

Oleh: Dito Anurogo

Dimuat di: Suara Merdeka, 12 September 2012


Tragedi Shaken Baby Syndrome (SBS) telah lama dikenal. Sebuah tindakan yang kadang tanpa sengaja, tapi membuat celaka baik bayi maupun orang tuanya. Hanya mengguncang-guncang bayi/anak, dapat membuatnya mati. Bapak, ibu, atau pengasuh anak menjadi tersangka utamanya. Tahun 1946, Dr John Caffey berhasil mengidentifikasi anak-anak dengan patah tulang panjang dan perdarahan intrakranial sebagai korban SBS. Tahun 1960-an, beberapa dokter melaporkan tanda-tanda klinis dan radiografis berkaitan dengan kekerasan pada anak. Tahun 1972 Caffey menyebut SBS sebagai battered baby syndrome. Sayangnya baru pada tahun 2000-an, kasus SBS menjadi perhatian di USA.

SBS adalah penyebab kematian traumatis pada bayi dan dipertimbangkan sebagai penyebab morbiditas pada bayi berusia lebih muda dari 2 tahun. Menurut American Academy of Pediatrics, korban SBS paling sering dialami bayi berusia 2 tahun (atau bisa kurang dari 2 tahun), hingga usia 5 tahun. Literatur lain menyebutkan; SBS terutama terjadi pada bayi di bawah usia 1 tahun. Jadi bayi berusia 1 bulan hingga anak berusia 5 tahun rentan terhadap SBS.
Insiden (angka kejadian) SBS diperkirakan 15-30 kasus per 100.000 bayi berusia lebih muda dari 12 bulan. Ironisnya, kasus SBS biasanya disebabkan oleh orang-orang terdekat dengan bayi atau anak-anak. Mulai dari pengasuh anak (babysitter), bapak, ibu, kakek, nenek, kakek, paman, tetangga, dsb. Umumnya mereka mengguncang-guncang bayi agar diam atau berhenti menangis.
Mengguncang-guncangkan bayi ini tentunya tidak sama dengan mengayun-ayunkan bayi dengan kaki atau menggoyang-goyangkan bayi dengan lembut dengan tujuan untuk bermain-main. Mengguncang-guncang bayi dengan kasar dapat memicu efek ìwhiplashî yang dapat memicu cedera organ dalam, termasuk perdarahan di otak atau di mata. Tangisan bayi yang tidak dapat dihentikan (inconsolable crying) adalah pemicu utama terjadinya SBS.
Penyebab
Ada dua hipotesis penyebab SBS. Pertama, perluasan ruang subarachnoid sebagai faktor pencetus terjadinya subdural hematoma (SDH). SDH adalah perdarahan menuju ruang di antara dura (selaput pembungkus otak terluar) dan meninges (lapisan tengah pembungkus otak). Teori ini diperkuat dengan model biomekanis yang menyatakan bahwa sobekan di pembuluh vena kortikodural dicetuskan oleh ekspansi ruang subarachnoid. Ruang ini terletak diantara membran arachnoid dan pia mater, selubung otak dan sumsum tulang belakang, yang mengandung cairan cerebrospinal.
Kedua, perluasan ruang pericerebral pada fase awal sebagai akibat dari cedera kepala yang sebelumnya tak terdiagnosis. Pada pemeriksaan pencitraan (imaging), ditemukan bukti adanya atrofi (penyusutan) di beberapa bagian otak (bilateral, kortikal, dan supratentorial), subdural hygroma (akumulasi cairan, serupa kista), ventricular dilatation (pelebaran bilik jantung).
Potret Klinis
Penderita SBS menunjukkan tanda-tanda: mudah mengantuk, kekuatan ototnya menurun, mudah marah, mengamuk, atau rewel, berkurangnya selera makan, enggan makan atau menolak disuapi, muntah tanpa sebab, enggan tersenyum atau tak mau bergumam, refleks menghisap atau menelannya memburuk, sikap tubuhnya kaku, tak luwes, seolah dibuat-buat, sulit bernapas, kejang, kepala atau dahi tampak lebih besar daripada biasanya atau ada daerah lunak di kepala yang membengkak, tak mampu mengangkat kepala, matanya tak bisa fokus, tidak dapat mengikuti pergerakan, atau ukuran pupilnya tak sama.
Anak-anak korban SBS menunjukkan tanda-tanda kerusakan saraf yang serius, seperti: kejang, tampak sangat malas yang ditunjukkan dengan kata-kata atau penjelasan orang tuanya yang mengatakan bahwa anaknya hampir meninggal dunia, anaknya berhenti bernapas, atau diobservasi oleh dokter menunjukkan gangguan kesadaran serius, berhenti bernapas, denyut jantung melambat, melemahnya kewaspadaan (dapat berlanjut hingga koma). Pada kasus-kasus yang sangat serius, bayi atau anak-anak ditemukan telah meninggal dunia.
Diagnosis
Dokter menegakkan diagnosis SBS berdasarkan trias SBS, yaitu: 1. perdarahan pada rongga antara otak dan tulang tengkorak (subdural haemorrhage), 2. perdarahan di belakang bola mata (retinal haemorrhage), 3. penyakit atau kerusakan (malfunction) otak yang biasanya degeneratif (dalam medis disebut encephalopathy).

Untuk memastikan SBS, dokter akan melakukan pemeriksaan mata, persarafan, Computed Tomography scan (CT-scan), dan MRI (magnetic resonance imaging).


Dito Anurogo, konsultan kesehatan di
detik.com dan netsains.net.