• Serah Terima Amanah

    Serah Terima Amanah dari Syah Azis Perangin Angin (Ketua FLP Semarang 2011 - 2014) kepada Muh. Hafidz Nabawi (Ketua FLP Semarang Periode 2014 - 2016). Semoga dapat membawa FLP Semarang menjadi lebih baik. Amin...

  • Pelantikan Pengurus Wilayah FLP Jateng di Semarang

    Pelantikan Pengurus FLP Wilayah jawa tengah di SDIT Cahaya Bangsa Semarang. Semoga amanah ya... Amin..

  • Open Recruitmen Anggota FLP SMG

    Berpose setelah selesai mengikuti Rekrutmen Anggota Baru FLP Semarang... Ayo, Tunjukkan Orange-Mu.. Menanti karya Flpers Semarang... Semoga makin produktif... Amiin..

Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, July 20, 2013

#9 Kisah Ramadhan Pejuang Pena Semarang



Alarm Ramadhan
oleh An Maharani



Kring... Kring… Kring...

Hal pertama apa yang aku pikirkan saat bangun tidur? Mata merah, wajah gelisah, saraf simpatik mulai meraba dunia nyata. Alhamdulillah, sudah semestinya kubersyukur untuk bangun dari kematian sementara. Apalagi, saat mengetahui bahwa minggu ini sudah masuk ke sepuluh hari kedua bulan mulia. “Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?”

Ponsel kuning mama selalu setia membangunkan kami. Tak pernah telat dari jadwal yang ku-setting sebelumnya: jam 03.00 WIB. Kadang, aku malas untuk membuka mata, namun mama selalu memaksaku untuk bangkit dari tempat tidur.

“Ayo, bangun, kalau ga mau tahajud kesiangan!”

Haha.. Aku sering mendirikan shalat malam mendekati sahur. Minggu pertama merupakan minggu adaptasi yang berat untukku. Biasanya aku bangun mendekati shubuh. Shalat malamnya juga mendekati shalat shubuh. Namun untuk ramadhan kali ini, aku ingin manajemen waktu tertata rapi. Tak boleh begadang malam-malam, untuk mendapatkan kesempatan shalat malam. Bacaan Al Qur’an-pun harus ditingkatkan. Ga boleh ada agenda malas-malasan, termasuk menghidupkan shalat berjama’ah di masjid. Selang waktu sahur dan adzan shubuh tak berlangsung lama, paling sekitar sepuluh menit. So, buat apa untuk melanjutkan tidur lagi? Kali ini harus ada perlawanan dari musuh bebuyutan yang bernama:

Friday, July 12, 2013

#4 Kisah Ramadhan Pejuang Pena Semarang



Kesempatan Kedua



Bulan penuh berkah kembali menjumpaiku di peraduan. Saat bulir embun tak mampu lagi berlama-lama dalam keheningannya. Ia menguap, menyatu dengan angin. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku yang tinggal sebentar tuk menjadi embun bagi orang-orang yang mengenalku. Ini lah aku, dalam ketakberdayaanku menjalani takdir hidup. Aku hampir menyerah. Putus asa dalam kubangan kegagalan yang tak ada habisnya. Namun Allah masih memberiku kesempatan untuk sekali lagi membaktikan hidupku bagi orang-orang yang menyayangiku.
Masih teringat air mata ibu yang mengiringi kepergianku. Saat kuputuskan meninggalkan rumah demi melanjutkan hidupku. Meninggalkan adik dan kampung halamanku. Tiga tahun telah berlalu, dan aku merindukan mereka. sangat.
“Jangan pergi anakku, kamu lah satu-satunya harapan ibu. Ibu sudah kehilangan Ayahmu, sekarang Ibu tak ingin kehilangan dirimu. “ kata-katanya kala itu.
“Kak, jangan tinggalin Nadia sendiri,” rengek gadis kecil di samping ibu. Namun, hati ini telah lelah untuk hidup dalam kekurangan. Dengan keinginan kuat merubah nasib, aku pun pergi membiarkan kenangan-kenangan masa laluku tertinggal bersama jejak-jejak langkahku.
Kini tangisan dan rengekan itu menjelma rintihan mimpi dalam tidurku. Menghantui setiap detik yang berlalu. Aku menyesal dulu pernah meninggalkan mereka untuk mengejar sebuah mimpi di kota. Mimpi yang penuh dengan tipu daya yang melenakan setiap manusia.
Di perantauan, aku tak pernah tahu, atau mungkin tak pernah ingin tahu. Bahwa adik dan ibuku sangat membutuhkan keberadaanku. Keberhasilan yang kuraih telah membuatku terlena. Menjadikanku seorang pekerja tanpa kenal lelah. Aku lalai menjalankan kewajibanku terhadap Sang Pemilik Kehidupan, hingga dalam kesenangan dan keberlimpahan harta. Aku ditegur oleh-Nya, Dzat yang Maha Memberi Rizki.
Aku sakit-sakitan, tubuhku kurus ringkik tak berdaya, semua hartaku di bawa pergi pembantu. Semua usahaku dipindah tangan oleh rekan kerjaku. Dan Aku dibuang ke sebuah desa antah berantah yang tak kukenal. Hingga aku bertemu gadis bernama Okta Novitasary. Ia lalu membawaku tinggal di rumah sederhana namun cukup luas untuk ditinggali sendiri.
“Kak Okta sudah pulang, Kak Okta sudah pulang!” teriak seorang anak seraya menghampiri gadis itu. Lalu tak berselang lama, anak-anak lainnya berhamburan mengelilingi Okta dengan wajah polos mereka. 
“Sudah pada makan semua?” tanya Okta pada anak-anak yang dijawab serentak dengan gelengan kepala.
“Kalau begitu, ini kak Okta bawain oleh-oleh. Dibagi yang rata yah.” Katanya seraya mengeluarkan sebungkus hitam nasi.
“Kamu tinggal sendirian dengan anak-anak itu?” tanyaku padanya. Ketika semua anak-anak kembali ke kamar untuk mengisi perut mereka yang kosong.
“Iya. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk mereka.  Mereka adalah orang-orang yang dibuang keluarga, hidup di tengah-tengah kerasnya Jalanan. Keberadaan mereka tak pernah diharapkan masyarakat. Dan aku mengumpulkan mereka di sini. Setidaknya, mereka punya tempat untuk kembali.” Jelasnya seraya tersenyum. Lalu meninggalkanku sendiri di ruangan.
Aku merenungi kembali atas apa yang selama ini kulakukan. Banyak di luar sana, orang-orang yang kehidupannya tak pernah diharapkan oleh orang tua, sedangkan aku? Aku telah menyia-nyiakan keluargaku di kampung halaman. Hatiku terhenyak, tangisku meleleh. Aku telah berdosa pada keluargaku. Aku ingin kembali ke mereka. Aku ingin mencari mereka.
“Sebentar lagi berbuka, ayo. Bersihkan dulu badanmu, mari ......,” kata-katanya terputus. Aku baru teringat kalau kami belum saling kenal.
“Adib, panggil saja Adib” jelasku. Ia pun menuntunku berjalan.
Malam hari rumah itu ramai dengan lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an, hatiku tentram mendengarkan bait demi bait yang menyentuh kalbu. Aku merindukan ini semua, dulu ibu lah yang mengajarkanku membaca Al-qur’an. Telah lama aku tak membacanya.
Aku mulai belajar mendalamai kembali ajaran agama pada Okta, belajar arti hidup dari seorang Okta, yang ku tahu belakangan adalah anak orang berada namun kedua orang tuanya telah tiada. Meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ini rumah neneknya. Ia ingin menjadikan rumah neneknya sebagai tempat bernaung anak-anak yang tak punya tempat tinggal. Sedang ia bekerja di perusahaan peninggalan almarhum ayahnya. Meski ia adalah pemilik perusahaan, ia tak mau menjadi pemimpin perusahaan, setidaknya untuk saat ini. Ia ingin memulai semuanya dari bawah. Seperti kebanyakan orang memulai kerja.
“Kau punya rumah? Apa keluargamu tidak mencarimu, bila kau tidak pulang ke rumah?’” tanyanya suatu ketika.
“Yah, aku punya. Di kota, punya perusahaan juga. Tapi semua itu kini telah diambil dariku, mungkin itu teguran buatku karena telah melupakan Tuhan. Entah lah. Aku memiliki keluarga di kampung halaman, tiga tahun yang lalu aku meninggalkan Ibu dan Adikku. Aku malu bertemu mereka,” kenangku.
“Allah masih menyayangimu, Mas. Memang, kita sering menganggap kesulitan dan kekuarangan itu sebagai ujian. Padahal sebenarnya, kesenangan dan nikmat itu juga merupakan ujian yang berat. Sekali saja terlena, maka kita akan sulit kembali ke Jalan-Nya. Seperti yang Mas alami mungkin,”
Dengan nasehat Okta, aku pun meminta bantuannya untuk mencarikan keberadaan keluargaku. Karena aku tak mungkin bisa melakukan perjalanan jauh dengan kondisiku kini. Hari demi hari berlalu, dan tak ada kabar dari orang suruhan Okta. Aku hampir putus asa. Namun gadis itu selalu menguatkanku.
Hingga tibalah sebuah surat, aku membacanya. Itu dari orang suruhan Okta. Perlahan kubaca. Dan ternyata ketakutanku selama ini menjadi kenyataan. Ibu dan adikku kini telah pindah, rumah yang dulu kutempati sekarang sudah berpindah tangan. Dan keluarga yang menempatinya tidak tahu ke mana pemilik yang lama pergi. Oh Tuhan, Ujian apa lagi yang akan hamba terima... batinku.
“Mas, jangan bersedih. Masih ada kami di sini. Kami adalah bagian dari keluargamu sekarang. Untuk itu, biarlah takdir yang akan mempertemukan Mas dengan keluarga Mas. Tinggallah disini, dan kita bangun anak-anak ini menjadi anak-anak yang berguna kelak. Mungkin Allah juga yang telah mengatur pertemuan kita. Agar Mas memiliki kesempatan kedua untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab pada keluarga. Ini ujian bagi Mas, apakah akan mengambil jalan yang sama seperti dulu.” Gadis itu menguatkan hatiku.
“Tapi, aku takut memberatkan kalian. Dengan adanya diriku, berarti akan semakin banyak beban yang akan kau tanggung Okta,” kataku menyela,
“Itu tidak akan terjadi, bila kau masih memiliki keinginan bekerja. Aku akan selalu ada untukmu. Kita tanggung semua ini bersama-sama. Bila tidak kita, siapa lagi yang akan memperhatikan nasib mereka.” jawabnya seraya tersenyum. Senyum penuh ketulusan.
Perlahan aku mulai beradaptasi dengan keluarga baruku. Banyak nama-nama yang harus aku ingat. Tapi aku bahagia. Hidup di tengah-tengah mereka dengan segala kekuranganku. Aku berjanji aku akan berusaha untuk terus hidup. Untuk terus memiliki semangat bekerja, demi anak-anak, demi Okta, dan demi hidupku bersama mereka agar tak menjadi beban di suatu hari nanti. Sekali lagi aku ingin hidup untuk memperbaiki kesalahan di masa laluku.
“Kak Adib, biar Rony saja yang ngerjain. Biar kakak istirahat.” Seraya mengambil baju yang ingin aku cuci.
“Terima kasih Rony, tapi biarlah kak adib yang ngerjakan yah.. Kamu anak baik. Mungkin kamu bisa tolong Kakak, bawakan bajunya ke belakang,” pintaku padanya.
“Cepat ke sekolah, ini hari pertamamu kan?” ia mengangguk, tersenyum, lalu pergi. Syukurlah aku masih bisa melihat kebahagiaan di mata mereka. Masih banyak anak-anak yang nasibnya seperti mereka, harus putus sekolah karena alasan klasik. Biaya sekolah yang tinggi. Seperti dulu, saat Ibu tertatih-tatih membiayai sekolahku. Kenangan itu hinggap kembali.
Aku, masih merindukan mereka. Ada penyesalan yang dalam di hati ini. Namun apa lah daya hamba. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berdo’a untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka berdua, di mana pun mereka berada. Aku memohon pada Allah, agar dipertemukan lagi dengan mereka sebelum aku dipanggil menghadap-Nya. Biarlah hidup mengalir sesuai takdirnya. Aku ingin belajar berbagi bersama Okta dan anak-anak di rumah ini. Dengan kemampuanku, aku mengajari mereka sebuah hal-hal baru yang pernah aku alami di kehidupanku. Aku membagi semua kisahku pada mereka, agar tiada lagi anak-anak seperti mereka yang bernasib sama denganku. Terima kasih Okta, engkau lah sumber inspirasiku. Engkau lah penguat jiwaku. Semoga aku bisa menjadi embun bagi tunas-tunas jiwa yang keberadaanya tak pernah diakui oleh masyarakat. 

Langit Kota Atlas, 2013

M. Adib Susilo, Penulis lahir di Lamongan, 6 Juli 1991. Anak kedua dari empat bersaudara. Hobinya adalah membaca dan menulis dan sekarang memiliki hobi baru sebagai peresensi buku. Masih menjalani aktivitas kuliah di IAIN Walisongo Semarang. Coretan-coretannya masih butuh banyak perbaikan, kritik dan saran yang membangun. Dan Alhamdulillah beberapa karyanya, Purnama di Kota Atlas (dibukukan dalam Antologi Cerpen Mutiara Berdebu), Rumah Kertas (dimuat Majalah Santri), Puing Kelam Kota Lama dan Langit Muram di Atas Tanah Tak Bertuan (dimuat di Majalah Magesty). Puisi Parade Mimpi di Negeri Dongeng pernah dimuat di Media Mahasiswa dan Puisi Embun Pun Kehilangan Tempat Berpijak dimuat di Eramadina. Selain itu coretan-coretan penulis bisa di akses di blog penulis http://telagainspirasiku.blogspot.com/ . untuk menghubungi penulis, bisa melalui email adibsusilo2011@gmail.com atau akun Facebook M Adib Susilo
Penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca, agar bisa memperbaiki kualitas tulisan penulis menjadi lebih baik lagi. Serta harapannya semua komentar yang ada akan melatih dan melecut semangat penulis untuk terus berkarya. Salam Karya!

Friday, February 8, 2013

DAUN YANG KUAT TAK AKAN JATUH DITERPA ANGIN

 DAUN YANG KUAT  TAK AKAN JATUH DITERPA ANGIN
Oleh:Yaya Hikmatul Qalam




Nami Island, Seoul.
Saat semuanya berakhir dan mimipi-mimpi itu harus terpatahkan.

Aku masih duduk mematung. Menatap air Danau Cheongpyeong yang mengalir tenang. Sesekali merapatkan mantel atau membenahi syal yang melilit di leher. Awal musim semi di Seoul dengan suhu udara yang bisa kuperkirakan antara 9-12 derajat Celsius. Seharusnya, senja ini adalah awal musim semi yang indah. Menikmati kuncup bunga sakura yang mulai mekar. Memanjakan mata dengan menatap pohon metasequoia yang berjajar rapi. Ataupun sekedar bersepeda disela-sela pohon pinus. Menghabiskan sisa liburan musim gugur yang telah lepas beberapa hari yang lalu.

“Kapan Lee…???”
“rencananya tiga bulan lagi.”

Aku kembali terdiam. Air Danau Cheongpyeong kali ini tak lagi indah. Aku tersenyum hambar. Mengalihkan pandangan pada rontokan daun maple yang menumpuk. Sisa musim gugur yang baru saja berlalu.
“Kamu tau Lee…??? aku mencintaimu.”

Suaraku pelan. Bahkan hampir hilang tersapu tiupan angin musim semi

Thursday, December 27, 2012

Kisah Seorang Penjual Susu


Oleh: Fetrin Arisa Ningrum

Sudah hampir satu setengah tahun, saya melalui jalan yang sama menuju klinik tempat saya bekerja dengan sepeda motor setia saya setiap harinya, setiap pagi. Wajah-wajah masyarakat sekitar berlalu lalang di sepanjang jalan yang hanya berjarak 2 meter saja dari rel Kereta Api dan sangat dekat dengan Stasiun Tawang Semarang. Sungguh begitu banyak pemandangan yang mewarnai sepanjang jalan itu, karena hampir 75% jalan yang cukup panjang itu dijadikan tempat berjualan oleh penduduk sekitar, meski jika siang tiba hanya tinggal beberapa orang saja yang masih menjajakan barang dagangannya, agak berbeda dengan pasar-pasar di daerah lain yang bisa tetap aktif hingga malam menjelang. Ada beberapa sosok yang saya amati, meski sebenarnya bukan hanya sosok penjualnya, tetapi barang dagangannya juga. Ada ibu-ibu yang menjual sayur dan buah, bapak-bapak penjual ikan yang segar-segar, ada seorang nenek yang menjual kain dan pakaian bekas, dan para penjual lainnya yang sudah biasa kita lihat di setiap pasar tradisional pada umumnya. Namun, ada satu sosok yang amat saya soroti, setiap pagi, setiap hari, seakan tak pernah bosan, duduk seorang pria yang usianya saya perkirakan sekitar 30 tahun-an, berperawakan sedang, berjanggut tipis dan selalu memakai kopyah di kepalanya. Bapak itu setiap harinya menjual berliter-liter susu sapi segar yang dibungkus dengan plastik putih yang berukuran kecil hingga sedang. Ya, beliau adalah seorang penjual susu.

Friday, November 2, 2012

Langkah Yang Tertunda

By. Rizka Fauzeeya

Semarang, 17April 2003

“Paman. Sa… Saya mau nikah paman.” Eira terbata-bata mengungkapkan keinginannya. Disampingnya ada seorang laki-laki lebih muda dua tahun dari usianya. Dialah pasangan Eira. Pamanya hanya diam membisu.
“Gimana paman.”
“ Nikah? Kamu sudah mantep dengan pilihanmu itu?.” Bentak paman pada Eira. Matanya menatap sinis.
“Apa ini calonmu?”
“I…Iya Paman dia calon saya. Asalnya dari Jambi. Dia udah kerja kok. Dia seangkatan sama saya.” Jawab Eira agak gusar.
Paman Eira masih bingung dengan apa yang dia alaminya. Eira dan pemuda itu telah menyalakan bara dihatinya.
“ Oh ya. Dari tadi kamu diam saja, siapa namamu?” Tanya paman pada pemuda itu. Pandanganya menyapu seluruh wajahnya.
“Say….e…saya Rusdi. Saya dari Jambi. Pak.”
“Rusdi? Dari Jambi?”
“Betul Pak. Di Semarang saya ikut kakak, beliau punya panti asuhan dan... dan saya ikut mengurusnya Pak” Jawab Rusdi dengan gugup. Keringat dingin mulai mengalir membasahi bajunya. Semarang siang itu memang terasa panas, biarpun demikian keringat dingin yang keluar dari tubuh Rusdi.
“Ooo… Cuma nebeng tho? Tapi kok sudah berani nglamar si Eira.” Dengan ketus paman menanggapi Rusdi.
Rusdi menundukkan wajahnya. Namun dirinya bertekad untuk bertanggung jawab dengan apa telah ia lakukan. Dia ingin menjadi setegar karang yang membelah ombak dilautan. Rusdi ingin menjadi pria sejati. Pantang baginya untuk mundur walaupun hanya sejengkal saja. Apa yang telah dimulainya harus diselesaikan. Harus dituntaskan. Walaupun terkadang dia tak sanggup menguasai dirinya.
“Iya Pak. Saya sudah terlanjur cinta sama Eira. Dan saya tidak bisa hidup tanpanya.” Jawab Rusdi. Kali ini hatinya lebih tenang.
“Hei! Jaman sekarang orang nikah tidak bisa hanya modal cinta. Apa nanti Eira mau dikasih makan cinta saja tiap hari. Hah! Nanti dia bisa overdosis.” Paman Eira makin bersungut-sungut. Matanya makin memerah.
“Ei! Sebenarnya paman tidak masalah dengan siapa kamu akan menikah, asalkan dia sudah mapan. Apa bapak mamakmu sudah tau hal ini?”
“Paman. Sebenarnya mereka belum tau. Ei akan kasih tau mereka sesudah dapat restu dari paman. Mereka kan di Lampung, rencananya habis nikah kami langsung kesana.” Eira mencoba menjelaskan.
“ Lho! ya ga bisa begitu Ei, kamu harus dapat restu dulu dari orangtuamu. Bapakmu kan masih ada, jadi nggak perlu paman yang jadi wali. Paman belum bisa merestui kamu Ei.” .
“Mmm. Paman. Sebenarnya Ei takut ngomong sama bapak.” Eira memelas pada pamannya.
“Heh kenapa harus malu? Maksud kalian kan baik. Pasti mereka setuju. Malah paman bangga padamu karena berani mengambil resiko nikah diusia muda. Bapak mamakmu dulu juga nikah muda.” Hati paman Eira mulai melunak. Dia mencoba menasehati Eira.
“Paman. Se.. se.. sebe.. sebenarnya Ei..Eira sudah.. sudah ha.. hamil Paman…” Eira menjelaskan apa yang telah terjadi.
“Innalillah…Ya Allah Ei… Masya Allah… Kamu… Kamu hamil Ei! Kamu mencoreng nama baik keluarga. bikin malu! Siapa yang menghamilimu? Apa dia?” Tunjuk paman pada Rusdi.
Rusdi hanya tertunduk menyesal dengan apa yang telah dilakukan pada Eira. Eira menangis dan bersujud pada pamannya.
“Paman! Ei salah Paman… Ei minta maaf, Ei khilaf waktu itu. Ka.. kami..”
“Cukup Eira! Paman sangat kecewa padamu, daripada penyakit jantung eyangmu kambuh jangan kamu bilang pada beliau. Sekarang paman tidak bisa biayai sekolahmu lagi. Maafkan paman Ei! Kamu mengecewakan. Terserah apa yang ingin kamu lakukan.” Paman meninggalkan Rusdi dan Eira dalam isaknya.
Keesokan harinya Eira pamit untuk pergi ke tempat orangtuanya di Lampung. “Ei! Ini ada sangu untukmu, Eyang tidak bisa kasih lebih karena minggu ini dagangan kedele kita sepi.” Eyang mengulurkan enam lembar uang lima puluh ribuan pada Eira.
“Makasih Eyang. Maafin Ei kalo ada salah.” Eira sesenggukan sembari memeluk eyang yang sayangi itu. Eira tidak mampu membayangkan bagaimana kalau sampai Eyangnya tau dia pulang bukan untuk berlibur tapi untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya. Eira sangat menyesal. Beberapa saat kemudian Eira dan Rusdi berpamitan pada pamannya.
“Paman. Saya minta do’anya paman. Maafkan Ei, karena melakukan banyak kesalahan.” Eira meraih tangan pamannya. Tangan itu hanya terulur sebentar karena paman Eira segera menariknya kembali. Hati paman Eira sangat sakit mendengar keponakan yang sudah dianggap sebagai anak kandungnya sendiri itu ternyata hamil diluar nikah. Betapa sembilu telah mengoyak hatinya. Apalagi Eira sangat mirip dengan mendiang anaknya yang meninggal akibat kecelakaan. Peristiwa kelabu itu jugalah yang merenggut nyawa istrinya.

Labuhan Maringgai, medio April 2003

Dengan hati berdebar-debar sampai jualah Eira dan Rusdi di Lampung untuk bertemu orangtua Eira dan meminta restunya. Rasa cemas dan ragu bercampuraduk menghinggapi hati saat mereka menginjakan kaki memasuki halaman. Apalagi Rusdi, dia merasa sangat bersalah dengan apa yang telah dilakukakan. Hawa nafsu yang tidak berdasar kesadaran telah berbuah kesia-siaan yang memalukan.
Malam harinya Rusdi menjelaskan tujuan mereka ke-Lampung. Kata demi kata mengalir melalui bibirnya yang mulai bergetar. Peluh dingin mengalir bersama keresahan yang mulai melanda. Hatinya berdegup kencang.
Orang tua Eira marah besar. Umpatan dan makian mengalir dari mulut mereka yang tengah kalap. Bapak Eira yang berwatak keras malah akan mengusir Rusdi dan Eirapun menangis sejadi-jadinya. Eira meminta maaf pada mereka berdua. Eira sangat menyesali perbuatannya. Demikian juga Rusdi, dia bingung harus berbuat apa.
Ketegangan makin memuncak. Rusdi hanya diam saja saat bapak Eira memperolok-olok dirinya yang menganggapnya pecundang, bukan laki-laki sejati, dan penghancur masa depan anak yang dibangga-banggakannya. Setelah semua usai tanpa hasil yang jelas, malam itu rumah keluarga Sani menjadi sangat hening. Tak terdengar lagi gurauan yang biasa dilakukan sang ayah ataupun ibu Eira saat malam tiba. Hanya suara-suara jangkrik dalam liangnya yang gelap mengisi ruang hampa malam itu.
Pada keesokan harinya semua berkumpul diruang tamu. Tanpa basa-basi mamak Eira memulai pembicaraan.
“Rusdi! Bapak dan Mamak sudah memutuskan hari lamaran Eira seminggu lagi, untuk itu kamu bilang sama orang tuamu untuk persiapkan lamaran sebaik-baiknya. Kami tidak meminta banyak-banyak dari kamu, hanya emas dua puluh empat karat seberat seratus gram beserta uang senilai emas itu. Gimana? Tidak banyak kan permintaan kami? Dan! Ingat seminggu lagi kamu dan keluargamu harus sudah sampai disini, karena terlambat sedikit saja kamu tidak akan bisa menikah dengan Eira. Mengerti!”
Rusdi begitu terkejut mendengar perkataan itu. Seakan-akan langit telah runtuh dan menimpa kepalanya. Rusdi hanya diam membisu Kata-kata itu menohok hatinya.
“Mak! Apa-apan ini? Yang mau nikah itu Ei sama Rusdi, jadi nggak usahlah mamak meminta yang muluk-muluk. Ei saja nggak minta yang seperti itu.” Sahut Eira setengah berteriak kepada mamaknya. Dia tidak terima perlakuan mamaknya itu kepada Rusdi. Biarpun telah merenggut kegadisanya, Eira sangat mencintai Rusdi. Apalagi benih-benih cinta itu kini sudah menyatu dengan darah Eira dan bersemayam didalam rahimnya. Dia tidak rela. Sungguh tidak rela.
“Ei! Kamu tidak usah ikut-ikutan masalah seperti ini, mamak tahu kalau kalian yang mau nikah, tetapi sebelum dia mengambil kamu dari mamak dan bapak dia harus punya sesuatu untuk menggantimu. Kalau tidak sanggup jangan harap dia bisa nikah sama kamu. Kamu ingat kan si Husairi anak pak lurah desa kita? Dia sudah menyukaimu sejak kamu SMP. Sekarangpun masih begitu. Dia menunggu kamu Ei!” Bentak mamaknya pada Eira.
“Kalau begitu sama saja mamak jual anak mamak sendiri!”
“Lancang sekali kamu dengan mamakmu ini. Ini juga demi kebaikan kamu Ei! Jangan harap dia bisa menikahimu tanpa membawa apapun!!”. Mamak Eira makin kalap dengan kelakuan putrinya. Darahnya sampai ke ubun-ubun. Matanya melotot.
Eira berlari menuju kamarnya. Hamburan air mata tumpah ruah diatas bantal. Butir-butir penyesalan kembali menyeruak dalam hatinya yang sendu. Peristiwa-peristiwa memalukan yang telah dilakukan bersama Rusdi terlintas jelas dimatanya. Sesal memenuhi seluruh rongga hati dan menyesakan dada. Kenapa aku tak bisa menjaga diri? Kenapa kuserahkan mahkota kehormatanku padanya? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat air matanya semakin deras mengalir. Tapi apalah jua nasi telah menjadi bubur, tak bisa kembali malah akan semakin busuk.
Rusdi sangat terpukul dengan keputusan orang tua Eira. Dia ragu apakah orangtuanya mau melaksanakan apa yang dituntut oleh orangtua Eira, sedangkan mereka hanya orang biasa, bukan lurah ataupun pengusaha. Mereka juga belum mengetahui kalau dia sudah merenggut kehormatan anak orang. Kepala Rusdi serasa dihantam palu memikirkan semua itu. Rusdi ingin lari dari kenyataan, tapi lagi-lagi ia terfikirkan cintanya yang mendalam pada Eira,
“Ya Tuhan. Salahkah cinta ini?” Hanya kata-kata itulah yang terbesit dalam hatinya.
Hari lamaran telah tiba. Detik berganti menit, menitpun berganti jam. Rusdi beserta keluarganya belum juga datang. Eira cemas bukan kepalang, Apakah Rusdi akan mengingkari janjinya? Lalu bagaimana dengan nasibnya, nasib jabang bayinya? Eira tak tahu jawab semua itu.
“Oh Rabb. Apakah ini akibat salahku karena menyalahi aturan main-Mu?” Batin Eira.
“Hei Ei! Mana pujaan hatimu itu? Pasti dia tidak punya harta untuk melamarmu. Untung saja mamak tidak langsung memberikanmu padanya. Apa jadinya besok kalau engkau jadi istrinya nak? “ Kata mamak Eira ketus.
“Mak! Mamak itu nggak tau perasaan orang ya? Ei itu lagi sedih mak..! Jadi mamak jangan ngomong yang tidak enak didengar.”. Balas Eira sama ketusnya.
“Heeei. Kalian ini bisanya berantem saja, bikin kepalaku tambah pusing. Eira! mana si Rusdi? Kenapa dia belum datang juga? Padahal tetangga dekat kita sudah berdatangan. Ini sudah mau Dzuhur.” Bapak Eira bertanya padanya.
“Sabar ya Pak. Mungkin mereka masih dalam perjalanan.” Jawab Eira menenangkan bapaknya. Eira tau bapaknya begitu menyayanginya melebihi siapapun. Sulung empat bersaudara itu paling pintar juga paling cantik dari yang lainnya. Dulu saat ia sekolah disekolahan terfaforit di Semarang, banyak pria yang ingin segera melamarnya. Selain karena sifatnya yang baik ia juga sangat pintar bergaul. Kini Eira sudah ternoda oleh pemuda biasa. Padahal dahulu kebanyakan orang yang ingin melamarnya terbilang orang yang berkecukupan. Sementara itu siapalah Rusdi. Pekerjaan saja dia belum punya. Apalagi dia berasal dari keluarga yang pas-pasan
”Eira… Eira…” Ayah Eira menggerutu dalam hati. Sebenarnya ia sangat menyayangi dan mangkhawatirkan putrinys itu, tetapi luka yang telah tertoreh dalam hati akibat perbuatan Eira membuatnya bersikap keras.
Malam makin larut, tamu-tamupun mulai berpamitan pulang tetapi Rusdi dan keluarganya belum juga sampai. Eira menjadi bulan-bulanan orangtuanya. Mereka merasa malu dengan sanak kerabat dan lingkungan sekitar karena lamaran tidak jadi dilaksanakan. Terbesit kecemasan dalam diri pak Sani akan nasib putrinya. Lalu siapakah yang akan sudi menutup aib dan bertanggungjawab atas nasib anaknya itu. “Ya Allah berikan hambamu ini kekuatan.” Rintiihan batin pak Sani.
Keesokan harinya ketika adzan subuh berkumandang, terdengar pintu keluaga Sani diketuk dari luar. Pak Sani bertanya-tanya, siapakah gerangan yang mengetuk pintu sepagi itu Setelah pintu dibuka ternyata yang datang adalah Rusdi beserta keluarganya. Mereka tampak letih dan kelelahan dalam keadaan basah kuyup setelah sembilan jam menempuh perjalanan Jambi.-Lampung. Pak Sani mempersilahkan mereka masuk. Kemudian diambilkannya teh hangat untuk melawan dinginya pagi yang diiringi rintik hujan sejak semalam. Dia mempersilahkan mereka sejenak melepas lelah dan shalat.
Hiruk pikuk di ruang tamu membangunkan mamak Eira yang masih terlelap tidur. Ketika melihat Rusdi dan keluarganya ada didalam rumahnya hatinya menjadi sangat kacau. Dia sangat marah dan merasa terhina atas perlakuan mereka.
“Hei kalian orang yang tak tau diuntung. Apa-apaan ini? Seenaknya saja kalian datang kemari. Sekonyong-konyong kalian ketempatku dan menikmati apa yang ada disini. Aku tidak menyesal kalau Eira tidak jadi menikah anak keluarga kalian. Aku akan cari pengganti yang lebih baik dan lebih kaya daripada Rusdi. Sekarang lebih baik kalian pergi dari sini. Aku tidak akan menerima dan merestui anak kalian menjadi menantu dirumah ini untuk selama-lamanya. Sekarang silahkan keluar.” Rasa dendam yang membara telah membakar seluruh nurani mamak Eira. Yang tersisa dalam hatinya hanyalah kebencian yang mendalam pada Rusdi dan keluarganya.
Butir-butir air mata mulai menetes dari sudut mata ibu Rusdi yang menyertai anaknya. Hatinya serasa tercabik-cabik dan meronta. Tetapi tak sepatah katapun mampu keluar dari mulutnya. Hanya getar dibibir dan sesak didada. Matanya yang sayu menatap mata suaminya yang mulai berkaca-kaca. Akhirnya merekapun pergi meninggalkan rumah itu.
Pagi yang basah, telah berbaur dengan tumpahan air mata. Gemerisik air hujan menyatu dengan tangisan orang-orang yang hancur dan hatinya terluka. Eira berlari kehalaman hendak mengejar mereka tetapi terjatuh. Dibawah guyuran air hujan pagi itu ia menangis dan meronta. Eira menatap Rusdi dan keluarganya yang semakin menjauh. Eira berharap petir akan meyambar dan mengakhiri penderitaanya.

Gajah , Medio 2003

Satu bulan telah berlalu sejak Eira dan Husairi hidup bersama. Karena begitu sayangnya Husairi pada Eira dia rela jadi tutup. Orang sekampung belum ada yang tahu kalau Eira hamil, oleh karena itu untuk menutupi aib keluarga mereka diungsikan dulu di kota Gajah ditempat saudara bapak Eira. Rencananya setelah melahirkan barulah Eira kembali lagi ke Labuhan Maringgai. Husairi tidak pernah menganggap Eira sisa orang lain, bahkan dia merasa bahwa dialah bapak bayi dalam kandungan itu. Eira jadi serba salah dan sangat berterimakasih atas pengorbanan Husairi. Bulan-bulan berikutnya Husairi rajin menemani Eira kontrol ke dokter. Husairi juga sering membacakan surat maryam untuk calon anaknya, dia ingin supaya anaknya secantik maryam karena hasil USG menyatakan bahwa calon anaknya perempuan.

Gajah, Januari 2004

Hari menegangkan itu telah tiba. Dengan sekuat tenaga Eira berusaha mengeluarkan jabang bayi dari dalam rahimnya. Dia harus bertarung dengan maut dan rasa sakit demi melihat buah cintanya itu. Dengan kelembutan dan kasih sayang Husairi menemani dan memberi support agar Eira kuat dan tabah. Doapun dia panjatkan kepada-Nya.
“oee…oee…oee…” Dengan izin Allah gadis kecil mungil itu lahir kebumi. Tangisanya mengisyaratkan rasa syukur atas kesempatan menghirup udara dunia. Biarpun kelak akan hidup dalam kefanaan, tapi itu adalah kesempatan untuk meraih surga dengan budi pekerti yang baik dan amal yang mulia.
Air mata kebahagiaan menetes dari sudut mata Eira yang membiru. Tangisan pertama buah hatinya menyeruakan semerbak keharuman dalam jiwanya yang selama ini kering dan merana. Namun dia menyayangkan kenapa bayi yang cantik dan suci itu harus lahir dari kelalaian dan kebusukan perilakunya yang telah lalu. Tapi biarlah semua itu menjadi goresan-goresan sejarah masa silam. Terbesit keinginan dalam hatinya untuk menjadikan anaknya wanita yang mulia dihadapan manusia dan Tuhanya. Seorang wanita yang selalu menjaga diri dan kemulian dengan taruhan apapun jua. Yang tak mudah terbujuk rayuan dan manisnya mulut setan yang berkedok tampanya wajah dan baiknya pekerti. Padahal dia hanya mengincar keuntungan dan mengumbar hawa nafsu. Seorang wanita yang menyerahkan mahkota kewanitaanya hanya pada sang suami saja dalam indahnya malam pertama.
Mamak Eira datang seminggu kemudian. Dia membawa serta kakaknya juga untuk menjenguk Eira. Disana dia mengumpulkan kakaknya itu, suaminya, Eira dan Husairi dalam sebuah ruangan kemudian mengutarakan meksudnya.
“Eira. Husairi. Sudah cukup penderitaan kalian, kini mamak ingin kalian hidup bahagia selamanya. Paman kau ini akan mengadopsi anak kalian. Kalian tidak usah khawatir dengan biaya hidupnya, semua itu akan menjadi tanggunganya. Paman kalian sudah memikirkan baik dan burukya. Kamu mengerti kan Ei?” Mamak eira mendekat kepada Eira dan mencium kening cucunya.
“Mak. Siapa yang menderita? Saya bahagia mak. Saya tidak akan memberikan anak saya pada paman. Saya bisa hidup sendiri tanpa Husairi ataupun mamak. Saya ibu kandungnya mak… saya tidak bisa berpisah dengannya mak” Jawab Eira sembari memeluk anaknya dan menjauhkan dari mamaknya.
“Iya mak. Saya juga tidak merasa menderita dengan semuanya mak. Saya malah bahagia.. sangat bahagia, mempunyai istri yang saya idam-idamkan dan anak yang cantik seperti ibunya..” Tandas Husairi.
“Tidak bisa Eira! Ingat janjimu saat kau tidak mau menggugurkan kandunganmu dulu Dengan begitu anak ini harus jauh darimu. Kamu ingat janjimu dulu kan Ei? Sudahlah! dia akan baik-baik saja bersama pamanmu, janganlah kau persulit dirimu sendiri” Mamak Eira mencoba mengingatkan janji Eira dimasa yang lalu.
Dengan berat hati akhirnya Eira melepaskan buah hatinya pada pamanya.
”Paman. Tolong jaga anak saya ya Paman.” Pinta Eira pada pamannya.
“Iya Ei. Sesekali kamu boleh mengunjunginya. Ei jangan lupa do’akan dia selalu. Semoga kelak menjadi anak yang sholehah dan berguna bagi lingkungannya. Tapi ngomong-ngomong siapa nama anakmu ini?” Tanya paman Eira padanaya.
“Siapa namanya kak?” Eira balik bertanya pada Husairi.
“Tsurayya Mustofa. Semoga dia menjadi wanita yang bisa selalu menerangi orang disekelilingnya walaupun dalam keadan gelap gulita sekalipun, seperti bintang yang sinarnya selalu menerangi jejek-jejak jiwa dan akan membawa kedamaian” Kata Husairi.
“Dan Mustofa itu nama ayah kak Husairi” Lanjut Eira sambil mengelus kepala Tsurayya.
“Ya sudah. Besok pagi paman akan berangkat ke Semarang bersama Aya. Kamu yang tabah ya.”
“Lho. Aya siapa paman?”. Tanya Eira bingung.
“Kau itu bagaimana Ei. Anakmu itu kan Tsurayya. Paman jadi susah manggilnya, biar mudah ya Aya saja. Ya kan?.” Jawab paman Eira.
“Oh iya… lebih imut ya paman… terimakasih ya Man…” Eira coba mencandai pamannya. Yang dituju hanya mengulas senyum.
Pagi itu sang mentari terlihat cerah menyambut Aya yang mungil. Walaupun demikian perpisahan tetap harus terjadi. Sebenarnya Eira tidak merelakan kepergian putrinya bersama pamannya. Dia ingin melihat dan menemani pertumbuhan Aya kecil menjadi balita yang lucu dan menggemaskan. Dia juga ingin mendampingi Aya tumbuh menjadi gadis yang cantik dan lincah bahkan sampai menikah kelak. Dalam hatinya Eira selalu berdoa untuk Aya agar selalu bahagia. Eira menagis.
“Jadilah engkau anak yang solehah dan pintar nak.” Bisiknya dalam hati sambil mengecup kening Aya untuk yang terkhir kali.
Kapal berlayar dari Bakauhuni menuju Merak melintasi Selat Sunda. Ada getaran lembut dalam hati Eira yang mengingatkan dirinya akan sesuatu yang terlupakan. Dia jarang mengingat Sang Kekasih Sejati. Kabut di hatinya kini telah sirna seiring mentari kebahagiaan yang telah memancarkan sinarnya. Semoga semuanya menjadi sebuah kenangan yang terangkum dalam album kehidupan di dalam memorinya. Yang akan mengingatkan ia akan getir masa lalu yang tak ingin terulang biarpun hanya sekali saja.

Meski ku rapuh dalam langkah kadang tak setia kepada-Mu namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu

Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintai-Mu dalam dada kuharap hanya diri-Mu yang bertahta
(RAPUH by OPIECK)
***
Malam di Kautsar
nb: Untuk adekku dzakiyatul fauziyah: de’ jadilah engkau wanita yang sholehah. Jaga izzahmu dan sayangi selalu ibu ‘n ayu’ mu…. I love u….

Kuliah itu Asik?

http://wawanwawa.blogspot.com/2012/09/kisah-suka-duka-kuliah.html
 
Nggak seperti yang aku bayangin saat aku masih SMA dulu yang beranggapan kuliah itu asik. Tapi ternyata kuliah tak seasik masa-masa SMA/sederajatnya, menurutku sih, hahaa. Tapi memang kanyataan yang aku alami seperti itu. Dari mulai dosennya yang ga mau tau dengan mahasiswanya (nggak semuanya sih, ingat...nggak semua dosen kayak gitu*takut ada dosen yang baca, wkkk) selain dosennya, yang gak asik itu harus gonti-ganti ruangan tiap ganti mata kuliah, “Capek Pak...”. “Emang yang capek kamu aja?”, kata dosen kalau denger protesku, hahaa. Tapi yang paling bikin drop tu kalau ada masalah dengan dosen yang killer dan enggak mau tahu dengan masalah mahasiswanya.


Pernah nih waktu aku berangkat kuliah motorku tiba-tiba mogok, padahal lima menit lagi kuliah akan dimulai dan kampus masih lumayan jauh*maklum, kosku lumayan jauh dari kampus, nyari yang agak murahan dikit ;p. Aku coba starter motorku berulang kali tetep aja nggak mau hidup. Aku lihat motorku nggak ada masalah apa-apa. Lirik kanan kiri di sekitar situ juga nggak ada bengkel. Mampus dah, bakalan nggak masuk lagi nih kuliahnya Mr. Jack (bukan nama samaran ;p) padahal absenku dah bolong dua. Dosen ini kalau ada mahasiswanya yang telat 15 menit bakalan dianggap tidak masuk, apapun alasannya. Busyet dah ni dosen.
Aku melihat indikator bensin di speedometer motorku, “Astaghfirullah, ternyata bensinnya habis. Pantesan udah distarter berkali-kali ni motor tetep gak mau hidup.” ngomong dewe sambil ngelus-ngelus bodi motor. Untung nggak jauh dari situ ada SPBU. Kepaksa dorong motor dah, lumayan 100 meteran lebih, heuh. “Waaaah, tinggal 10 menit lagi untuk bisa masuk kelas, harus nyampe kampus nih kalo mau selamat dari amukan Mr. Jack.”.

“Bensin penuh, Mas.”, kataku sama yang jaga SPBU. Trauma gw :D
“Tujuh belas ribu, Mas.”, Kata yang jaga SPBU.
“Mampus, ngapain tadi minta dipenuhin sih bensinnya?”, kataku pelan.
“Ada apa Mas?”, tanya yang jaga SPBU
“Oh, nggak apa-apa kok Mas, nih uangnya.”, ngasih uang sepuluhribuan sama SIM, “Ini sepuluh ribu dulu, sisanya ntar sore habis kuliah ya Mas.”

Melihat ada mahasiswa malang kaya gini, bukannya membantu sekadarnya, orang-orang yang antri di belakangku malah pada cekikikan semua. Aku sumpahin anak-anak kalian yang lagi kuliah nggak ngrasain apa yang aku alami saat ini. Sumpah, melas banget.

Nggak peduli jalanan lagi padat merayap, motor aku gas penuh. “Prit priiit...!”. Bodoh amat sama Polisi. “Maaf Pak, urusannya nanti di belakang aja ya, lagi buru-buru nih. huehe.” Untung polisinya gak ngejar, kalo seandainya ngejar dan aku ketangkep, nyampe rumah aku langsung sholat tobat dah, dosa apa sampe nasib semelas gini, hee. Akhirnya nyampe juga di Kampus, alhamdulillah baru telat 13 menit, artinya masih boleh masuk.

“Maaf Pak saya terlambat, tadi saya bla...bla...bla...” aku jelasin panjang lebar sama Mr. Jack. Dan tu dosen cuma diem aja. Aku jelasin sekali lagi, kali ini tambah panjang dan lebar tetapi tu dosen masih aja diem. Sambil pasang muka melas aku bilang pada Mr. Jack, “Pak, saya kan baru telat 13 menit, sesuai kata Bapak 15 menit baru dianggap tidak masuk. Berarti saya masih boleh masuk kan, Pak?”.

“Itu kan jam milikmu, jam saya menunjukkan anda sudah telat 16 menit, jadi kalau anda masih ingin mengikuti kuliah ya silahkan, tapi absen anda saya silang.” Kata Mr. Jack dengan entengnya.

“Tapi Pak...cuma telat semenit doang, Pak.”
“Anda mau ikut kuliah atau mau pulang? Jangan mengganggu teman anda yang kuliahnya rajin-rajin.”

Oke, kesimpulannya aku dianggap tidak rajin menurut mata dan mulut Mr. Jack. Tanpa ngomong apa-apa aku langsung balik kanan, mau pulang. Males banget ikut kuliah ini, bawaannya jadi pengen ngracun tu dosen pake Aut*n, biar nggak digigit nyamuk. Hahaa.


*** Masih belum tamaT ***
 

Maemunah dan SKLP


Bunda Nay

“Hello….hari gini gak punya HaPe ???”. Persis kayak tarsan kesasar di pusat kota aja. Ditambah tas dan sepatu nggak ada yang branded alias merk pasar tanah abang.
“Uh…sebel !!!. Kalo kayak gini mana bisa gue diterima di komunitas anak gaul yang always eksis di sekolah……”
Ups, tapi ada lagi masalah yang bikin cewek manis bertubuh jangkung ini uring-uringan sejak dia diterima sebagai siswa baru di salah satu SMU favorit di kotanya.
Bayangin aja…jaman modern kayak gini masih aja ada ortu ngasih nama anaknya jadul abis…..SITI MAEMUNAH…..nah loe….
Munah membanting tasnya ke kasur. Sepatu dan kaos kakinya dilempar di pojok kamar. Rambutnya yang tergerai sebahu sampe berantakan.
Nyak Onah yang tahu anaknya ngambek langsung beringsut mendekati Munah.
“Loe nape Mun…..kayak orang gile….anak perempuan pulang bukannye salam ame cium tangan Nyak, malah ngamuk. Kesambet setan dimane loe.?”. munah masih terus manyun.
“He…ditanya Nyak diem aje…Loe nape…? Ade yang jahatin loe….??”
“Nggak..!!”
“Trus nape..???”
“Munah sebel….sebel….pokoknya Munah sebel…!!!!”.
“Sebel nape ? Cerite ame Nyak…..”
“Nape sih….nama aye MAEMUNAH...”
“Lho…apenye yang salah…??. Eh Loe tahu…babe loe ampe kagak tidur due ari
due malem gare-gare mikirin name ape yang pas buat loe…”
“Ya ampun Nyak….Kan bisa Agnes Monika, Bunga Citra Lestari…Sherina…Melinda…ato apa kek…Eh ini SITI MAEMUNAH…kagak ada keren-kerenya dikit…..Munah malu Nyak…. Tiap kali kenalan Munah mesti diketawain. Kata mereka nama Munah tuh kayak jaman baheula, kagak gaul…..”
“O…jadi loe nyalahin Nyak Babe…??”
“Pokoknya aye malu punya nama Maemunah….mending Munah mati aje…”
“Ye….loe kira enak mati…Dikubur loe bakal ditanye ape amal loe, sholat loe, kelakuan loe. Trus kalo kagak bener bakal dibakar di nerake. Loe mau …?!!”. Nyak marah-marah.
Munah merinding. Ngeri juga denger omongan Nyak. Apalagi kalo inget kadang-kadang Munah suka bolong-bolong sholat, terutama sholat shubuh yang suka kebablasan jam 7 pagi.
“Makenye kalo ngomong dipikir dulu…”
“Iya…ya…tapi mulai besok Munah kagak mau pake tas ama sepatu itu lagi……”
“Nape lagi…itu pan baru dibeliin Babe loe…….”
“Pokoknya kagak mau…!! Munah malu…Itu pan belinya di pasar tanah abang, kagak ada mereknya………”
“Nyak heran….kok loe jadi kagak ade syukur-syukurnye gitu sekarang……
Eh….bisa makan ame sekolah aje kite mesti bersyukur…jangan macem-macem…apelagi sekolah loe itu sekolah favorit, sekolah mahal. Kalo Loe kagak serius, minta yang aneh-aneh, mending besok loe kagak usah sekolah….. noh…sono bantuin Babe loe jualan jengkol ame sayur di pasar….!!” Nyak marah-marah, lalu meninggalkan Munah yang masih manyun. Munah makin cemberut. Dihempaskannya tubuhnya ke kasur yang udah keras karena nggak dijemur bernimggu-minggu.

@@@@@@@


Jarum jam di tangan Munah udah nunjuk di angka 06.10, tapi Munah belum juga dapat angkot. Munah terus menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Kepulan asap dari knalpot motor dan angkutan begitu kotor membuat udara rasanya tak sehat lagi untuk dihirup, apalagi untuk kota seperti Jakarta dengan tingkat polusi yang amat tinggi.

5 menit kemudian, hap…! Munah langsung melangkahkan kakinya ke angkot, begitu angkot yang dinantinya datang. Baginilah nasib anak pas-pasan, ke sekolah musti rela berhimpitan dengan puluhan orang di dalam angkot. Ada tukang sayur, kuli, dan tak jarang copet yang pura-pura jadi penumpang biar aksinya lancar. Sepanjang perjalanan Munah berdoa semoga hari pertamanya di sekolah nggak ada kejadian malu-maluin.
Apalagi sekolah barunya, SMU Bunga Bangsa terkenal sebagai sekolah anak-anak berduit, alias orang-oarang kaya. Pasti anak-anaknya keren-keren, wangi-wangi, super gaul, dan style nya always up to date.
Dan bener aja, begitu Munah melangkahkan kakinya di halaman sekolah, di sana udah rame kumpulan anak-anak yang lagi nyari kelas baru mereka.
Munah jadi langsung minder, begitu melihat murid-murid baru yang hampir semuanya pegang blackberry.
Setelah rela berjubelan, akhirnya Munah bisa lihat namanya di papan informasi, di deretan nomer 9 dari 30 nama. Batin Munah mulai dag dig dug.
“Tuh kan…namanya keren-keren…Aurellia, Ferdian Saputra, Samuel Hutabarat, Karenina, Rosa Melinda, Victor, Alexa Sanjaya, Gabriel Amanda, Terry Putri, dan urutan 9……SITI MAEMUNAH….”
Reflek Munah menutup matanya kemudian celingukan ke kanan ke kiri, takut ada yang tahu namanya.
Munah berjalan lunglai menuju kelas 1.2 yang berada di pojok sekolah. Terbesit di hatinya mengarang nama keren untuk kenalan.
“Ah…siapa ya…..kalo gue kenalan pake nama Munah, pasti diketawain…………
Ena…Titi…..Nana…..Mae…..ya……..
Mae…..Siti Maemunah, panggilan Mae…..kan keren tuh……kayak Maesilla Mirdad…..ih ngga nyambung…”
Mata Munah…eh Mae berkejap-kejap, senyum manis tersungging di bibirnya, seperti mendapatkan kekuatan baru.

@@@@@@@


Begitu upacara perdana selesai, agenda berikutnya adalah “Tak kenal maka tak sayang”, alias kenalan biar lebih dekat satu sama lain.

Satu persatu anak-anak maju ke depan kelas dan di daulat buat presentasi, ceileee….maksudnya ngenalin diri.
Munah, eh Mae duduk di deretan paling belakang di sebelah cewek berjilbab, namanya Danish. “Tuh…yang pake jilbab aja namanya keren….nah gue…tampang preman, eh…tomboy abis gini namanya Mae…alias Maemunah”. Mae terus bertengkar dengan hatinya.
“Ok guys, please introduce your self with short story about your birthday, family, and maybe your activity in English, Indonesian, or Javanesse. And the first please….”, Miss Aida memberi kesempatan seorang cowok jangkung maju ke depan kelas. Suer…ganteng abis…
“Hey…my name is Ferdyan Saputra. I’m from Riau. I was born at 18 july 1995”
“Hai semua….nama gue Karenina, biasa dipanggil Karen. Lahir 2 januari 1995. asli Jakarta. Pekerjaan ortu, bokap direktur sebuah bank swasta di Bandung, nyokap ngurus butik di deket rumah. Hobby renang, hang out bareng temen-temen and modeling, karena gue ikutan model dari SMP. Pengalaman berkesan, gue pernah jadi wakil Indonesia di Uzbekistan, jadi duta batik and juara 1”
Mae geleng-geleng kepala. Dari 1 sampe 10 orang yang kenalan hampir semuanya berprestasi dan ortunya pasti orang sukses. Dengan menghimpun seluruh kekuatan, Mae terus menyemangati dirinya biar nggak minder. Namanya emang kampungan, norak, tapi jangan nanya soal prestasi. Sejak SD munah pasti rangking 1di kelasnya.
“Eh…giliran loe…”. Mae menyikut Danish yang nggak sadar udah gilirannya maju.
Danish maju ke depan dengan pede. Mae ngerasa cuma Danish yang penampilannya biasa aja, tapi tetap cantik dengan jilbabnya.
“Hey…my name is Danisha Wibisono, but you can call me Danish. I was born in Malang, 10 april 1995. I live in Pondok Indah, Jakarta. My hobby is photography ……”
Danish menyudahi perkenalannya begitu sudah tidak ada lagi pertanyaan. And now………giliran Mae yang maju. Tiba-tiba kakinya gemeteran, rasanya mau pipis di celana. Tapi Danish tersenyum dan terus ngasih semangat.
“Hai…ayo maju….pede aja lagi……”
“Bismillah….”
Mae maju ke depan.
“Pagi semua……kenalin gue anak Betawi. Encang, encing, engkong gue juga asli Betawi. Gue biasa dipanggil Mae……..”
Tiba-tiba ada yang nyeletuk, ”Mae siapa….? Maemunah….ha…ha…ha…”. seisi ruangan tertawa terbahak-bahak kecuali Danish yang terus ngasih semangat dengan ngacungin 2 jempol. Miss Aida kebetulan lagi keluar waktu itu. Karena ngerasa diketawain, Mae sekalian aja ngelucu, padahal hatinya pengen nagis.
“Ye…pan gue belum cerita. Panggilan gue Mae…alias Siti Maemunah. Itu asli nama Betawi. Nyak babe gue kerjanye jualan sayur di pasar. Gue anak satu-satunya…pengalaman berkesan…pernah kagak bisa pipis sehari semalem gara-gara kebanyakan makan jengkol…..”
“Huuu….”
Usai Mae kenalan, bel istirahat berbunyi. Mak plong……..Mae udah laper pengen ke kantin.
“Ke kantin yuk……laper nih……” Danish nyikut tangan munah.
“Yuk…”
Mae bersyukur ada Danish. Kalo nggak ada, wah…...pasti kayak monyet kehabisan pisang, alias sendirian nggak punya temen, Mae bicara dalam hati.
“Busyet dah…..kantinnya bersih bener…luas and wuih…..ada fried chicken, burger, steak, mie ayam, bakso, es krim, semua dengan outlet sendiri-sendiri…….bayar dulu baru makan….”
Mae ngitung kira-kira uangnya cukup nggak buat jajan. Tengsin kan kalo sampe kurang.
“Pesen apa Mae….?”
“Eh…oh…eh….loe apa ?”
“Aku burger aja sama minum…”
“Ya udah sama deh….”
“Berapa mbak…..?”
“10 ribu….”
“Ha……!!”
mata Mae mendelik.
“Mahal amat…….” Batin Mae dalam hati.
Padahal nyak tadi cuma ngasih 13.000. yang 3.000 buat ongkos, 10.000 jajan… lha ntar pulangnya gimana …?”
“Kamu kenapa…?
“Kagak…..kagak napa-napa. Eh ya…..loe manggilnya kagak usah kamu aku dong….biar lebih akrab gitu……”
“Ye….aku kan bukan orang Betawi non… nggak bias loe gue….”
“Oh iya….lupa…..loe asli Jawa ya….”
“He eh…eh bentar ya…ada sms….?
Danish ngeluarin blackberry nya.
“Eh…nomer hape kamu berapa, biar aku save……”
“E….anu….e……”
“Kenapa……?”
“E….hape gue ketinggalan……..”
“Masak nomer sendiri nggak hafal….”
“Anu….e…itu…..nomernye baru aja ganti, jadi kagak hapal…..besaok aja ya….”
“Ok….”
“Aduh….nape jadi bo’ong….” Hati Mae protes.

@@@@@@@


“Assalamu ‘alaikum……………..”

“Wa alaikum salam……………….”
Mae ngeloyor langsung masuk kamar.
“Eh….kutu kupret…..loe nape lagi…..dateng-dateng cemberut gitu….loe nyak sekolahin biar jadi orang pinter, hormat orang tua, bukannye malah berani ama orang tua…… lagian ini udah jam berape….loe ngelayap kemane aje….? Hari gini baru pulang…”
“Aduh Nyak…..volumenya dikecilin dikit napa ? aye capek Nyak……..”
“Eh….kurang ajar nih anak ye…..loe cuma sekolah aja bilang capek….gimane ame Nyak Babe yang siang malem kerja biar bisa bayar sekolah loe…….”
“Ah….pusing ngomong ama Nyak…. kagak ada bener-benernya….”
Mae marah-marah terus ngeloyor masuk ke kamar. Dibiarin Nyak yang masih marah-marah karena dia pulang telat. Di kamar Mae nangis sejadi-jadinya. Rasanya komplit sudah penderitaannya.

@@@@@@@


Mae melongo, setiap kali Evan lewat kelasnya atau sekedar papasan di perpustakaan.

Sumpah…..makhluk satu ini, dari ujung rambut sampe ujung kaki bener-bener bikin Mae ngiler kalo lihat. Anaknya pinter, gaul, populer di sekolah dan temennya bejibun. Jangan tanya soal penggemar. Cowok yang doyan banget basket itu ternyata juga jago taekwondo. Wuih…..apa nggak pada klepek-klepek tuh cewek-cewek.
Setiap kali Mae mikirin tuh cowok tiba-tiba kepala Mae jadi pusing tujuh keliling. Tapi Mae sadar banget, dia bukan tipe cewek yang disukai Evan alias bagai pungguk merindukan bulan….jauh kalee…….
“Kagak apa-apa deh….jadi penggemar gelap udah lebih dari cukup buat Mae…”
Begitu hati Mae selalu ngasih semangat. Tapi terus-terusan ngempet perasaan rasanya Mae enek jua. Cape !!.
Otak Mae terus diputar, nyari cara gimana caranya Evan ngerti perasaannya. Sampai suatu hari saat Mae memilih ekskul taekwondo. Secara….jarang kan cewek tertarik sama ekskul satu itu. Apalagi di sekolah Mae, hampir semua cewek pada monomer-satukan penampilan.
Hari itu Mae bertemu dengan Evan saat latihan.
“Oh my god……”. Serasa bumi berputar. Rasanya tiba-tiba kaki dan tubuh Mae lemes.
Ih…..bener-bener lebay……..!!
Mae diwawancarai sang pelatih tentang prestasi Mae waktu SMP. Sang pelatih manggut-manggut waktu tahu ternyata Mae sudah sabuk hitam. Mata Mae berbinar-binar saat Evan ngajak kenalan dan ngobrol santai.
“Ni dia kesempatan gue…..” batin Mae.

@@@@@@@

Obrolan ringan itu membuat Mae semangat latihan. Bagai charge saat hape low batt
Tapi …..o la la……… mata Mae membelalak seraya menguceknya berkali-kali, berharap adegan di depan matanya adalah mimpi.
Fristy, si ratu cheerleader yang macan alias manis, cantik, putih, mulus, de el el…nyamperin Evan.
Fuih…mereka mesra gitu…jangan-jangan mereka udah pacaran.
Hm……kalo kayak gini Mae jadi mati gaya. Pupus sudah harapan Mae untuk dekat dengan Evan, ucap Mae dalam hati.

@@@@@@@


“Brak……..!!!”

Mae mambanting tas di kursi, nafasnya tak teratur, giginya gemeretak. Danish cuma senyum manis ngelihat tingkah sahabatnya.
“Ye….pagi-pagi udah ngamuk, napa emang ?”
“Gue sebel……..”
“Kenapa ?”
“Tuh si Fristy…..ternyata dia tuh gebetan si Evan…….”
“Trus kenapa kamu yang marah-marah ?”
“Ya elah…loe kagak ngerti juga. Itu artinya kesempatan gue buat jadi pacar Evan udah ketutup….”
“Hm….ya udah…lupain aja….”
“Enak aja loe bilang…..mana bisa gue ngelupain Evan……secara dia itu cinta pertama gue…..kata orang, first love is never dies….”
“Ya udah….kalo gitu met jadi pemimpi cinta. Siap-siap aja…semua bakal berantakan kalo loe cuma fokus sama urusan itu……”
“Ih…kok loe kagak dukung gue sih… jahat loe…..”
“Mae….banyak hal yang mesti kta pikirin dalam hidup kita, ketimbang cuma fokus sama hal-hal yang nggak penting gitu…”
“Gue heran ama loe…. Sejak kita kenal, kok loe kagak pernah sedikitpun cerita siapa cowok loe, ato loe lagi naksir siapa gitu…..padahal yang laen pada sibuk mau party di man, ngedate ama siapa….
Eh…loe jangan belajar terus dong…. Cepet tua tau…..!!”. Mae jadi marah-marah, Danish cuma nyengir kuda.
“Mae…setiap orang punya visi, misi, cita-cita, dan juga prisnip hidup yag mesti dipegang. Dan kita mesti punya SKLP……”
“Apaan tuh SKLP……….?”
“Skala Prioritas non……..”
“Ih…..omongan loe kayak dosen aja…”
“Sorry Mae…aku emang udah terbiasa hidup teratur dan punya skala prioritas… mungkin karena ortu ku seorang dosen kali ya……cita-citaku pingin jadi dokter spesialis bedah syaraf. So….dari sekarang aku mulai serius agar cita-citaku terwujud. Aku mulai pilih-pilih kegiatan yang penting dan nggak….. termasuk……pacaran….!.
Pacaran nggak ada dalam skala prioritas ku, karena aku takut kalau aku ngurusi itu, aku nggak bisa fokus sama tujuan utamaku…….”
“Jadi ortu loe ngelarang loe pacaran gitu….?”
“Nggak…..”
“So what……….?”
“Papa mamaku nggak ngelarang. Mereka cuma ngasih aku pilihan-pilihan., ngasih penjelasan baik buruk pacaran itu apa...…..aku mau fokus sama cita-citaku,
jodoh itu udah ada yang atur. Kalo emang udah tiba waktunya pasti dia datang juga. So……enjoi aja….”. Danish mengerdipkan matanya seraya memamerkan ggi putih dengan senyumnya.
“Hm…..salut gue ama prinsip loe……”
“Sekarang saatnya kamu buat skala prioritas di hidupmu…..kalo emang Evan itu prioritas utama kamu dan kamu yakin betul, so….take it, perjuangkan itu girl….. But if he is not your main priority, leave it please….. emang sih semua pilihan pasti ada enaknya dan nggak enaknya. Tapi yakin deh….Mae pasti bisa….. just take it or leave it…..!”
“Thanks ya masukannyae…..loe emang sobat gue yang paling baik……..”

@@@@@@@


Beberapa hari kemudian Mae kepikiran terus masukannya Danish, “skala prioritas”. Danish emang tipe perfeksionis, tapi buat Mae hidup biarin ngalir aja kayak air. Masa muda kan cuma sekali, nggak akan ada lagi kalo udah tua.

So……kenapa nggak nikmati aja semua prosesnya. Emang sih…..Mae sempet fokus ama sekolah dan nomer duain soal cinta.
But….sejak ada gosip Evan bubaran ama Fristy, Mae jadi sedikit lupa tuh ama skala prioritas yang udah dibuatnya di buku harian. Apalagi saat dengan tiba-tiba Evan ada angin deket-deket ama Mae. Mulai ekskul bareng, makan, sampe dianter pulang.
Danish sempat ngingetin ke Mae kalo ada gelagat Evan yang nggak bener, tapi Mae anggap aja angin lalu. Secara…..udah berbulan-bulan Mae jatuh cinta setengah mati sama cowok itu. Nah…sekarang giliran dia udah ngasih lampu ijo, masak sih di sia-siain.
Sebulan terakhir mendekati ujian semester, Mae makin deket sama Evan. Kemana-mana bareng dia, sampai sering lupa kalo ada janji pergi ato pulang bareng Danish. Bahkan demi Evan, Mae pernah bertengkar sama Danish yang terus ngingetin soal Evan. Mae ngerasa kalo Danish sok tahu, sok pinter, dan sok ngatur-ngatur Mae. Alhasil mereka dieman sampe berhari-hari.
Mae mabuk kepayang, terlena oleh cinta monyet sampe terbengkalai nggak ngurusi tugas-tugas dan PR dari sekolah.
Hingga suatu hari, saat penerimaan raport, Mae terbelalak. Rasa tak percaya akan hasil ulangannya. Sebenernya Mae lebih pintar dari Danish, tapi……
Mata Mae benar-benar tak percaya melihat Danish ada di rangking pertama, sementara dia di urutan 9. jadilah Mae semakin benci Danish, apalagi saat Miss Aida memanggilnya ke kantor. Dia menyayangkan nilai-nilai Mae yang menurun drastis. Padahal diam-diam Miss Aida menjagokan Mae agar tahun depan bisa masuk ke deretan siswa yang ikut pertukaran pelajar ke Australia.
“Mae….ibu harap kamu bisa ngasih alasan ke ibu kenapa tiba-tiba nilai kamu hancur begini. Padahal ibu sempat menjagokan kamu agar tahun depan bisa ikut pertukaran pelajar. Tapi….kamu ngecewain ibu…….
Kalau nilai-nilai kamu begini dan semester depan nggak bisa memperbaiki, I’m sorry….kamu akan kehilangan kesempatan bagus itu…..”, Miss Aida berkata begitu serius.
Mae jadi ngerasa begitu bersalah udah ngecewain harapan Miss Aida yang banyak membantunya. Usai menghadap Miss Aida, Mae berlari ke toilet. Matanya berkaca-kaca menyesali semuanya, saat tiba-tiba Mae mendengar suara cekikikan di luar toilet. Merasa penasaran, Mae mengintip dari dalam, ia merasa mengenali suara itu.
“Ya elah…..apanya yang susah sih…. Evan gitu loh….masak iya gue nggak bisa naklukin anak kampungan gitu…… sebenernya gue tuh ilfil banget tau nggak sih……”
“Ha….ha….ha….ha….”
“Emang kenapa Van…?”
“Abis…tuh cewek asli kampungan…… Masa hari gini nggak punya hape. Mana nggak ngerti diajak ngobrol soal musik….trus…namanya itu loh…. Mae... alias Maemunah………”
“Ha….ha….ha….ha….”
Tiga cowok yang ada di depan toilet itu Evan dan temen-temennya.
Serasa disambar petir di siang bolong. Ternyata apa yang dibilang Danish benar. Evan cowok kurang ajar.
Ternyata dia deketin Mae gara-gara taruhan sama temen-temennya, dan Evan sebenernya masih pacaran sama Fristy. Gosip itu sengaja dihembuskan ke Mae, agar Mae percaya aja kalo Evan emang udah ngejomblo.
Mae mengepalkan tangannya. Kalo aja nggak inget ini di sekolah udah Mae habisin tiga cowok sok ganteng itu.
Tapi sumpah !! hari itu Mae bener-bener dapat pelajaran baru, bahwa Mae nggak boleh percaya gitu aja sama orang.
Mae coba nguatin hatinya. Ditariknya napas panjang. Begitu susana sepi, Mae keluar toilet. Satu-satunya orang yang dicarinya adalah Danish.
“Oh my god…….gue udah ngelukai hati Danish, gue udah kagak percaya omongan Danish…….”. Mae terus menyalahkan diri sendiri karena udah nyakiti sahabat terbaiknya, Danish.
Tapi Mae tak menemukan sosok manis itu. Kata temen-temen usai menerima raport, saat ijin ke toilet ada yang lihat Danish pingsan dan dibawa ke UKS. Raport memang harus diambil orang tua, tapi berhubung orangtua Danish sedang dalam perjalanan dari luar kota, maka dia minta dispensasi ambil sendiri, sementara raport Mae dimabil oleh babenya.
Mae mencari Danish di UKS. Di sana Danish terbaring lemas di atas tempat tidur. Ada oksigen di hidungnya.
Tanpa pikir panjang Mae memeluk tubuh Danish. Beberapa temen yang di sana terlihat sedih.
“Danish kenapa ? kenapa dia sampe pingsan ?” Mae bertanya pada doketr jaga tapi cuma gelengan kepala yang ia dapat.
“Saya belum bisa memastikan kenapa Danish tiba-tiba pingsan. Kemungkinan dia sesak nafas.”
“Dok, kami udah menghubungi ortu Danish. Katanya Danish lebih baik dibawa ke rumah sakit aja……. Mereka akan segera menyusul……”
Seorang penjaga UKS bicara. Mae semakin penasaran. Tanpa pikir panjang, setelah minta ijin babenya yang masih rapat wali murid, Mae ikut nganter Danish ke rumah sakit. Mae terus berdoa semoga Danish nggak apa-apa.
Sesampai di rumah sakit, orang tua Danish sudah menunggu. Danish langsung masuk UGD dan ditangani dokter. 30 menit kemudian seorang dokter keluar.
“Maaf Bu…Pak….”
“Kenapa dok…..Danish baik-baik aja kan ?”, mama Danish tak sbar.
“Kami sudah berusaha tapi…..Alloh berkehendak lain……Danish tidak bisa kami selamatkan……”
“Apa……??!!! Danish …..Danish…..” mama Danish histeris, kemudian pingsan tak sadarkan diri. Mae langsung berlari ke dalam menemui Danish yang sudah terbujur kaku.
Mae tak dapat berkata apa-apa, selain memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
“Nish…..Danish…..bangun Nish……ini gue….Mae…..” Mae meledak tak dapat menahan tangis. Teman-teman dan orang tua Danish berdiri memaku, menatap wajah ayu itu.
“Maafin gue Danish…..maafin gue karena kagak percaya omongan loe…. Jangan ninggalin gue…..bangun Danish…bangun………”

@@@@@@@


Di pusara yang masih merah, Mae tergugu, memeluk nisan yang bertuliskan Danisha Wibisono, sahabat terbaiknya. Para pentakziyah sudah pulang, kecuali Mae dan kedua orang tua Danish.

Mama Danish mengelus rambut Mae, kemudian memeluknya erat.
“Tante tahu kamu sangat kehilangan Danish Mae….. Danish banyak cerita soal kamu…..dia bilang sangat sayang kamu…….”
“Iya tante……Danish adalah sahabat terbaik buat Mae….tapi kenapa dia pergi begitu cepat tante…?”
“Sabar ya Mae…..mungkin ini yang terbaik buat Danish….”
“Tapi sebenernya Danish sakit apa tante…? Kenapa dia kagak pernah cerita ?”
“Sebenernya Danish sakit leukemia Mae…. Sejak kelas dua SMP dia sering ngeluh sakit kepala hebat. Bahkan pernah sampe di jedot-jedotin ke tembok karena terlalu sakit. Setelah diperiksa ternyata dia kena leukemia.
Tadinya Danish anak yang manja, nggak mau kalau diatur ini-itu, tapi entahlah…. Justru setelah divonis leukemia, dia tiba-tiba menjadi pribadi yang amat tegar. Kami sampai tak kuasa menahan tangis malihat semua perubahan Danish. Danish minta didatangkan guru ngaji, banyak belajar agama. Seakan-akan dia tahu kalau umrnya tak lama lagi. Bahkan saat rambutnya mulai rontok karena kemotherapy, Danish memutuskan memakai jilbab. Dia amat semangat belajar hingga larut malam. Cita-citanya satu, ingin jadi dokter spesialis bedah syaraf. Semua buku tentang kedokteran terus dibaca Danish…”.
Mae perlahan melepas pelukan mama Danish.
“Tante…Mae janji, mulai detik ini…Mae akan terus belajar. Mae akan wujudkan cita-cita Danish…..demi Danish…….”
“Apa Mae…? Kamu serius…..?!”. Mata mama Danish berkaca-kaca mendengar ucapan Mae.
“Iya tante…..walaupun Mae anak orang nggak punya…tapi Mae yakin…Mae bisa sekolah di kedokteran seperti keinginan Danish………”
“Nggak usah kuatir Mae…..Danish anak kami satu-satunya….semua akan kami lakukan demi cita-cita Danish……
Mulai hari ini jinkan kami menjadi orangtua Mae juga…..kami akan bantu Mae sampai cita-cita Mae terwujud……asalkan Mae bersungguh-sungguh…”.
“Ya om…..semua omongan Danish emang bener……selama ini Mae terlalu sibuk mikirin yang nggak penting, terlalu besar-besarin masalah sepele, dan nggak punya SKLP………”
“SKLP….? Apaan Mae…?” mama papa Danish saling berpandangan.
“Skala Prioritas…..itu istilah dari Danish…”
“O……..”
“Iya…mulai hari ini Mae benar-benar harus mikirin skala prioritas biar hidup Mae teratur dan nggak lagi buang-buang waktu mikirin hal-hal yang nggak penting….”, ucap Mae penuh semangat.
Tiba-tiba angin semilir berhembus, menggoyang pohon-pohon yang ada di taman pemakaman. Dari tempat yang tak begitu jauh, Mae seperti melihat wajah Danish berdiri tersenyum dan kemudian pergi.
“istirahat yag tenang sobat……we always love you…….”, ucap Mae semangat seraya menaburkan bunga ke pusara Danish…

THE END