Aku dan FLP
Oleh: Winas Nazula
Aku lahir dan tumbuh
di lingkungan keluarga yang baik. Orang tuaku menutup telinga dan mataku dari
kata-kata yang kasar. Aku justru baru tahu ada beberapa kosakata yang tidak
pantas diucapkan setelah masuk ke dalam lingkungan sekolah. Ada beberapa teman
satu kelas yang entah dari mana mendapatkan kata-kata yang terasa kasar ketika
ku dengar. Seperti bahasa Jawa karma plesetan maupun isi kebun binatang yang
digunakan untuk mengumpat.
Alhamdulillah, Allah Subhanahu
wa ta’ala masih menjagaku. Sampai sekarang aku masih tidak menyukai adanya
‘kosa kata tidak pantas’ untuk dibaca maupun didengar. Oleh karena itu, aku
menjadi orang yang cukup pemilih untuk masalah bacaan.
Aku menyadari bahwa
pandangan merupakan salah satu pintu masuknya informasi dan membaca adalah
jalannya. Hal-hal yang aku baca biasanya secara tidak langsung terekam dalam
ingatan dan mempengaruhi pola pikir serta tindakan yang aku ambil. Maka dari
itu bacaan yang bagus (meski tidak best
seller) sering aku pilih. Salah satunya aku dapatkan dari karya teman-teman
di FLP.


