• Serah Terima Amanah

    Serah Terima Amanah dari Syah Azis Perangin Angin (Ketua FLP Semarang 2011 - 2014) kepada Muh. Hafidz Nabawi (Ketua FLP Semarang Periode 2014 - 2016). Semoga dapat membawa FLP Semarang menjadi lebih baik. Amin...

  • Pelantikan Pengurus Wilayah FLP Jateng di Semarang

    Pelantikan Pengurus FLP Wilayah jawa tengah di SDIT Cahaya Bangsa Semarang. Semoga amanah ya... Amin..

  • Open Recruitmen Anggota FLP SMG

    Berpose setelah selesai mengikuti Rekrutmen Anggota Baru FLP Semarang... Ayo, Tunjukkan Orange-Mu.. Menanti karya Flpers Semarang... Semoga makin produktif... Amiin..

Thursday, November 1, 2012

AKU DAN FLP- Mimpi Besar

Berawal dari sebuah coretan tak berarti dari seorang anak berumur 10 tahun. Tak ada yang berarti dalam tulisannya, hanya sebatas untaian kata tak bermakna. Ia gambarkan apa yang ia lihat, ia ukirkan apa yang ia rasakan. Hingga ketika ia berumur 15 tahun, setumpuk buku sebagai  cerita perjalanan hidup, menjadi koleksi indah di rak bukunya. Ia ialah sebuah bintang yang memiliki mimpi, mimpi menjadi seorang penoreh sejarah, atau sekedar inspirator cerita penuh makna, hingga siapa yang masuk dalam lembah mimpinya, mampu berimajinasi dalam dunia khayalan. Bukan sekedar khayalan kosong. Namun sebuah khayalan yang juga mampu membawa  mereka menggapai sebuah keinginan besar.
Namun segalanya seakan hilang, kala ia telah disibukkan oleh berbagai ujian hidup, ujian ketabahan, ujian keimanan. Selama 2 tahun ia menjadi sebuah boneka, yang dipermainkan oleh berbagai tuntutan, persaingan untuk menjadi yang terbaik dalam dunia eksak. Hingga akhirnya ia mampu kembali membuka album mimpinya sebagai pengukir cerita.
Dan kini ia bangkit untuk kembali menemukan seberkas cahaya bintang yang sempat meredup, terpaut pada kefanaan semata bukanlah akhir yang baik baginya. Kini ia telah memulai dalam perjalanan panjang. Sebuah perjalanan yang penuh liku dan duri. Ia memilih untuk berkumpul dengan para pengukir cerita yang lain. Di mana mimpi-mimpi itu akan semakin tumbuh berkembang, terbingkis ayu pada paket kemenangan sejati.
Sempat ia berfikir, bahwa ia akan gagal. Banyak pasukan lebih lihai di luar sana. Di mana mereka tak akan membiarkannya untuk menggapai puncak cahaya mimpinya. Menghalangi ia untuk menemukan permata yang pernah hilang.
Langkahnya semakin pasti hari itu, hanya berbekal kekuatan tekad. Bersama beberapa rekan penoreh mimpi. Jalan yang ia tempuh, seakan menjadi simfoni pengiring petualangannya. Berbagai lukisan alam di sekitar, seakan menciptakan sebuah melodi yang harmoni. Sungguh sebuah suasana yang didambakan. Tenang, damai, dan sejuk. Ia telah sampai di tempat tujuan. Sebuah bangunan yang tak begitu besar, di samping berdiri sebuah mushola mini, dan di hias beberapa gubuk gantung tanpa dinding. Orang sering menyebutnya sebagai sayung.
Satu hari satu malam, takkan pernah ia lupakan. Bersama mereka sesama pemimpi, menggapai ilmu yang sekian lama ia nantikan. Satu tahun yang lalu ia gagal di acara yang sama karena sebuah tuntutan besar yang harus ia selesaikan, akhirnya tahun ini ia mendapat kesempatan yang ditunggu-tunggu. Ia pernah berfikir, akankah ini semua mimpi? Namun ia segera sadar, bahwa ini adalah sebuah kenyataan di mana ia berada di sebuah wadah tempat impian-impian para pembuat cerita mengespresikan kemampuannya.
Meski lukisan dari sebuah pena tak berhenti semalaman karena tugas yang diemban, namun semangat mereka tak pupus untuk senantiasa masuk dalam imajinasi. Terbang untuk menangkap sebuah ilusi, dalam genggaman para calon inspirator umat.
Inilah wadah sesungguhnya bagi mereka. Awal perjalanan panjang para pembangun peradaban bumi Tuhan. Sebuah wadah yang mampu mengantarkan mereka menjemput impian. Inilah FLP (Forum Lingkar Pena). Sebuah forum sebagai wadah pembangunan dan pencipta agent of change peradaban.
Dan kini ia kembali bangkit untuk menggapai mimpi besar “sebagai inspirator umat”, yang terukir dalam sebuah goresan tinta sang penulis. 


BIOGRAFI
Patiya Azzahra...nama pena dari Fatikhah Mei Asmi, seorang mahasiswi semester 4 di Fakultas Ilmu Keperawatan Unissula. Ia lahir di lereng gunung sindoro, tepatnya di Kabupaten Wonosobo. Lahir sebagai anak pertama dari 2 bersaudara. Dalam  setiap langkah menggapai sebuah mimpi panjang, memiliki mimpi untuk masuk perkumpulan para inspirator lain, di mana aspek yang dilihat bukan hanya segi duniawi, namun juga segi ukhrowi. Ia terinspirasi dari seorang saudara sepupu yang memiliki mimpi yang sama. Di matanya kini, saudaranya itu adalah sosok luar biasa. Ia mendapat informasi berharga tentang FLP dari saudaranya itu, karena saudaranya adalah salah satu pengurus aktif di sana. Terakhir yang ingin ia sampaikan adalah terima kasih untuk semua pihak yang menginspirasi. Meski ia belum bisa menghasilkan sebuah karya besar yang bermakna, namun mimpi itu amat besar dan harapan semoga impiannya senantiasa mendapat ridho dari yang kuasa. Amiin.

AKU DAN FLP



Oleh: Aminatur Rohmah

            Pertama kali aku mengetahui nama FLP adalah dari akun jejaring sosial facebook. Aku melihat dari facebook seseorang teman. Awalnya aku belum kepikiran untuk bergabung atau sekedar menanyakan seluk beluk tentang FLP. Setelah ada seseoarang senior ku di suatu organisasi kampus memberitahu tentang acara Writing Super Camp II. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Tiba-tiba aku menjadi tertarik untuk ikut. Kemudian informasi lebih lanjut datang seiring dengan berjalannya waktu dan aku tak perlu menunggu lama. Mengikuti WSC II adalah awal dari pengalamanku tentang FLP. Aku semakin yakin untuk bergabung dengan FLP karena orangtua ku mendukung. Mereka tahu kalau aku memang suka menulis dan membaca.
Sudah sejak dulu aku suka dunia menulis dan membaca. Hanya saja baru semangat saat sekarang. Aku kadang kepikiran, aku ini menurun kebiasaanya siapa sehingga suka sekali membaca dan menulis. Dari latar belakang keluargaku tidak ada yang begitu antusiasnya untuk membaca, bahkan menulis. Aku sempat memutar otak karena rasa penasaranku. Sehingga aku cukup sedikit tahu. Sejak SMP, aku sudah senang membaca tapi belum se-antusias sekarang. Selain membaca aku pun juga suka menulis, tapi pada saat itu baru menulis buku harian yang menjadi hobiku. Tapi kini aku menyadari. Dengan seringnya aku menulis buku harian atau juga bisa dikatakan aku curhat kepada buku. Aku jadi terlatih untuk menuangkan isi pikiran kedalam bentuk tulisan. Bisa dikatakan itulah awal dari aku menjadi suka menulis.
Setiap aku curhat kepada buku harianku, hati terasa lebih plong. Sehingga hobi itu semakin lama manjadi suatu kebutuhan. Ketika tidak ada yang mengerti, buku harianku lah yang selalu ada saat ku butuhkan untuk tempat berbagi. Aku mulai membuat cerpen saat lulus SMK. Namun itu hanya sekedar coba-coba dan hasil karyaku masih belepotan. Karena belum mau serius, aku jarang mempunyai keinginan untuk membuat cerpen lagi.
 Dengan seiring berjalannya waktu, jumlah buku yang aku baca semakin bertambah. Tidak hanya buku seperti novel, tapi aku pun juga sering baca cerpen sejak dulu. Dari sering menulis diary dan membaca itulah keinginan untuk menjadi penulis sedikit demi sedikit tercipta. Sebelumnya tidak ada yang mengajariku menjadi seorang penulis. Awal membuat cerpen aku hanya mencontoh cerpen-cerpen yang pernah ku baca, tapi tetap aku berimajinasi sendiri. Entah karena beruntung atau mendapat petunjuk dari Tuhan, aku bertemu dengan seseorang yang juga suka menulis di kampus. Berkat beliau, aku jadi lebih tahu tentang menulis. Beliau juga memberi jawaban hebat atas pertanyaanku tentang bagaimana memulai untuk menjadi seorang penulis. Dengan menghayati jawaban itu, semangatlah aku untuk menulis dan ingin sekali berkarya.
Tidak hanya tentang menulis yang aku dapatkan dari seseorang yang baik itu, tapi seperti yang sudah aku katakan di paragraf pertama. Aku juga mengenal FLP. Bagiku itu bagus. Kebetulan aku suka kalau dapat pengalaman baru, teman baru, ilmu baru, kesibukan baru. Apalagi kalau itu mengenai dunia menulis. Mungkin memang banyak yang belum aku ketahui tentang FLP, tapi Insya Alloh aku bisa berusaha untuk mempelajarinya lebih dalam.
Aku punya beberapa impian. Dan salah satunya adalah menjadi seorang penulis. Seperti identitas dari FLP, menulis untuk mencerahkan. Aku pun juga ingin menjadi penulis yang dapat memberikan cahaya dan menginspirasi orang lain. Ingin sekali membuat orang lain juga suka menulis. Karena di lingkungan sekitarku sedikit sekali yang suka menulis. Dan terkadang aku berpikir, kenapa tidak ada yang ingin mencoba untuk menjadi penulis.
Ketika aku ingin mempromosikan acara FLP ke teman-teman, pasti sebelumnya aku bertanya pada suka nulis atau tidak. Dan sebagian jawaban yang aku dapat adalah tidak. Entah apa alasannya, aku sedikit kecewa. Aku ingin sekali teman-temanku yang setiap hari ku temui ingin mencoba untuk menulis. Sekarang, aku belum bisa menginspirasi orang lain. Namun suatu saat nanti, pasti! .
Oiya, dari mengikuti acara WSC II aku jadi tahu arti dari melihat gelas setengah penuh dan setengah kosong. Ternyata melihat setengah penuh artinya optimis, dan setengah kosong adalah pesimis. Aku bersyukur sekarang sudah tahu. Aku kemudian berprinsip bahwa aku memilih menjadi orang yang melihat setengah penuh. Menjadi orang yang optimis.. optimis untuk menjadi seorang penulis yang menginspirasi, optimis dapat menambah pengetahuan dengan mengikuti FLP.
FLP, Forum Lingkar Pena. Yang ku ketahui maksudnya adalah forum untuknya yang suka dunia menulis. Telah memberi ku pelajaran berharga dari acara yang di selenggarakan. Aku semakin sadar, semakin semangat, optimis, dan yakin untuk meneruskan keinginan menjadi penulis. Terima kasih dengan pengetahuan-pengetahuan hebatnya. Harapanku kelak FLP dapat lebih super lagi. Dan kemudian lebih banyak lagi pribadi-pribadi yang antusias untuk menulis. Moving up untuk FLP.
 


BIOGRAFI

Aminatur Rohmah lahir di Purwodadi, tanggal 1 Mei 1992. Lahir dari keluarga yang baik dan pengertian. Sekarang masih aktif kuliah di Universitas Stikubank Semarang, jurusan Ekonomi Manajeman ’10. Suka menulis karena bagi cewek ini, tak jarang menulis dapat menghilangkan stres. Dengan mulai menulis, yang tadinya down hanya butuh waktu beberapa detik... kata down sudah mengganti diri dengan up..
Mengenal FLP dari seorang senior di suatu organisasi kampus. Dan sekarang jadi lebih tahu mengenai menjadi seorang penulis. Di sela-sela waktu kuliah, Rohmah menghabiskan waktu dengan membaca novel, membaca cerpen di suatu blog, online, posting sesuatu di blog sendiri, belajar^^ , dan tentu saja menulis.. tidak hanya menulis cerpen atau puisi, tapi juga menulis buku harian yang telah menjadi bagian dari hari-hariku.
Pesan Rohmah untuk pembaca: setiap pribadi adalah jiwa istimewa. Mempunyai ciri khas sendiri untuk berkarya. Jadi... jangan hanya moving on, tapi lebihkan dengan moving up^^.

Idul Qurban 1423 H



by Arif Mahrus

Gema takbir telah berkumandang membahana di setiap penjuru angin yang kudengar di sekitar desaku, semalam setelah ikut Takbiran di musholla sampai jam 22:30 WIB, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku ingin menghemat tenaga soalnya besok pagi mau ada kegiatan bareng temen-temen ORSPEK (Organisasi Pemuda Kampek). Sudah setahun ORSPEK berdiri, sejak didirikan bulan Juni setahun yang lalu, kini ORSPEK sudah mulai menggeliat untuk bangkit dan mengadakan kegiatan lagi.
Setiap hati raya Idul Adha tiba, momen untuk menyaksikan kegiatan penyembelihan kurban sangat berarti bagiku dan temen-temenku. Sejak kecil kami selalu menikmati saat-saat untuk memotong daging kurban, membagikannya, sisanya kami buat sate bersama-sama
Namun, kebahagiaan itu sirna sudah setelah pengurus BAZIS di Masjid desa kami membuat peraturan agar semua Hewan Kurban di bawa ke Masjid untuk disembelih di Masjid, baru setelah itu dibagikan secara merata ke warga di desaku. Memang baik juga keputusan ini, mengingat pembagian daging kurban dimungkinkan dapat merata. Tapi, bagi kami ini memberikan rasa hampa dan kesedihan tersendiri jika Idul Adha tiba.
Kami kehilangan saat-saat memotong daging kurban untuk dibagikan ke warga, kami kehilangan saat-saat membantu Pak Kiai untuk menyembelih hewan kurban, kami kehilangan saat-saat menegangkan ketika hewan kurban akan disembelih, kami kehilangan saat-saat menikmati sate bersama, kami kehilangan detik-detik yang ramai di mushola kami sewaktu Idul Adha tiba. Kini, ketika Idul Adha tiba, semua itu diserahkan pada tukang jagal hewan yang telah ditunjuk oleh pengurus masjid dan juga para orang tua yang sudah ditunjuk oleh masjid juga. Hanya ada sebuah rutinitas yang terjadi di mushola yakni malamnya Takbiran, paginya shalat Idul Adha bersama, setelah shalat Idul Adha kami pulang ke rumah masing-masing sambil menunggu dibagikannya hewan kurban. Paling-paling yang kami lakukan di rumah masing-masing juga menonton TV soalnya tidak ada hal menarik yang bisa dilakukan.
Akan tetapi tahun ini aku dan teman-temanku tidak ingin terjebak dalam rutinitas itu. dua hari yang lalu saat mengadakan rapat pramusaji yang akan dilakukan pada hari sabtu (5 November 2011), kami memutuskan untuk mengadakan kegiatan jalan-jalan bersama. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mempererat ikatan kebersamaan di antara anggota ORSPEK dan juga melepas kejenuhan ketika hari raya Idul Adha tiba.
Pagi ini terlihat matahari masih terlalu malu untuk menampakkan sinarnya. Mungkin ia tidak mau membuat orang-orang merasa kepanasan pada hari Idul Adha dimana orang-orang akan sibuk untuk memotong daging kurban yang dilakukan di lapangan atau halaman masjid. Walau suhu terasa dingin, buatku ini merupakan saat yang menyegarkan, soalnya dinginnya udara pagi menunjukkan bahwa kandungan Oksigen cukup banyak dan ini baik sekali bagi kesehatan. Setelah aku selesai shalat subuh kemudian mandi, lalu berwudlu maka aku pun menuju ke mushola untuk mengikuti shalat Ied bersama. Setelah selesai shalat, aku dan temen-temenku makan bareng di nampan yang sudah dipersiapkan orang-orang sejak pagi. Tak lupa, sebelum makan kami berdoa bersama dahulu. Aku kebetulan makan bareng Budi dan Dedi. Kami bertiga mendapat satu nampan nasi kuning dengan lauk tahu dan tempe. Kami tidak kuat menghabiskan seluruh nasi dalam nampan itu. Mungkin karena tubuh kami yang kurus sehingga tidak bisa menghabiskan nasi dalam porsi banyak. Sejujurnya memang seharusnya satu nampan itu jatahnya dimakan oleh enam orang. Tapi berhubung banyak yang membawa nasi, sehingga tiap satu nampan hanya dimakan oleh tiga orang saja.
Selesai shalat Ied, aku menata bekal yang akan kubawa selama perjalanan nanti. Payung, jaket, plastik, air minum, dan roti aku masukkan ke dalam tasku. Aku masih tetap memakai baju muslin yang kugunakan untuk shalat Ied di musholla tadi. Aku hanya mengganti sarung yang kupakai dengan celana agar lebih mudah digunakan untuk berjalan dalam jarak yang jauh. Kalau menggunakan celana tidak memperlihatkan kondisi yang terlalu formal kayak mau jama’ah di masjid aja. Tepat pukul 07:30 WIB, aku menuju rumah kak Saikul. Kami memutuskan untuk kumpul di rumah kak Saikul di gang 8, kemudian kami akan naik bis bersama-sama. Kukira sih semua yang ikut akan naik bis, tetapi rupanya kak Saikul takut naik bis bareng, soalnya dia mabuk kalau naik bis. Akhirnya dia memutuskan untuk membawa motor sendiri. Aku sudah mencoba membujuk dia untuk naik bis bareng temen-temen. Namun tidak mempan juga, yah mungkin aku kurang pandai merayu kali….
Setelah semua yang ikut naik bis, kami pun berangkat menuju kota Kudus. Tujuan pertama kami adalah pergi ke makam Sunan Kudus. Setelah selesai berziarah, tak lupa kami mengabadikan momen dengan berfoto ria di depan Menara Kudus. Setiap angel foto telah kami coba, unsur yang coba kami tonjolkan adalah ketika mengambil gambar diusahakan Menara ikut juga terfoto.
Setelah selesai ziarah ke makam Sunan Kudus, kami pun melajutkan perjalan menuju ke Muria. Tujuan berikutnya adalah ziarah ke makam Sunan Muria. Selama perjalanan kulihat langit masih juga terlihat mendung. Tak apalah, walaupun masih mendung namun semangat kami tak boleh luluh. Setelah satu jam perjalanan akhirnya kami pun sampai juga di pintu masuk ke makam Sunan Muria.
Kami melangkah dengan mantap menapaki tangga satu persatu yang akan membawa kami pada makam Sunan Muria. Setelah melalui kurang lebih sekitar dua puluh anak tangga, rupanya sebagian besar temen-temenku napasnya terangah-engah dan merasa capek. Di sepanjang perjalanan mereka selalu berhenti beberapa menit untuk mengumpulkan tenaga kembali. Karena kemampuan dan daya tahan fisik tiap orang memang berbeda. Rombongan kami pun terpencar menjadi ada rombongan. Pertama adalah rombongan yang ada di depan. Kedua, rombongan yang ada di belakang. Ketika sampai di masjid dekat makam Sunan Muria, kami beristirahat di teras masjid sembari menunggu datangnya kumandang adzan dzuhur. Maklumlah, jam sudah menunjukkan pukul 11:05 WIB, jadi bentar lagi pasti akan adzan dzuhur. Kami membagi roti pada setiap anggota yang ikut perjalanan, tak lupa kami juga membagi minuman pada tiap anggota.
Setelah selesai nyemil dan ngobrol, sebagian temen-temenku ada yang pada tiduran di teras masjid, namun sebagian lagi masih tetap asik mengobrol sambil menunggu adzan. Aku pun ikut ngobrol, walaupun aku sudah agak mengantuk, namun aku lebih memutuskan untuk ikut duduk dan mendengarku temen-temenku ngobrol. Bagiku momen untuk bisa kumpul bersama, mengadakan kegiatan bersama seperti ini tidak bisa terjadi setiap hari ataupun sebulan sekali terjadi. Sebagian temenku udah ada yang kerja, sebagian lagi masih ada yang sekolah di SMA dan SMP. Jadi, momen bisa kumpul dan jalan-jalan bersama begitu berharga dan harus dinikmati setiap momen yang terjadi.
Setelah shalat dzuhur berjama’ah, kami pun pergi ziarah ke makam Sunan Muria. Setelah  selesai berziarah, sebagian ada yang membeli oleh-oleh dan cendera mata, sebagian ada yang makan, sebagian ada yang bersamaku langsung memutuskan untuk balik ke bis dan pulang. Yah, karena uang yang kumiliki sedikit dan tidak cukup untuk membeli oleh-oleh, aku lebih memilih untuk pulang saja. Ketika kami sedang menuruni anak tangga tiba-tiba terjadi hujan yang cukup deras. Rombongan kami pun akhirnya terbagi cukup banyak.
Kami pun sampai di bis dalam waktu yang gak bersamaan, karena menunggu rombongan yang masih berteduh dan menunggu hujan reda. Setelah semua komplit, kami pun pulang deh. Begitulah kegiatan idul adha yang kulakukan hari ini. Memang gak terlalu spesial sih. Namun, rasa kebersamaan dan mengadakan kegiatan bersama-temenku selalu terasa begitu menyenangkan, membawa kembali semangat untuk menggapai hari esok yang lebih baik, menciptakan momen dan kenangan tersendiri dalam babak kehidupanku. Karena ada satu hal yang kusadari, setiap detik yang pernah kulalui hari ini belum tentu besok dapat kuulangi lagi, bersama orang yang sama, dan dalam rasa yang sama. Itulah kenapa, selama perjalanan kami senang sekali berfoto, karena lewat foto itulah segala kenangan dan babak kehidupan yang berlalu dapat diputar kembali dalam ingatan kita.

METODE SEGITIGA SMART, ASYIKNYA MENGGAMBAR DAN MENULIS CERITA

Karya Syaamil


BY : MUTHI’ MASFU’AH - FLP Kids Bontang

Catatan :
Para mentor dikumpulkan dan berlatih bersama dahulu. Mentor bisa, murid juga bisaaa…

Bahan Mengajar :
1. Papan tulis dan spidol untuk mentor mengajarkan tahapan menggambar
2. Alat gambar : pensil dan stip untuk murid
3. Kertas gambar untuk menulis cerita dan menggambar murid
4. Crayon 12/24 warna

Output :
1. Dipamerkan di mading sekolah / mading ruang FLP Kids.
2. Dibacakan ceritanya di Radio daerah.
3. Dikirimkan ke media koran daerah.
4. Dibukukan jika memang layak.

Plan Pertemuan:
Minggu 1/2      :
Mengajarkan tahapan menggambar METODE SEGITIGA SMART  dengan beberapa jenis gambar
Mengajak murid-murid menggambar tema INDAHNYA BERSAHABAT (atau bisa yang lain) dengan menggambar terlebih dahulu orangnya (dengan metode gambar segitiga) bisa 3 orang/lebih. Lalu melanjutkan ceritanya.

Minggu 3/4      :
Melanjutkan mewarnai gambar dan membacakan karya anggota FLP Kids.

Plan Pertemuan ini bisa diulang 2 bulan, tiap bulan diapresiasi/output karya dihargai.
Tema cerita bisa bermacam-macam tiap bulannya.
1.  Indahnya persahabatan
2. Berkelahi itu merugikan
3. Ke masjid

SELAMAT MENCOBA YA... INI COCOK UNTUK TK DAN SD,

METODE CORAK DAN RINTIK TITIK


BY : MUTHI’ MASFU’AH- FLP KIDS BONTANG
 
Catatan :
Para mentor dikumpulkan dan berlatih bersama dahulu

Bahan Mengajar :
1. Print contoh ornamen Metode Corak Muthi/dislide via LCD
2. Papan tulis dan spidol untuk mentor
3. Spidol snowmen / conector pen 12/24 warna
4. Gambar yang siap diwarnai dengan Metode Corak.
5. Kertas gambar untuk menulis cerita dan menggambar

Output :
1. Dipamerkan di mading sekolah / mading ruang FLP Kids.
2. Dibacakan ceritanya di Radio daerah.
3. Dikirimkan ke media koran daerah.
4. Dibukukan jika memang layak.

Plan Pertemuan:
Minggu 1/2    :
Mengajarkan membuat ornamen sendiri/lihat contoh (metode corak Muthi)
Mewarnai dengan metode corak dan rintik titik (siapkan gambar   untuk diwarnai dengan metode corak)
Minggu 3/4    :
Menuliskan cerita dengan tema pilihan dan menggambarkan                           ceritanya serta diwarnai dengan metode corak

Plan Pertemuan ini bisa diulang 2-3 bulan, tiap bulan diapresiasi/output karya dihargai.
Tema cerita, tokoh bisa binatang, buah, sembako, bintang-bulan dilangit, dll :
1. Budi pekerti
2. Kejujuran
3. Sabar dan Syukur
4. Pertemanan, dll

SELAMAT MENCOBA YA... INI COCOK UNTUK TK DAN SD,

T06/11/2011

Monday, July 30, 2012

Undangan Bedah Buku "Asmara di Atas Haram"

Aslkm Wr. Wb. Yuk! Ikutan dalam Relaunching & Bedah Buku (Novel) "ASMARA DI ATAS HARAM", pada hari Jumat, 03 Agustus 2012 pukul 15.00-17.30 Wib d GRAMEDIA PANDANARAN (Simp. Lima) bers. DIAN NAFI (Pimred De Magz / Owner Hasfa Publishing) & Zainul Adzvar (Pemerhati Sastra, Dosen Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang). Persembahan dari Forum Lingkar Pena (FLP) Semarang. Didukung oleh: Penerbit Erlangga, & Toko Buku Gramedia. Free Snack Ta'jil Lho! Pareng...
Pamflet Acara
 

Catatan Mengantar Buku Ke Kota Wali


Oleh: Syah Azis Prangin

Jalan-jalan ke Demak, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Wali memang terkadang menghasilkan 1001 kenangan. Demikian juga yang aku alami hari Ahad, 29 Agustus 2012 bersama teman-teman dari Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Semarang. Di mana saya bersama Roh Agung, Wawan Setiawan, dan Silvia DPS berangkat ke Kota Demak mengantar buku ”Asmara di Atas Haram” kepada Mb Dian Nafi. Beliau merupakan salah satu pembicara bedah buku yang insya Allah akan diselenggarakan oleh FLP Semarang pada hari Jumat, tanggal 03 Agustus 2012 di Gramedia Pandanaran Semarang pukul 15.00 – 17.30 Wib.

Setelah rapat persiapan di Taman Budaya Raden Saleh kami berempat langsung meluncur ke Demak Kota Wali tersebut dengan menggunakan kendaraan bermotor, tepatnya sekitar pukul 10.00 Wib. Karena jalan ke Demak cukup baik dan tidak macat, maka dapat menikmati perjalanan ke TKP. Meski agak panas ditambah keadaan kami yang sedang menjalankan puasa jadi kami hanya memacu kendaraan dengan kecepatan normal sekitar 50 – 60 km/jam.