• Serah Terima Amanah

    Serah Terima Amanah dari Syah Azis Perangin Angin (Ketua FLP Semarang 2011 - 2014) kepada Muh. Hafidz Nabawi (Ketua FLP Semarang Periode 2014 - 2016). Semoga dapat membawa FLP Semarang menjadi lebih baik. Amin...

  • Pelantikan Pengurus Wilayah FLP Jateng di Semarang

    Pelantikan Pengurus FLP Wilayah jawa tengah di SDIT Cahaya Bangsa Semarang. Semoga amanah ya... Amin..

  • Open Recruitmen Anggota FLP SMG

    Berpose setelah selesai mengikuti Rekrutmen Anggota Baru FLP Semarang... Ayo, Tunjukkan Orange-Mu.. Menanti karya Flpers Semarang... Semoga makin produktif... Amiin..

Monday, September 26, 2011

Karakter Dasar Penulis FLP


“Untuk tiap-tiap umat Kami berikan aturan (syari’at) dan jalan yang terang (minhaj). sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu.” (QS Al-Maidah: 48)

Forum Lingkar Pena merupakan sebuah organisasi kepenulisan yang berlandaskan Islam. Bukan bermaksud mengkotak-kotakkan sebuah karya dari para penulis di FLP. Forum ini terbentuk karena kegelisahan para pakar sastra untuk menyediakan suatu bacaan yang segar serta mencerahkan. Tujuannya tidak lain untuk membentuk peradaban yang senantiasa menjalankan aktivitas dalam konteks ibadah. Bukankah manusia memang diciptakan untuk beribadah semata?
Di sini tidak akan dikupas mengenai sekuralisme yang menjadi salah satu penyakit umat. Alangkah lebih baik ketika persepsi dibangun dari dalam. Penguatan yang dibentuk dengan mengenal Islam lebih dalam, agar tidak ada umat Islam yang menjadi duri di dalam daging nantinya.
Ajaran Islam merupakan ajaran yang sempurna, lengkap dan universal yang terangkum dalam 3 hal pokok; Akidah, Syari’at dan Akhlak. Artinya seluruh ajaran Islam bermuara pada tiga hal ini.
Akidah adalah hal-hal asasi dan mendasar dalam Islam yang berkenaan dengan keyakinan yang terletak di hati, namun ia tidak seperti yan dipahami oleh non muslim di Barat. Di Barat, akidah atau keimanan hanyalah hal-hal yan berhubungan dengan pembenaran (tashdiq) dan yang dirasakan (syu’ur), artinya hati memainkan peran besar di sana. Berbeda dengan akidah yang dipahami di dalam Islam, karena akidah dalam Islam, di samping berkaitan dengan pembenaran hati, ia juga harus di iringi dengan dalil atau sesuatu yang dapat membuktikan apa yang dibenarkan oleh hati itu dan di saat yang sama ia juga harus sesuai dengan realita. Berarti disini bukan peran hati saja yang bermain, tapi juga ada peran otak. Dengan adanya peran dua hal ini (hati dan otak) akan terciptalah keseimbangan, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:
Dan demikianlah Kami jadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan (adil/seimbang)…”(Al-Baqarah:143)
Syari’at merupakan ajaran Islam yang berhubungan dengan perbuatan dan tindak-tanduk manusia. Secara garis besar syari’at menghimpun urusan-urusan ritual ibadah dan semua pola hubungan manusia baik itu dengan dirinya sendiri, sesama maupun lingkungannya.
Sedang Akhlak adalah sifat manusia (baik ataupun buruk) yang akan muncul pengaruhnya dalam kehidupannya. Dalam prakteknya akhlak bisa dikatakan buah atau hasil dari akidah yang kuat dan syari’at yang benar, dan itulah tujuan akhir dari ajaran Islam ini, sebagaimana sabda Rasul SAW: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”.
Karena sumber agama adalah Allah SWT, maka untuk menjelaskan itu semua diutuslah para nabi dan rasul. Semua rasul tersebut diajarkan melalui wahyu-Nya tentang aqidah yang bernar, yang tidak pernah berubah sepanjang sejarah meskipun berganti rasul dan nabi yang diutus-Nya. Hal inilah yang dimaksudkan Allah SWT dalam firmannya QS: Asy-Syura ayat 13,
“Dia Telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…”
Artinya, secara akidah risalah para rasul dan nabi tidak ada perbedaan, apa yang diturunkan kepada Nabi Nuh a.s, Ibrahim a.s, Musa a.s, Isa a.s dan nabi-nabi lainnya tidak berbeda dengan apa yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW dari sisi akidah, yaitu keyakinan dan iman kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan Pencipta dan Pengatur segala. Inilah dia dasar agama samawi yang sesungguhnya dan dengan inilah umat manusia sejak zaman Nabi Adam a.s sampai akhir zaman mesti bersatu…
“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya..!”
Sedangkan yang berhubungan dengan syari’at, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan amal, perbuatan dan perilaku manusia, disinilah letak sebagian besar  perbedaan antara agama-agama samawi, karena setiap umat dan rasul memiliki syari’at dan kondisi yang berbeda-beda sebagaimana firman Allah:
“untuk tiap-tiap umat Kami berikan aturan (syari’at) dan jalan yang terang (minhaj). sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu.” (QS Al-Maidah: 48)
Demikianlah Allah menjadikan syari’at tiap umat berbeda, sesuai dengan kondisi dan tabiat masing-masing. Ssyari’at yang berbeda-beda itu terus berkembang dan berubah sampai menemui titik puncak kesempurnaannya pada syari’at Islam, yang selamanya bisa berlaku dan sesuai dengan perkembangan dan perbedaan tabiat manusia sampai akhir zaman, karena syari’at Islam adalah syari’at yang mudah dipelajari dan menjadikan kemaslahatan umat manusia sebagai salah satu asasnya.
Dengan demikian syari’at dapat menerima pergantian, perubahan dan penghapusan, seperti syari’at Nabi Musa a.s yang dihapus dan diganti dengan datangnya syari’at Nabi Isa a.s, namun lain halnya dengan akidah, ia sebaliknya tidak bisa berganti danberubah karena ia adalah sesuatu yang asasi dan titik temu antar generasi umat manusia.
Sedang masalah moralitas dan akhlak (etika) juga sebagai sisi penting yang memberikan keseimbangan bagi seorang muslim sejati.
Sebagai buah dari syari’at dan akidah yang baik,  menjadikan akhlak dalam Islam menyentuh semua lini, mulai dari lini hubungan manusia dengan dirinya, dengan sesama manusia, dengan lingkungan bahkan hubungan manusia dengan Tuhannya. Semuanya mestilah mendapatkan percikan nilai-nilai akhlak dan moralitas.
Dan bisa dikatakan juga akidah seseorang tidak sempurna jika tidak dibarengi dengan akhlak, seperti akhlak kepada Allah, Rasul-Nya dan sebagainya dalam hal akidah, bagaimana mungkin seseorang bisa dikatakan berislam dengan baik jika ia menghina Tuhannya sendiri, mengejek dan menyematkan icon-icon yang menjatuhkan kemuliaan Rasulnya?.
Demikian juga syari’at, mesti juga diiringi dengan akhlak dan moral, tidak perlu mengambil contoh jauh, shalat saja terang-terangan salah satu tujuannya adalah untuk menghindarkan manusia dari sifat keji dan mungkar yang sekaligus menjelaskan sisi moralitas dari ibadah dalam Islam,
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”. (QS. Al-Ankabut: 45).
Dalam Islam juga diajarkan agar untuk mencapai sebuah kebaikan itu juga harus melalui jalan yang baik, artinya ada larangan menempuh jalan-jalan bathil untuk sebuah kebaikan, inilah dia konsep etika dan moralitas Islam. Contoh kongkrit lainnya, coba kita perhatikan banyak kita yang selama ini menyerukan anti KKN namun dalam kenyataan ikut menyuburkan praktek KKN itu sendiri, perhatikanlah di kepanitian-kepanitian yang kita bentuk di kalangan mahasiswa? Berapa banyak yang bertindak sebagai aktor-aktor korupsi junior? Betapa sebagian kepanitian itu selalu berfikir untuk menghabiskan dana yang didapat pada akhir kepanitiaan dengan mengadakan rihlah/jalan-jalan dan tasyakuran yang semuanya terselubung dalam istilsah LPJ? Atau juga dari masa mahasiswa kita sudah diajarkan saling sikut untuk memperebutkan kursi? Dimana letak nilai-nilai etika dan moral agen reformasi? Maka tidak heran jika reformasi tersendat-sendat.
Jadi demikianlah universalitas dan jalan kesempurnaan yang diajarkan Islam, yaitu jalan yang menyeimbangkan antara Akidah, Syari’at dan Akhlak. Dalam dunia menulis, akidah dapat diumpamakan sebagai tema karya, syariat merupakan aturan penulisan/kerangka cerita, sementara akhlak sebagai cerita itu sendiri.
Seorang penulis boleh berharap tulisannya dapat member pencerahan ketika dia telah menuliskan hal-hal sesuai dengan hatinya. Selain itu, tulisan yang sesuai dengan kenyataan lebih member penguatan pada tulisan itu sendiri. Banyak kisah-kisah inspirasi yang selalu diburu karena amalan nyatalah yang bisa membuka mata hati pembaca.
“Jadilah Penulis yang Berakhlaqul Karimah untuk Menginspirasi Pembaca”

Sumber:
AD/ART Forum Lingkar Pena
http://ragab304.wordpress.com/2007/05/10/islam-akidah-syariah-dan-akhlak/


SELAYANG PANDANG FORUM LINGKAR PENA CABANG SEMARANG


“Tidaklah seseorang dapat berjalan secara terarah jika tidak memiliki panduan”
(lala di batas maya)

Memasuki Forum Lingkar Pena merupakan hal yang gampang-gampang susah untuk dilakukan. Karena memutuskan untuk bergabung dalam forum penulis ini berarti berani berkomitmen untuk menjalani aktivitas menulis secara kontinyu. Tidak sembarang jenis tulisann bisa dipublikasikan di sini. Ada beberapa aturan yang mengikat para penulisnya. Namun, kebebasan berkreasi tetaplah dijunjung tinggi.
Mengenal latar belakang FLP
Forum Lingkar Pena diprakarsai oleh Helvy Tiana Rosa, Muthmainah , Asma Nadia serta bebrapa mahasiswa sastra Universitas Indonesia. Setelah diskusi mengenai minat baca remaja yang cenderung meningkat, mereka pun menyimpulkan bahwa masyrakat membutuhkan bacaan bermutu untuk dikonsumsi. Maka tanggal 22 Februari 1997 pun terbentuk Forum Lingkar Pena. Helvy Tiana Rosa terpilih menjadi ketua umum.
Di cabang Semarang sendiri, Forum Lingkar Pena kali pertama dibentuk oleh Afifah Afra dari zona Tembalang. Tepatnya 22 Februari 1999. Kepengurusan selanjutnya masih dipimpin dari zona Tembalang, yaitu Rias Nurdiana. Setelah geliat sastra tampak subur di zona Gunung Pati, panji FLP Cabang Semarang pun mampir di FLP Ranting Gunung Pati oleh Wahyu Saputra.
FLP Cabang Semarang terdiri atas empat ranting, yaitu Tembalang, Pleburan, Ngaliyan, dan Gunung Pati. Pemecahan wilayah ini disebabkan kondisi geografis di wilayah semarang yang berupa perbukitan sedikit menghambat pengumpulan anggota. Keterbatasan lain yang dihadapi akhirnya membawa pada keputusan untuk membagi pengurus cabang ke dalam empat pengurus ranting. Meskipun demikian, alur kerjanya tetap dalam pantauan FLP Cabang Semarang.
Mengenal Visi dan Misi di Balik Logo FLP
Forum Lingkar Pena ini berlambangkan huruf capital F, L, dan P. Di bawah huruf F dan L, tertulis kepanjangan FLP (Forum Lingkar Pena dan di bawah huruf FLP tertulis Cabang Semarang). Huruf F berwarna biru. Huruf L berwarna putih berbentuk buku yang terbuka dengan bulatan merah di atas kanan, dan dapat juga dilihat seperti mata pena. Huruf P berwarna biru dengan posisi kaki lebih panjang daripada huruf F dan L, dengan lekukan yang menjorok ke arah bulatan merah huruf L sehingga bentuknya bisa dilihat seperti orang sedang ruku’ atau orang membaca buku.
Makna logo tersebut adalah sebagai berikut:
Huruf “F” melambangkan keterbukaan bagi siapa pun untuk bergabung dalam aktivitas membaca dan menulis. Huruf “L” yang seperti lembaran buku terbuka dengan bulatan merah di atasnya dan menyerupai orang yang sedang membaca, melambangkan aktivitas membaca yang tak pernah henti. Huruf “L” juga melambangkan mata pena, yakni aktivitas menulis. Huruf “P”, bersama dengan huruf ”L” menyerupai orang yang sedang menjenguk buku, melambangkan orang yang tak henti membaca sambil terus menegakkan penanya. Ini berarti bahwa aktivitas membaca dan menulis tak pernah terpisahkan. Melambangkan juga orang yang sedang ruku’ yang bermakna selalu mengagungkan Allah dalam setiap guratan penanya.
Sementara dari warna logo dapat diketahui  makna sebagai berikut:
a. Biru berarti universalitas .
b. Putih berarti aspiratif dan konsistensi.
c. Merah berarti pencerahan.
Dari pemaknaan terhadap logo tersebut, visi FLP disimpulkan. Forum Lingkar Pena bertujuan menjadi sebuah organisasi yang memberikan pencerahan melalui tulisan. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilaksanakan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Meningkatkan mutu dan produktivitas karya anggota sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat.
b. Membangun jaringan penulis yang menghasilkan karya-karya berkualitas dan mencerdaskan.
c. Meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat.
d. Mengupayakan penerbitan hasil karya anggotanya.
Secara lebih mendalam, Forum Lingkar Pena menjalankan 3 fungsi utama sebagai sebuah organisasi Penulis. Fungsi pertama, pembinaan. Pembinaan ini diberikan kepada anggota FLP dalam bentuk Kelas Menulis. Pembentukan jaringan sebagai fungsi kedua bertujuan untuk membuka wawasan dari para  pengurus maupun anggota agar mengenal dunia lain di luar zona aman mereka. Sementara fungsi distribusi dimaksudkan untuk membantu para penulis FLP memasukkan karyanya ke penerbit-penerbit sesuai genre karya yang dibuat.
Kepengurusan di FLP Cabang Semarang sendiri tidak jauh berbeda dengan FLP di daerah lain. Kepengurusan inti terdiri atas MPP/Dewan Penasihat, Ketua Cabang, Departemen HRD/PSDM, Departemen SS/Pengembangan Jaringan, dan Departemen Karya. Di beberapa ranting yang ada, penyusutan departemen disesuaikan dengan SDM dan kebutuhan di ranting masing-masing.
Setelah mengenal seluk beluk Forum Lingkar Pena, khususnya FLP Cabang Semarang, peserta Kelas Menulis dapat mulai merancang karya seperti apa yang sesuai dengan visi FLP. Dengan demikian peserta dan tutor dapat belajar untuk saling mengkritisi karya yang dibuat agar dapat memberikan nafas baru pada pembacanya.
Ingat selalu kunci menjadi penulis sukses. Menulis, kemudian menulis, dan dilanjutkan dengan menulis. Terus gali ide dari lingkungan terdekat. Hal yang paling menyentuh bukan hal luar biasa yang jauh dari jangkauan pembaca, melainkan kondisi yang paling dekat dengan dirinya. Banyak hal yang sama namun dialami oleh orang-orang yang berbeda. Misalnya Bahagia.
Semua siswa bahagia ketika memperoleh nilai yang bagus. Semua karyawan bahagia ketika ada kenaikan gaji. Dan semua penulis bahagia ketika bisa menulis.
Yuk menulis!

Forum  Lingkar Pena, Berbakti, Berkarya, dan Berarti!”






Ketua FLP Cab. Semarang 2010