Pagi ini adalah jadwal syuting hari pertama Noe dan
teman-teman dengan lokasi di sepanjang jalan Malioboro. Rencananya
mereka mulai take gambar jam 8 pagi sampai malam. Semua sudah
dipersiapkan dengan matang oleh crew dan selanjutnya tinggal menunggu
kebaikan sang mentari apakah mau berpihak pada mereka. Karena pasti
syuting akan batal bila cuaca tak lagi bersahabat.
Mereka mulai dari area banteng van der berg di sebelah selatan. Noe memimpin doa sebelum mereka memulai aktifitas syuting.
“Oke teman-teman, kita berdoa dulu semoga syuting kita hari ini diberi
kelancaran dan tidak ada kendala apapun sampai selesai, berdoa mulai….”
Noe dan teman-teman membentuk lingkaran kecil, menundukkan kepala sejenak berdoa memohon kelancaran nuntuk semuanya.
“Berdoa selesai…. Oke, semua ambil posisi dan kerjakan tugas
masing-masing….hari ini kita ketambahan personel 5, kemarin ada
anak-anak semester tiga yang mau bantu-bantu crew. So, ini berita bagus
buat kita karena tim kita semakin banyak. Mereka akan bantu kita sampe
sore….”
Noe kemudian mengenalkan nama-nama anak semester tiga yang siap bantu mereka.
Setelah semua siap pada posisi masing-masing, Icha menyerahkan story
board ke Abee. Si Wiro seagai pencatat adegan mnuliskan nomor take
“ Oke….semua siap, take satu…..action….”
Teriak Icha sang sutradara. Mereka akan mengambil gambar Benteng Van
der berg dan suasana lalu lalang di jalan Malioboro. Noe Nampak amat
serius dengan pekerjaannya, dan Alhamdulillah cuaca sangat bagus hari
ini sehingga mereka tak harus take berulang-ulang.
Waktu break syuting dan Noe masih dengan kameranya , tiba-tiba ada
sepasang cowok-cewek berseragam SMU lewat dekat lokasi syuting. Mereka
tertawa cekikikan, bahkan dengan entengnya mereka berpelukan dan tanpa
malu-malu terjadilah adegan ciuman. Fuih…. Semua terekam dalam kamera
Noe. Noe kegirangan mendapat gambar langka dan benar-benar natural
sampai berteriak “Keren…..”
Merasa penasaran yang lain langsung mendekat ke Noe.
“ Apa Noe….”
Abee penasaran
[“Nih lihat…. Keren banget…. Natural…. Diluar script. Ini bener –bener yang namanya gambar mahal “
Noe begitu semangat. Icha marah marah.
“Noe… kamu nggak boleh seenaknya gitu dong…. Ini diluar script, kamu lihat kan itu nggak ada di story board….”
“ Ya ampun Cha…. Ini gambar mahal….”
“Nggak bisa…ini kerja tim… jangan seenaknya gitu…”
“Icha cantik…. Ini gambar bener-bener tanpa rekayasa, ini justru akan
memperkuat cerita betapa emang udah banyak moral yang bobrok ,
buktinya tadi ada anak SMU dengan entengnya berciuman di tempat umum…”
“Tapi tetep aja itu di luar script….”
“Tapi…”
“Udah..udah… kalian ini persis Tom and Jerry, ribut.. terus. “ Abee menengahi.
“ Abisnya Noe seenaknya gitu…” Icha membela diri
“Udah…udah… ini kan masih produksi, nanti pas proses editing bisa kita
lihat bareng, nah yang ga penting bisa dibuang… gitu aja kok repot…”.
Abee mencoba menenangkan Icha.
“Tapi aku tetep nggak setuju gambar itu di pake…”
“Udah Cha… sabar… kalem ….”
Meri menepuk-nepuk pundak Icha.
“Kayaknya kalian emang bener-bener jodoh Cha….. buktinya tiap ketemu berantem mulu…”
Winda ikutan komentar.
“Nggak usah dibahas, basi….!”
*********
Hari terakhir syuting
Sebuah jalan sempit di bawah jembatan
Ini adalah hari paling menegangkan buat Noe n friends karena
mereka akan menguntit seorang mahasiswa yang dicurigai sebagai pengedar
narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Sudah seminggu tim Noe
mencari informasi tersebut, dan malam ini ipang yang menyamar menjadi
pembeli sabu-sabu.
Tidak mudah awalnya menghubungi boy karena dia
sangat lihai dan berhati-hati tidak menerima sembarang permintaan.
Diapun menghindari kampus atau tempat umum untuk melakukan transaksi.
Ujung gang sempit dibawah jembatan menjadi salah satu tempat favoitnya
melakukan transaksi. Maklum, disana banyak komunitas anak jalanan yang
sedang nongkrong.
Awalnya ipang menolak permintaan Noe untuk
melakukan penyamaran itu walaupun sebenarnya dia sendiri dulu seorang
pemakai. Tapi mengingat dia lagi butuh uang karena masih hutang sama Boy
dan noe mau membayarnya asal dia bersedia membantu Noe.
“ Noe 30 menit lagi aku nyampai di tempat transaksi …. Kamu dimana?”
Ipang menhubungi Noe.
“ Oke… aku ada di dekat kamu, tenang aja ada banyak kru disana yang juga menyamar. Sudah ada beberapa kamera yang canded… “
“ Tapi bener kan kamu udah hubungi polisi?”
“Kamu tenang aja pang…. Aku udah call polisi, mereka juga lagi
menyamar. Kamu tahu… udah 4 bulan polisi nyari Boy tapi dia lolos
terus…dia itu licin kayak belut… nah, kebetulan kamu malah ngasih
informasi….”
“ bentar-bentar…. Ada sms masuk”
“Oke….’
“Noe… transaksi pindah…. Boy kayaknya curiga deh, dia minta di belakang hotel Ibis…. “
“Aduh gawat nih…. Mana semua kru malam ini dibagi dua lagi… ya udah aku cepet kesana, aku hubungi polisi dulu….”
Noe segera menghubungi Iwel yang juga sedang canded di area sarkem
buat nguntit seorang mahasiswi yang ternyata juga nyambi jadi gadis
panggilan. Dia minta dijemput pelanggannya disana.
“Wel… ruwet…”
“Kenapa?”
“Boy tiba-tiba minta transaksi di pindah di dekat Ibbis, padahal timku
udah siap disini , aku curiga dia udah tahu kalau bakal di jebak”
“Iya ya… dia pinter milih tempat yang gelap, padahal kita ngandalin
canded camera. Kalau cahaya kurang mana bagus gambarnya… coba deh kamu
minta saran winda atau icha….”
“Oke…”
“Gimana cha… ada ide ? kalau kita tetep canded di tempat gelap semua jadi percuma. Gambar pasti jelek “
“Gini aja, nanti uje sama yang lain tetep canded di beberapa titik,
aku sama meri coba minta bantuan penjual gerobak keliling lewat pas
transaksi terjadi, nanti aku pura-pura lewat mau ditabrak dan nyorot
lampu mobil tepat ke arah transaksi, gimana?”
“ Ide bagus…thanks… sekarang aku sama uje langsung meluncur ke Ibbis, kamu sama meri pake motor biar cepet, hati-hati ya…”
“Sipp”
19.14 Wib, Noe dan teman-teman sampai belakang Ibbis. Mereka
langsung menempati posisi masing-masing. Beberapa polisi sudah siap
dengan pakaian premannya. Untung Om Noe ada yang jadi serse, sehingga
memudahkan semuanya.
19.30 Wib, tampak Ipank ke tempat transaksi, 2
menit kemudian muncul sosok yang bernama Boy. Tampangnya benar-benar
modis dan kalem, pasti orang menyangkanya seorang model.
Tampak
mereka berbincang ringan, Boy sepertinya tak tahu kalau dibalik baju
Ipank sudah dilengkapi alat perekam. Dari seberang Noe canded didalam
mobil, dan Disamping penjual angkringan uje juga siap canded.
“Mana hutangmu?”
“Bos… tenang aja, aku minta bedaknya dulu…”
“Enak aja, sebelum hutang kamu bayar jangan harap aku kasih bedaknya…”
“Tapi aku udah butuh banget nih…?”
“Mana dulu uangnya?”
“Bip..bip…bip….’ sebuah mobil menglakson keras karena tiba-tiba ada
perempuan lewat mendadak yang tak lain icha. Momon menyorotkan lampu kea
rah Boy dan ipank. Tampak mereka memandang ke arah icha dan uje.
Kemudian terlihat mengobrol lagi.
“Hei… jalan pakai mata dong mbak…”
“Maaf mas… maaf…”
“Maaf maaf enak aja kalau ngomong”
Icha mengacungkan jempol ke arah momon . Dengan lampu yang tersorot
pasti membuat gambar jauh lebih bagus direkam Noe dari seberang dan uje
dari samping angkringan.
“Nih, 1 juta hutangku 700.000“
Ipank menyerahkan sejumlah uang ke Boy
“ Oke… Ada uang ada barang… “
“Thanks bos…”
“Kamu nggak ngajak orang lain kan?”
“Nggak, aku sendiri aja… “
Tiba-tiba dari arah utara, “Angkat tangan….”
Tiga orang polisi berpakaian prean menangkap Boy . Tampak Boy terus
berusaha berontak walaupun tanganya sudah terborgol, benar saja dia bisa
lolos. Dia menginjak kaki seorang polisi keudian mencoba kabur.
Terjadilah adegan kejar-kejaran dengan polisi. Noe ikut mengejar Boy
dengan terus menenteng kameranya. Sementara Uje coba lari dari arah
berlawanan.
Tidak ada 10 menit akhirnya boy tertangkap setelah
tubuhnya oleng akibat tembakan yang mengenai kakinya. Polisi terpaksa
melepasan satu tembakan ke kaki kanan boy.
“ Pak… saya salah apa …. Kenapa saya ditangkap”
“Sudah bicaranya nanti saja di kantor…”
“Nggak bisa pak… saya harus tahu kesalahan saya….”
“Jangan pura-pura… kami punya banyak bukti bahwa kamu menjadi pengedar narkoba dikalangan pelajar dan mahasiswa”
“Tapi pak… saya ini seorang model… saya orang baik-baik”
“Ikut saja ke kantor…”
Akhirnya boy tertangkap malam itu juga , padaahal sebelumnya tidak
pernah terpikir oleh Noe akan bisa bertemu seorang pengedar narkoba
kelas kakap kalau bukan karena informasi dari ipank, sahabatnya yang
baru pulang dari tempat rehabilitasi akibat ketergantungan obat.
Noe menjabat tangan Ipank dan memeluknya.
“Thanks bro… untuk semuanya”
“Sama-sama…aku senang bisa bantu tugas kuliah kamu, tapi lebih senang
lagi karena akhirnya boy tertangkap… kalau nggak, pasti akan banyak
lagi remaja dan mahasiswa yang terus tergantung pada barang haram itu…”
“Oke… kita temuin yang lain sekarang”
RUANG EDITING
Kampus heboh mendengar kisah Noe Cs saat syuting. Apalagi
sampai menyebabkan pengedar narkoba tertangkap oleh polisi. Nama Noe Cs
pun masuk Koran. Polisi mengucapkan terima kasih atas ide kreatif Noe
Cs.
Maka merekapun banyak mendapat pujian dari pihak kampus termasuk
rector atas apa yang mereka lakukan. Tapi semua belum selesai karena
hari ini Noe Cs harus menyelesaikan bagian akhir dari produksi filmnya,
waktu mereka tinggal 2 hari lagi dan mereka harus menyerahkan halnya
kepanitia festival film indie.
Hampir seharian Noe Cs berada
diruang editing di kampusnya. Mereka harus kerja keras demi sebuah film
yang menjadi tugas kuliah mereka. Ternyata proses editing justru lebih
melelahkan dari proses syuting itu sendiri. Karena mereka harus satu
suara untuk sebuah gambar yang akan dipakai.Dan itu ternyata tidak
mudah,semua punya penilaian sendiri tentang gambar yang bagus dan tidak.
Terutama Noe dan Icha. Mereka perang habis-habisan untuk memertahankan
idealism masing-masing. Ada beberapa adegan yang menurut Noe bagus tapi
tidak untuk icha. Icha mati-matian berjuang agar gambar sepasang pelajar
SMU yang sedang berciuman dihapus.
Akhirnya setelah
mengalami proses editing dan perdebatan yang sangat alot akhirnya gambar
yang diributkan itu tidak jadi dipakai. Noe mengalah agar gambar
itu dibuang, apa lagi alasnnya kalau bukan demi Icha cantik.Noe tak tega
juga melihat muka icha merah padam mempertahankan argument. Tapi kalau
boleh jujur sebenarnya Icha tambah cantik kalau lagi marah-marah.
Sorenya film Sisi Lain Jogjakarta selesai diediting dan diserahkan pada
panitiia festival film indie yang akan ditayangkan seminggu lagi.
Mereka berharap filmnya mendapat apresiasi yang baik dan para juri dan
komentator, karena apapun hasilnya mereka sudah berbuat semaksimal
mungkin dan itulah hasil kerja tim mereka.
MALAM FESTIFAL FILM INDIE
Suasana kampus malam ini lain dari biasanya, hampir semua
mahasiswa broadcasting dan juga para peserta dari kampus-kampus lain
berdatangan. Maklum hari ini Festifal Film Indie dimulai. Ada 25 film
indie yang akan bertarung untuk mendapatkan penghargaan dari juri .
Dan malam ini ada 10 film yang akan diputar, masing-masing berdurasi
10-20 menit.
Noe merapatkan jaketnya untuk mengusir dingin, diatas
Abe sedang siaran live bekerjasama dengan beberapa stasiun radio dalam
festival film indie. Noe masuk ke markas radio paramuda FM, disana sudah
ada beberapa temanya yang menunggu.Tapi matanya mencari-cari seseorang.
“Kok Cuma 7 orang mer…?”
Noe ikutan duduk di sofa.
“Si abee jatah siaran … iwel sama momon udah masuk ke aula, dan icha….Sakit”
Mata Noe membulat mendengar berita meri.
“Sakit… sakit apa?”
“Tadi dia sms minta ijin nggak bisa datang, badanya masuk angin katanya…”
“O… ya udah nunggu apa lagi, kita masuk aula sekarang…”
Noe Cs masuk ke aula kampus yang sudah disulap menjadi bioskop. Banyak sekali mahasiswa yang begitu antusias datang .
Sebentar kemudian seorang Mc memulai acara yang sudah dinanti-nantikan
semuanya. Dari 25 film yang ikut tersaring 10 yang akan ditayangkan
malam ini.
Dan Film sisi lain Jogjakarta ada dideretan nomor lima. Noe sudah tak sabar melihat film-film itu diputar.
Satu persatu film diputar dan dikupas habis oleh juri dan
para komentator, mulai dati penataan ligthing, angle kamera, pengambilan
gambar, orrisionalitas ide, narasi, dan juga kualitas suara untuk jenis
drama.
Noe harus mengakui semuanya bagus-bagus, ada yang mengangkat candi Borobudur, merapi, drama keluarga, dan kehidupan kalicode.
Tapi banyak gambar yang sudah biasa dilihat oleh mata sehingga kurang
memiliki nilai, pun pada film kelompok Ardi. Banyak gambar terlihat
jumping, dan pengambilan gambar yang seharusnya lebih indah bila
memakai long shot, tapi mereka lebih mengandalkan close up-medium close
up sehingga kurang menggambarkan detail seting tempat.
Untuk film
satu kedua dan ketiga Noe masih focus , setelah itu noe sibuk
memikirkan icha yang kata meri sakit. Ingin rasanya noe datang ketempat
icha andai saja bisa. Tapi pasti Ibu Asramanya langsung mengusir Noe
mentah-mentah.
Noe tergagap saat iwel menepuk pundaknya dan terdengar suara riuh tepuk tangan penonton.
“Ye….. yes…yes…yes…. Noe… kita masuk tiga besar…”
Iwel berteriak kegirangan, meri , loli, uje dan yang lain langsung bertepuk tangan kegirangan.
“Noe….” Meri berteriak
“Ah ya icha… icha kenapa?”
“Huuuu… icha mulu yang dipikir, kirain dari tadi kamu nonton nggak tahunya ngelamun.”
Iwel bersungut-sungut.
“Sori… sori….kok pada tepuk tangan…”
“Susah ya ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta…tuh film kita masuk 3
besar… dan bakal diikutkan di festifal film indie di Jakarta minggu
depan..”
Noe melongo nggak percaya, kemudian bertepuk tangan sendiri
membuat kanan kirinya menengok kedia. Kontan wajah noe jadi merah
karena malu.
Ini memang kabar menggembirakan buat mereka, menurut
hasil penjurian film mereka masuk 3 besar dari para juri dan komenn
akan diikutkan ke festival film indie di Jakarta minggu depan. Karuan
bahagianya Noe dan teman-teman. Ini film pertama mereka tapi berkat
semangat dan kerjasama tim, mereka dapat menang.
*************
APA IYA AKU JATUH CINTA ??
Malam begitu dingin saat Noe beringsut mendekati jendela
bermaksud menutupnya. Hujan deras disertai angin kencang datang
tiba-tiba tanpa pertanda mendung sedikitpun. Noe mengambil sweater
hadiah dari mamanya yang tergantung di belakang pintu.Tapi sweater itu
tak mampu mengalahkan dinginnya malam. Padahal sekarang bulan April
alias musim kemarau, tapi sejak isu global warming ramai dibicarakan
cuaca jadi susah diprediksi. Noe menggosok-gosokan kedua telapak
tangannya berharap bisa mengusir dinginnya malam, tapi tetap saja
dingin serasa menusuk tulang. Noe melirik setumpuk paper yang harus
dikerjakannya karena besok jatahnya presentasi mata kuliah teknologi
komunikasi. Ahaa... mungkin secangkir wedang jahe panas bisa sedikit
menghangatkan tubuhnya. Noe segera turun ke bawah membuat secangkir
wedang jahe panas.
Beginilah kalau tinggal sendiri jauh dari ortu,
apa-apa harus sendiri. Sebenarnya berulangkali mamanya minta Noe ikut
mereka dan kuliah diJakarta, tapi Noe selalu menolak. Noe sendiri tak
mengerti kenapa ia enggan meninggalkan Jogja. Ada kekuatan begitu besar
yang membuatnya tak ingin meninggalkan Jogja. Dan Noe tak pernah
mengerti apa itu.
“Hm... ternyata khasiat jahe panas memang terbukti mujarab”
tubuhnya jadi hangat dan bisa melanjutkan pekerjaannya untuk
presentasi besok. Saat Noe mengetik tiba-tiba bayangan wajah Icha
berseliweran di matanya. Noe mencoba mengusirnya dan berkonsentrasi lagi
mengetik, tapi wajah ayu itu? Wajah yang hampir tak pernah dilihatnya
ngobrol ketawa ketiwi dengan teman lelaki seperti pada umumnya. “Ah...
kenapa sih wajah itu terus menganggu...?” Noe menghentikan
pekerjaannya yang belum kelar. Dihempaskan tubuhnya ke tempat tidur,
ditutupnya matanya dengan bantal. Berharap bayangan itu pergi. Tapi
semakin kuat banyangan itu datang. Noe terbanyang-bayang, sosok
berjilbab lebar yang selalu tertutup rapat tubuhnya. Noe heran, padahal
hanya wajah Icha yang kelihatan, itupun minus make up seperti
mahasiswi yang lain. Pake lip stik, eye shadow, blass on, bahkan ada
yang pake maskara segala. Noe sendiri heran dimana menariknya Icha.
Tidak seperti Wina, Iyu, atau Karen yang selalu up to date soal style
baju, gaya rambut dan sepatu. Noe bahkan ingat saat pertama kali bertemu
dan Noe mengulurkan tangan untuk kenalan tapi Icha menolaknya, hanya
salaman ala sunda tanpa bersentuhan sedikitpun. Noe menyedekapkan
tangannya, mencoba menganalisa sosok Icha yang terasa aneh dimatanya,
justru di jaman yang katanya modern, dimana hedonisme dan konsumtifisme
menjadi sifat masyarakat hampir sebagian penduduk bumi ini. Gimana
nggak, budaya pop yang diusung dunia barat mampu merubah selera
masyarakat Indonesia mulai dari food, fashion, film, fun, free style.
Termasuk dirinya yang menjadi korban mode dan iklan televisi.
“ Apa
iya aku jatuh cinta dengan gadis aneh itu?” pertanyaan itu terus
melintas di otak Noe, semakin dicoba untuk di hilangkan tapi semakin
kuat dan terus melintas. Noe berharap perasaan itu hanya ada sesaat
seperti saat ia jatuh cinta dengan pacar-pacarnya dulu. Hanya cinta
sesaat yang paling lama bertahan tak lebih dari 3 bulan. Maka bila
dihitung sejak pertama ia jatuh cinta sudah lebih dari 10 kali dia
pacaran. Dan semua hilang tak berbekas, berbagai tipe perempuan mulai
dari yang sok selebritis, tomboy, ningrat, penyanyi cafe, anak mami
sampai yang sok borju. Tapi rasanya tidak seperti saat ini. Padahal Noe
amat jarang komunikasi dengan Icha kecuali soal kuliah atau tugas,
mereka pun belum pernah ngobrol berdua. tapi pesonanya mampu
menghinoptis Noe.
************