• Serah Terima Amanah

    Serah Terima Amanah dari Syah Azis Perangin Angin (Ketua FLP Semarang 2011 - 2014) kepada Muh. Hafidz Nabawi (Ketua FLP Semarang Periode 2014 - 2016). Semoga dapat membawa FLP Semarang menjadi lebih baik. Amin...

  • Pelantikan Pengurus Wilayah FLP Jateng di Semarang

    Pelantikan Pengurus FLP Wilayah jawa tengah di SDIT Cahaya Bangsa Semarang. Semoga amanah ya... Amin..

  • Open Recruitmen Anggota FLP SMG

    Berpose setelah selesai mengikuti Rekrutmen Anggota Baru FLP Semarang... Ayo, Tunjukkan Orange-Mu.. Menanti karya Flpers Semarang... Semoga makin produktif... Amiin..

Tuesday, May 2, 2017

Profil Ketua FLP Wilayah Jawa Tengah Periode 2017-2019

Rahman Hanifan terlahir pada tanggal 31 Oktober 1981 di lingkungan keluarga sederhana di Magelang. Ia menjalani masa SD sampai SMP di Magelang. Kemudian melanjutkan di SMK N 1 Tempel Yogyakarta. Pada tahun 2000 Surahman lulus dari sekolah tersebut dengan nilai terbaik satu jurusan. Selanjutnya melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Yogyakarta. Karena prestasinya, Rahman Hanifan merampukngkan S1 selama kurang lebih 3 tahun dengan tanpa membayar bea kuliah. Dia mendapat beasiswa Full Study (gratis biaya kuliah).

Rahman Hanifan menikah dengan Nurul Fuadah pada tahun 2007 kemudian pindah domisili ke Pemalang. Saat ini telah dikaruniai tiga putra-putri yang dinamainya dengan cinta, Lavy Shafiyyur Rahman, Mayluf Shafiyyur Rahman, dan Alufa Shafiyyur Rahman. Lavy, Mayluf, Alufa. Love, love, love.

Rahman Hanifan telah bergabung dengan Forum Lingkar Pena sejak tahun 2003. Waktu itu menjadi anggota FLP Wilayah Yogyakarta. Setelah pindah ke Pemalang, Rahman Hanifan dan teman-teman mendirikan FLP Cabang pemalang pada tahu 2007. Dia sempat menggantikan Suprapto sebagai Ketua FLP Cabang Pemalang dan semenjak Februari 2017 lalu menduduki posisi ketua FLP Wilayah Jawa Tengah.

Karir kepenulisan Rahman Hanifan bermula pada tahun 2005. Waktu itu menerbitkan satu buku asyik berjudul Hidup Kaya Rasa Mati Masuk Surga menggunakan nama pena S. Rahman. Masih dengan nama pena yang sama, dua buku berikutnya kemudian terbit. Buku kedua berjudul The Power of Smile, sedang buku ketiga berjudul Kekayaan Hati; Jadikan Hidup anda Lebih Bermakna.

Semenjak tahun 2007 nama pena Rahman Hanifan mulai dia pakai. Pertama kali dia gunakan  dalam buku rasa majalah, Change Now! Jurus Duahsyat Muslim Huebat! yang diterbitkan oleh BookMagz Pro-U Media. Setelah itu dia selalu menggunakan nama pena Rahman Hanifan dalam karya-karyanya. Begitupun dalam akun-akun social media, seperti facebook, twitter, dan instragram, nama itu yang dia gunakan.

Selain menulis, Rahman Hanifan sempat menjadi guru, waka kesiswaan dan kemudian waka kurikulum di SDIT Buah Hati Pemalang. Mulai bulan Juli 2016, Rahman Hanifan pindah ke SMP IT Tsamrotul Fuad Pemalang dan mengemban amanah sebagai guru dan Kepala Tata Usaha.

KARYA TULIS (BUKU) YANG TELAH DITERBITKAN:
Buku Solo
Hidup Kaya Raya Mati Masuk Surga (Arina Publishing, 2005)
The Power Of Smile (Aura, 2005)
Kekayaan Hati; Jadikan Hidup Anda Lebih Bermakna  (Ananda Publishing, 2006)
CHANGE NOW! Jurus Duahsyat Muslim Huebat! (Bookmagz Pro-U Media, 2007)
TRUE FRIEND! Jurus Duahsyat Milih Sahabat! (Qudsi Media, 2008)
MUSLIM TANGGUH (Qudsi Media, 2008)
Journey of Life; Setiap Jejak Adalah Makna (Pustaka Insan Madani,  2009)
UNLIMITED LEARNING (Pustaka Insan Madani, 2009)

Buku Duet degan Istri
Magelang-Pemalang Via Sydney (Lafi Media, 2011)

Buku Antologi bersama
Bercerita Hujan (antologi cerpen bersama) (Lafi Media, 2009)
Menulis, Tradisi Intelektual Muslim (Antologi bersama) (Youth Publisher, 2010)
Sepucuk Surat Untuk Rasulullah (Inzpirazone, 2010)
Put Your Heart into Teaching (Penabur Khikmah 2011)
Buku dalam Liku Hidupku (Imsicx Publishing, 2012)
Ya Allah, Izinkan Kami Menikah (Diva Press, 2017)

Blog yang dikelola Rahman Hanifan:
http://rahmanhanifan.blogspot.com
http://gurupenamenari.blogspot.com
http://kurusmenulisbuku.blogspot.com

Wednesday, April 26, 2017

Menulis Bersama FLP (Tetangga)

*Forum Lingkar Pena (FLP) Solo Raya*

🎞Mempersembahkan🎞

              PELATPULPEN
(Pelatihan Kepenulisan dan Perekrutan)
FLP Solo Raya angkatan ke-11

🖊 *Sehari Menulis Langsung Terbit!*🖊
Bimbingan praktik menulis dengan output buku antologi bersama.

Lingkari Kalendermu, pada:
🗓Ahad, 21 Mei 2017
⏱07.30 - 14.30 WIB
🏛Ruang Seminar, Masjid Nurul Huda UNS

Fasilitas Peserta:
- Goodie bag FLP
- Buku panduan menulis
- Buku praktik menulis
- Sertifikat
- Snack + Makan siang
- Penerbitan buku antologi hasil pelatihan
- Menjadi anggota FLP Solo Raya

*Tiket: Rp 100.000*
_Khusus 75 orang pendaftar pertama hingga *14 Mei 2017*_
_Harga naik setelah tenggat waktu menjadi Rp 125.000_

Pemesanan Tiket:
Azmi 085640464182 (Area UNS)
Zein 08998620895 (Area IAIN)
Khairul 08982050390 (Area UMS)
Opik 087880980311 (Area Solo pusat)
Mu’nisah 085647247537 (Area Karanganyar)
Hida 085732288767 (Area Sukoharjo)
*via WhatsApp

*Catatan: Peserta diharapkan membawa laptop sewaktu mengikuti Pelatpulpen.*

Tuesday, April 25, 2017

Organisasi Literasi FLP (Forum Lingkar Pena) Wilayah Jawa Tengah Adakan Musyawarah Kerja di Solo

Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jawa Tengah, Sabtu-Minggu (22-23/4) adakan kegiatan musyawarah kerja yang bertempat di aula SD IT Taqqiya Rosyida, Kartasura. Kegiatan muswil ini membahas terkait program kerja forum lingkar pena wilayah Jawa Tengah selama dua tahun.

Rahman Hanifan, selaku ketua FLP Jateng terpilih untuk periode 2017/2018 dalam sambutannya mengarahkan jajaran pengurus dan anggota untuk fokus dalam mengembangkan budaya literasi di masing-masing daerah atau cabang. Pengurus dan anggota FLP Jateng juga diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk mencintai budaya membaca buku.

Muskerwil ini dihadiri 10 utusan dari masing-masing cabang. Antara lain: FLP cabang Solo, Semarang, Cilacap, Pemalang, Pekalongan, Tegal, Temanggung, Kebumen, Pati dan  Magelang. Muskerwil Jateng ini juga dihadiri sekjend BPP FLP, Afifah Afra yang memberikan arahan dan motivasi kepada seluruh jajaran pengurus dan anggota flp di seluruh Jawa Tengah. Dalam kegiatan muskerwil ini FLP Ranting IAIN Surakarta dan FLP Cabang Solo menjadi tuan rumah sebagai penyelenggara acara muskerwil.

Agus Yulianto (Humas FLP Jateng)

Sunday, June 12, 2016

Ramadhan Bersama FLP Semarang

Ahad, 12 Juni 2016 bertempat di Toko Buku Toga Mas yang baru, FLP Semarang kembali bekerja sama dengan penerbit Erlangga. Untuk memeriahkan bulan Ramadhan kali ini, digelar acara bedah buku karya Pipiet Senja berjudul "Para Pencari Keadilan ". Novel tersebut merupakan salah satu novel lintas etnis yang tidak biasa dari novel kebanyakan saat ini.
Pipiet Senja seorang penulis yang dikenal sebagai sosok perempuan yang konsisten dengan kesederhanaan, baik dalam kehidupan maupun karya-karyanya. Dapat dilihat dari salah satu novel karyanya, Para Pencari Keadilan. Novel ini menceritakan perjuangan seorang wanita tangguh di tengah maraknya kasus peradilan yang berakhir dengan tidak adil.
Agenda bedah buku tersebut semula akan dihadiri 20-an anggota dan sahabat pena FLP Semarang. Namun, karena satu dan lain hal hingga hampir pukul lima sore hanya memenuhi separuh kuota.
Meskipun demikian, hal ini tidak mengurangi minat audiens dalam menyimak ketua FLP Jawa Tengah, Ali Margosim Chaniago saat membedah novel yang luar biasa tersebut.

Sekilas Sinopsis "Para Pencari Tuhan"

Rumondang Siregar adalah satu-satunya Jaksa di Indonesia blasteran Batak-Tionghoa. Sejak bayi ia dalam pengasuhan keluarga besar ayahnya di kawasan Tapanuli Selatan, sementara kedua orang tuanya mengejar karier di Ibukota. Acapkali ia menerima tindak kekerasan dari neneknya. Beruntunglah ia memiliki seorang kakek yang sangat mengasihinya, sehingga membentuk karakter yang mandiri, dan istiqomah sebagai muslimah tangguh.
Ketika ia berhasil menduduki jabatan Jaksa di daerah, segenap pikiran dan upayanya dipusatkan demi memberantas para koruptor. Sepak-terjangnya ternyata membuat gerah para seniornya, maka ia pun ditarik ke Ibukota. Di sini ternyata ia harus berhadapan dengan situasi yang tak pernah terbayangkan; mulai dari intrik, isu murahan, sampai fitnah yang keji. Serbuan dan tantangan lawan itu bukan saja dari kalangan sejawat, melainkan juga dari keluarga besar ibunya sendiri, etnis Tionghoa.
Bagaimana sepak-terjangnya, saat ia harus berhadapan dengan para sepupu dan pamannya sendiri yang ternyata adalah gembong narkoba? Dan ia pun menjadi korban dalam suatu tragedi pemboman di Mall. Dapatkah ia bangkit dari situasi in-coma yang mengenaskan itu?

--dapatkan jawabannya dalam novel--
Data buku
1. Judul buku : Para Pencari Keadilan
2. Pengarang : Pipiet Senja
3. Penerbit : Emir
4. Tahun terbit     : 2015
5. Tebal : 221 halaman
6. Harga buku : Rp 80.000,-
7. Dimensi buku : 14,5 x 21

Saturday, March 7, 2015

REVALUASI

by Lala di batas maya

hari-hari telah menua
keriput senja tak lagi menawan
rimbun dosa kian membuncah
adakah jeda untuk sekedar hela?

titian menit tanggalkan detik
mendulang rumit berbisik-bisik
tergamit resah di tiap desah
adalah pasrah muara berserah

temali jari-jari tak lagi menari
kerjap mata menjauh dari purnama
penyenandung kalam bungkam melantun
di manakah jasad iman terjatuh?

pagi tak mau bersambut embun
siang enggan berbalut mendung
dan senja mulai tertawan renta
hingga malam-malam padam
sinar gemintang hilang pendar
mungkin di titik itulah
dian hati terkapar

oh, adakah semilir di hening pikir
menyertakan kabar dari langit
tentang enggan kapankah beringsut
dari hati nan makin kusut

Ramadhan,1435 H

Cerbung :Semesta Parallel



INTO THE VOID

Seri 1
Oleh : Izgar

Ffuuhh…, melelahkan.Ujian akhir semester kali ini seperti berbeda dari biasanya. Melampaui jam yang normal. Yah, mungkin tidak bisa disalahkan Pak Sandy.Beliau memajukan waktu ujian Kalkulus, jadi satu di hari Jumat. Karena harus berangkat memenuhi panggilan kuliah di Oxford sana. Yah, hikmahnya kami jadi punya penambahan waktu libur sehabis ujian.Walaupun penambahan itu menyumbang pening di kepala. Ah, sepertinya aku harus jalan sore lagi ini.
Melewati jalur yang biasa ku pakai menuju persimpangan Milo.Sendiri.Tanpa kendaraan.Aku menikmati waktu sunyiku ini.Biasa dilakukan saat sedang mengalami tekanan.Dalam bentuk apapun.Beberapa diantaranya saat kepala dalam keadaan begini.Di tengah perjalanan, memori membawaku ke tanah kelahiran.Ambon.Pada keluarga nun jauh disana. Ah, bagaimana keadaan Ibu di rumah. Tidak terasa sudah lewat enam tahun sejak konflik terjadi.
Pada jembatan penyeberangan, mataku menerawang di sepanjang jalan Imam Bonjol. Mengingat-ingat apa yang sudah dilalui hingga kini. Ku sadari ‘bakat’ ini tidak begitu berguna pada perjuangan di kota ini. Tidak seperti enam tahun yang lalu.Sementara penampakan mereka yang tak terlihat membuat gamang benak ini.Suara-suara mereka.Perkataan-perkataan mereka. Ahh.., aku berharap berada di tempat lain. Di waktu yang berbeda.Dimana kekuatan ini bisa berguna bagi banyak orang.Bukan malah membuat mereka ketakutan.
Seakan ada percikan hangat tumbuh di kedalaman dada.Tiba-tiba pening yang amat sangat menghantam kepalaku.Membuat pijakan limbung.Berpegangan pada pagar pembatas, aku merasa tanah bergoyang bak ombak.Semua bangunan runtuh.Bukan.Bukan hanya bangunan.Namun juga langit.Pohon.Tanah.Menampakkan kegelapan pekat dibaliknya. Tidak butuh waktu lama hingga semua kegelapan itu menyelimutiku…
Suara gelembung?Tekanan menyesakkan?Ada rasa aneh mampir di lidah.Satu yang bisa kupastikan.Ada air yang baru saja lewat di mulutku.Segera kubuka mata.Agak pedih.Di tengah keburaman pandangan, terlihat di depanku pemandangan gedung-gedung tinggi di sekitar sebuah perempatan besar.Banyak diantaranya sudah rusak berat.Jendelanya runtuh menganga.Mobil-mobil aneh yang teronggok di tengah persimpangan.Namun satu yang mencekat, semua tertutup air.Entah seberapa tinggi.
Terdengar lenguhan dari belakang.Aku menoleh.Sebuah bentuk hitam raksasa mendekat.Mulutnya terbuka lebar.Menampakkan sederetan taring tajam dengan pinggiran bergerigi.Panic, aku segera berenang menjauhi makhluk tak dikenal itu.Meski mungkin, sedikit harapan untuk bisa menjauhinya.Namun tiba-tiba, sebuah dentuman diiringi gelombang menghantam.Melemparku kedepan.Menjauh dari bentuk hitam itu.Tapi sebuah benda keras menabrak dari belakang.Mulut terbuka melepaskan jeritan.Hanya gerombolan gelembung yang keluar dan gelombang air yang masuk tanpa ampun.Aku terlempar lebih cepat.Secara tak terkendali mengarah ke salah satu dinding gedung di kiri jalan.
Tidak bisa memikirkan jalan keluar apapun, aku hanya bisa pasrah.Kejadian itu begitu cepat.Semua serba tiba-tiba.Udara pertama segera menyentuh cuping hidung.Membuat napas terbatuk.Perlahan kubuka mata.Terlihat seorang kakek berdiri sekitar dua meter dariku.Ia memakai alat seperti bando perempuan yang terhubung dengan banya kabel pada kedua meja kecil di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Tubuhnya terlihat kekar.Ia setengah menoleh padaku.
“Kau tak apa-apa, nak?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
“Baik. Berpeganglah, nak,” lanjut kakek itu sembari mencondongkan diri kedepan.“Ini akan sedikir ‘seru’.”
Tiba-tiba sebuah daya menghempaskanku hingga tersandar dinding.Kulihat sekeliling. Ruangan ini mungkin hanya seluas lima kali tiga meter. Di selimuti dinding tak kasat mata yang mencegah air masuk kedalam.Setidaknya itu yang kusimpulkan.Tapi semua itu segera patah saat kusentuhkan jari pada permukaan dinding itu.Tidak ada sesuatu yang keras pada permukaannya.Setengah dari jari masuk kedalam air tanpa membuat batas itu bocor.Karena tekanan yang luarbiasa besar membuat jariku terdorong kebelakang hingga terasa sakit. Segera kutarik ia.
Kendaraan ini melaju kencang.Menembus kedalaman suram.Melesat diantara gedung-gedung besar dalam berbagai bentuk dan ukuran.Dihadapannya makhluk seperti ikan itu.Berenang dalam kecepatan tak normal bagi ukuran tubuhnya. Sesekali si kakek menembakkan sesuatu seperti torpedo mini kearah sisi ikan itu. Yang meledak dan membuat makhluk itu merubah arah. Sudah sekitar sepuluh torpedo ditembakkan. Makhluk itu berenang hingga daerah terbuka.
“Haha…. Dia masuk jebakanku!” gelegarnya bersemangat. “Lihatlah, nak! Akan kubungkam makhluk sialan itu!”
Dengan bersemangat, ia menekan beberapa tombol. Sebuah jaring luarbiasa besar melesat dari bawah dan menjerat makhluk itu tanpa peringatan.Ikan raksasa itu meronta sekuat tenaga. Tapi entah dari bahan apa jaring itu terbuat. Makhluk aneh itu tak bisa lepas dari jeratnya. Si kakek menarik alat yang padanya terhubung kabel metal hingga dua meja kecil. Dari kanan dan kiri kendaraan ini keluar lengan logam dengan alat aneh pada ujungnya.Alat tersebut mengeluarkan tiga batang logam dari puncaknya. Tiga batang itu berhenti pada jarak lima meter dari lengan. Antara dasar dan ujungnya memancar laser berwarna biru terang. Dan tiga garis laser itu berputar mengikuti tiga batang logam dibaliknya.
“Nah, apa yang bisa kau lakukan sekarang bocah tengik!” dengus si kakek sembari mengendalikan kendaraannya mendekati makhluk itu perlahan.
Ikan raksasa itu menggeliat.Pada kedua sisi kepalanya air seperti membentuk pusaran dengan ujung permukaan kulitnya. Tanpa kuduga, ia menembakkan gelombang udara raksasa kearah kami. Tak ada rasa takut, pria tua itu melesatkan kapal selamnya menyongsong peluru si ikan.
“Percuma!” serunya sembari menyilangkan kedua tangannya kedepan dilanjutkan dengan gerakan seperti menebas sesuatu.Kedua lengan logam itu bergerak seirama dengan si kakek.Dan alat aneh tadi, yang sepertinya berfungsi sebagai pedang, membelah gelombang yang datang mendekat.
Namun dibaliknya ternyata ada gelombang yang lebih kecil tapi lebih padat.Membuat kapal ini terhempas kesamping.Goncangan yang terjadi melemparku hingga menabrak dinding.Pria tua itu mengomel keras.Torpedo kembar ditembakkan dan mengenai makhluk itu dengan telak.Di tengah goncangan tadi, pandanganku menangkap sesuatu yang mengkhawatirkan.Setelah kapal kembali stabil, pandanganku melayang ke sekitar.Dan memang, sesuatu itu nyata adanya.
“Awas kau binatang setan!” maki si kakek. Namun sebelum ia menerjang makhluk hitam itu, aku segera meremas bahunya. Ia mengendikkan bahunya sambil berkeras, “Jangan sekarang, nak! Aku harus menghabisi biang kehancuran ini! Sekarang!”
“Kanan dan kiri!!” jeritku tiba-tiba.
Ia memalingkan wajahnya menurut petunjukku. Dan pemandangan itu segera memaksanya untuk terdiam.Sekitar tujuh ikan raksasa itu mengunci setiap jalan keluar dari tanah lapang tersebut.Mengepung kami tiga ratus enam puluh derajat.Bisa saja si kakek memaksa kapalnya menuju permukaan.Namun tidak ada jalan keluar disana.Dan bukan tidak mungkin makhluk-makhluk itu menyusul sebelum kita sampai permukaan. Tidak ada kata lain. Bertarunglah pilihannya.
“Ini buruk,” gumam si kakek.
“A-apa kakek pernah mengalami h-hal ini sebelumnya?” tanyaku terbata.
“Pernah. Ketika puncak usiaku.Aku berhasil mengalahkan tiga dari mereka,” jawabnya pelan.
“J-jika pernah melakukan. P-pasti kakek bisa melakukannya lagi sekarang.”
“Entahlah, nak. Kondisiku berbeda dengan jaman itu.Tidak segesit saat itu.Satu ekor bisa kuatasi.Tapi belum tentu jika lebih dari itu.”
Kata-katanya membuatku lemas sekaligus panas. Aku, yang asing disini, harus berhadapan dengan orang yang sepertinya professional namun segera lemah saat tantangan yang sama sulit kembali datang. Tanpa peduli apa yang terjadi selanjutnya, aku berseru “Saya adalah orang asing disini! Tidak mengenal kakek sama sekali! Tapi dilihat dari pengejaran tadi, saya yakin kakek punya pengalaman yang banyak mengatasi makhluk ini. Kakek mengaku pernah melewati situasi yang mirip dan berhasil mengalahkan mereka! Kakek punya kemampuan itu! Dan sekarang tantangan itu kembali! Apakah kakek akan menyerah!? Jika ini adalah akhir, biarkan ini menjadi akhir yang membanggakan!”
Aku sudah tidak memikirkan apapun lagi.Jika ini adalah ujung hidupku, biarkan ini menjadi usaha terbaik dalam menghargai kehidupan dari-Nya.Kakek itu tersenyum kearahku.Aku membalas senyumnya sembari memasang mimik bersemangat.
“Akhir yang membanggakan? Baiklah, nak.Berpegangan!” ujarnya.Kapal meluncur ke salah satu dari tujuh makhluk raksasa itu.Kedua pedang sinar bersilangan pada kedua sisi kapal.“Kita selesaikan ini dengan cepat!”
“Yeah!” jeritku bersemangat.
Namun pening itu kembali lagi.Aku limbung.Dunia terasa berputar.Semua berpilin.Melebur dalam putaran yang cepat.Segera semua citra menyatu membentuk pusaran berujungkan mulut menganga ikan tersebut.Ujung gelap itu segera menyergap.Menangkap kesadaranku dan membawanya pergi. Ah, inilah akhirnya.

*bersambung*

Monday, February 16, 2015

Membaca "Sastra"



SEKOLAH MENULIS PERDANA FLP CABANG SEMARANG 2015-2016

Semarang-Muhammad Hafidz Nabawi (Ketua FLP Semarang), membuka acara sekolah menulis perdana setelah dipersilahkan oleh Mahrus, pembawa acara pada hari Ahad, 15 Februari 2015 bertempat di panggung terbuka kampus UNISULA yang terletak di jalan Kaligawe, Semarang, kurang lebih pukul 10.00 WIB. Nabawi membuka agenda tersebut dengan puisi yang dibuatnya pada tanggal 21 Januari 2015, berjudul "Sajak Tak Berirama". Meskipun 14 peserta harus menunggu cukup lama karena seharusnya berdasarkan undangan agenda tersebut dimulai pukul sembilan, mereka masih tetap bersemangat dan sabar. Peserta yang berasal dari pengurus dan wajah baru dari UNISULA dan UNDIP pun tetap aktif meramaikan agenda tersebut. 

Sedikit kendala yang dihadapi adalah adanya pergantian fasilitator karena terjadi miskomunikasi. Seharusnya PJ materi saat itu adalah Lala, akhirnya digantikan oleh PJ Sekolah Menulis dari divisi Kaderisasi FLP Semarang, Syah Azis Perangin-angin. Dia mengawali materi "Membaca Sastra" dengan menceritakan kisah mbak Asma Nadia dari kecintaannya pada tulisan hingga kemudian menjadi penulis seperti sekarang. kisah tersebut didapatnya dari sebuah program di salah satu tv swasta. Kemudian dia membandingkan pengalaman pribadinya ketika dulu mendapati novel pada masa remajanya di tahun 90-an yang menurutnya kurang membawa dampak yang baik pada pembacanya. Berdasarkan kegelisahan yang sama itulah dia mulai menulis dan tertarik dengan FLP di mana sesuai visinya, FLP ingin menyumbangkan literasi yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mencerahkan.