Saturday, March 7, 2015

Cerbung :Semesta Parallel



INTO THE VOID

Seri 1
Oleh : Izgar

Ffuuhh…, melelahkan.Ujian akhir semester kali ini seperti berbeda dari biasanya. Melampaui jam yang normal. Yah, mungkin tidak bisa disalahkan Pak Sandy.Beliau memajukan waktu ujian Kalkulus, jadi satu di hari Jumat. Karena harus berangkat memenuhi panggilan kuliah di Oxford sana. Yah, hikmahnya kami jadi punya penambahan waktu libur sehabis ujian.Walaupun penambahan itu menyumbang pening di kepala. Ah, sepertinya aku harus jalan sore lagi ini.
Melewati jalur yang biasa ku pakai menuju persimpangan Milo.Sendiri.Tanpa kendaraan.Aku menikmati waktu sunyiku ini.Biasa dilakukan saat sedang mengalami tekanan.Dalam bentuk apapun.Beberapa diantaranya saat kepala dalam keadaan begini.Di tengah perjalanan, memori membawaku ke tanah kelahiran.Ambon.Pada keluarga nun jauh disana. Ah, bagaimana keadaan Ibu di rumah. Tidak terasa sudah lewat enam tahun sejak konflik terjadi.
Pada jembatan penyeberangan, mataku menerawang di sepanjang jalan Imam Bonjol. Mengingat-ingat apa yang sudah dilalui hingga kini. Ku sadari ‘bakat’ ini tidak begitu berguna pada perjuangan di kota ini. Tidak seperti enam tahun yang lalu.Sementara penampakan mereka yang tak terlihat membuat gamang benak ini.Suara-suara mereka.Perkataan-perkataan mereka. Ahh.., aku berharap berada di tempat lain. Di waktu yang berbeda.Dimana kekuatan ini bisa berguna bagi banyak orang.Bukan malah membuat mereka ketakutan.
Seakan ada percikan hangat tumbuh di kedalaman dada.Tiba-tiba pening yang amat sangat menghantam kepalaku.Membuat pijakan limbung.Berpegangan pada pagar pembatas, aku merasa tanah bergoyang bak ombak.Semua bangunan runtuh.Bukan.Bukan hanya bangunan.Namun juga langit.Pohon.Tanah.Menampakkan kegelapan pekat dibaliknya. Tidak butuh waktu lama hingga semua kegelapan itu menyelimutiku…
Suara gelembung?Tekanan menyesakkan?Ada rasa aneh mampir di lidah.Satu yang bisa kupastikan.Ada air yang baru saja lewat di mulutku.Segera kubuka mata.Agak pedih.Di tengah keburaman pandangan, terlihat di depanku pemandangan gedung-gedung tinggi di sekitar sebuah perempatan besar.Banyak diantaranya sudah rusak berat.Jendelanya runtuh menganga.Mobil-mobil aneh yang teronggok di tengah persimpangan.Namun satu yang mencekat, semua tertutup air.Entah seberapa tinggi.
Terdengar lenguhan dari belakang.Aku menoleh.Sebuah bentuk hitam raksasa mendekat.Mulutnya terbuka lebar.Menampakkan sederetan taring tajam dengan pinggiran bergerigi.Panic, aku segera berenang menjauhi makhluk tak dikenal itu.Meski mungkin, sedikit harapan untuk bisa menjauhinya.Namun tiba-tiba, sebuah dentuman diiringi gelombang menghantam.Melemparku kedepan.Menjauh dari bentuk hitam itu.Tapi sebuah benda keras menabrak dari belakang.Mulut terbuka melepaskan jeritan.Hanya gerombolan gelembung yang keluar dan gelombang air yang masuk tanpa ampun.Aku terlempar lebih cepat.Secara tak terkendali mengarah ke salah satu dinding gedung di kiri jalan.
Tidak bisa memikirkan jalan keluar apapun, aku hanya bisa pasrah.Kejadian itu begitu cepat.Semua serba tiba-tiba.Udara pertama segera menyentuh cuping hidung.Membuat napas terbatuk.Perlahan kubuka mata.Terlihat seorang kakek berdiri sekitar dua meter dariku.Ia memakai alat seperti bando perempuan yang terhubung dengan banya kabel pada kedua meja kecil di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Tubuhnya terlihat kekar.Ia setengah menoleh padaku.
“Kau tak apa-apa, nak?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
“Baik. Berpeganglah, nak,” lanjut kakek itu sembari mencondongkan diri kedepan.“Ini akan sedikir ‘seru’.”
Tiba-tiba sebuah daya menghempaskanku hingga tersandar dinding.Kulihat sekeliling. Ruangan ini mungkin hanya seluas lima kali tiga meter. Di selimuti dinding tak kasat mata yang mencegah air masuk kedalam.Setidaknya itu yang kusimpulkan.Tapi semua itu segera patah saat kusentuhkan jari pada permukaan dinding itu.Tidak ada sesuatu yang keras pada permukaannya.Setengah dari jari masuk kedalam air tanpa membuat batas itu bocor.Karena tekanan yang luarbiasa besar membuat jariku terdorong kebelakang hingga terasa sakit. Segera kutarik ia.
Kendaraan ini melaju kencang.Menembus kedalaman suram.Melesat diantara gedung-gedung besar dalam berbagai bentuk dan ukuran.Dihadapannya makhluk seperti ikan itu.Berenang dalam kecepatan tak normal bagi ukuran tubuhnya. Sesekali si kakek menembakkan sesuatu seperti torpedo mini kearah sisi ikan itu. Yang meledak dan membuat makhluk itu merubah arah. Sudah sekitar sepuluh torpedo ditembakkan. Makhluk itu berenang hingga daerah terbuka.
“Haha…. Dia masuk jebakanku!” gelegarnya bersemangat. “Lihatlah, nak! Akan kubungkam makhluk sialan itu!”
Dengan bersemangat, ia menekan beberapa tombol. Sebuah jaring luarbiasa besar melesat dari bawah dan menjerat makhluk itu tanpa peringatan.Ikan raksasa itu meronta sekuat tenaga. Tapi entah dari bahan apa jaring itu terbuat. Makhluk aneh itu tak bisa lepas dari jeratnya. Si kakek menarik alat yang padanya terhubung kabel metal hingga dua meja kecil. Dari kanan dan kiri kendaraan ini keluar lengan logam dengan alat aneh pada ujungnya.Alat tersebut mengeluarkan tiga batang logam dari puncaknya. Tiga batang itu berhenti pada jarak lima meter dari lengan. Antara dasar dan ujungnya memancar laser berwarna biru terang. Dan tiga garis laser itu berputar mengikuti tiga batang logam dibaliknya.
“Nah, apa yang bisa kau lakukan sekarang bocah tengik!” dengus si kakek sembari mengendalikan kendaraannya mendekati makhluk itu perlahan.
Ikan raksasa itu menggeliat.Pada kedua sisi kepalanya air seperti membentuk pusaran dengan ujung permukaan kulitnya. Tanpa kuduga, ia menembakkan gelombang udara raksasa kearah kami. Tak ada rasa takut, pria tua itu melesatkan kapal selamnya menyongsong peluru si ikan.
“Percuma!” serunya sembari menyilangkan kedua tangannya kedepan dilanjutkan dengan gerakan seperti menebas sesuatu.Kedua lengan logam itu bergerak seirama dengan si kakek.Dan alat aneh tadi, yang sepertinya berfungsi sebagai pedang, membelah gelombang yang datang mendekat.
Namun dibaliknya ternyata ada gelombang yang lebih kecil tapi lebih padat.Membuat kapal ini terhempas kesamping.Goncangan yang terjadi melemparku hingga menabrak dinding.Pria tua itu mengomel keras.Torpedo kembar ditembakkan dan mengenai makhluk itu dengan telak.Di tengah goncangan tadi, pandanganku menangkap sesuatu yang mengkhawatirkan.Setelah kapal kembali stabil, pandanganku melayang ke sekitar.Dan memang, sesuatu itu nyata adanya.
“Awas kau binatang setan!” maki si kakek. Namun sebelum ia menerjang makhluk hitam itu, aku segera meremas bahunya. Ia mengendikkan bahunya sambil berkeras, “Jangan sekarang, nak! Aku harus menghabisi biang kehancuran ini! Sekarang!”
“Kanan dan kiri!!” jeritku tiba-tiba.
Ia memalingkan wajahnya menurut petunjukku. Dan pemandangan itu segera memaksanya untuk terdiam.Sekitar tujuh ikan raksasa itu mengunci setiap jalan keluar dari tanah lapang tersebut.Mengepung kami tiga ratus enam puluh derajat.Bisa saja si kakek memaksa kapalnya menuju permukaan.Namun tidak ada jalan keluar disana.Dan bukan tidak mungkin makhluk-makhluk itu menyusul sebelum kita sampai permukaan. Tidak ada kata lain. Bertarunglah pilihannya.
“Ini buruk,” gumam si kakek.
“A-apa kakek pernah mengalami h-hal ini sebelumnya?” tanyaku terbata.
“Pernah. Ketika puncak usiaku.Aku berhasil mengalahkan tiga dari mereka,” jawabnya pelan.
“J-jika pernah melakukan. P-pasti kakek bisa melakukannya lagi sekarang.”
“Entahlah, nak. Kondisiku berbeda dengan jaman itu.Tidak segesit saat itu.Satu ekor bisa kuatasi.Tapi belum tentu jika lebih dari itu.”
Kata-katanya membuatku lemas sekaligus panas. Aku, yang asing disini, harus berhadapan dengan orang yang sepertinya professional namun segera lemah saat tantangan yang sama sulit kembali datang. Tanpa peduli apa yang terjadi selanjutnya, aku berseru “Saya adalah orang asing disini! Tidak mengenal kakek sama sekali! Tapi dilihat dari pengejaran tadi, saya yakin kakek punya pengalaman yang banyak mengatasi makhluk ini. Kakek mengaku pernah melewati situasi yang mirip dan berhasil mengalahkan mereka! Kakek punya kemampuan itu! Dan sekarang tantangan itu kembali! Apakah kakek akan menyerah!? Jika ini adalah akhir, biarkan ini menjadi akhir yang membanggakan!”
Aku sudah tidak memikirkan apapun lagi.Jika ini adalah ujung hidupku, biarkan ini menjadi usaha terbaik dalam menghargai kehidupan dari-Nya.Kakek itu tersenyum kearahku.Aku membalas senyumnya sembari memasang mimik bersemangat.
“Akhir yang membanggakan? Baiklah, nak.Berpegangan!” ujarnya.Kapal meluncur ke salah satu dari tujuh makhluk raksasa itu.Kedua pedang sinar bersilangan pada kedua sisi kapal.“Kita selesaikan ini dengan cepat!”
“Yeah!” jeritku bersemangat.
Namun pening itu kembali lagi.Aku limbung.Dunia terasa berputar.Semua berpilin.Melebur dalam putaran yang cepat.Segera semua citra menyatu membentuk pusaran berujungkan mulut menganga ikan tersebut.Ujung gelap itu segera menyergap.Menangkap kesadaranku dan membawanya pergi. Ah, inilah akhirnya.

*bersambung*

1 Komentar: