Thursday, October 6, 2011

PEMUTIHAN KARANG (Coral Bleaching) SEBAGAI DAMPAK KENAIKAN SUHU PERAIRAN

oleh: Mihwar Fauzi (FLP Ranting Tembalang, Semarang)


            Laut Indonesia memiliki luas 5.176.800 km2 yang terdiri dari perairan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) atau sekitar 70% dari luas Indonesia di mana luas daratan yang kita miliki adalah 1.919.440 km2. Di samping itu kita memiliki lebih dari 17.000 pulau yang sebagian besar belum bernama, dan panjang pantai 95.181 km. Jadi sangatlah tepat apabila Indonesia disebut sebagai Negara Kepulauan (Archipelagic State), salah satu dari 46 negara kepulauan di dunia.

         Zona pesisir Indonesia menopang kehidupan sekitar 60% dari 182 juta penduduk Indonesia. Pada beberapa wilayah tertentu, komunitas lokal sangat bergantung kepada banyak tipe terumbu karang dan hewan laut di terumbu karang, untuk pakan sehari-hari dan untuk diperdagangkan. Termasuk di dalamnya ialah penyu, berbagai jenis ikan, berbagai jenis moluska (hewan bertubuh lunak yakni kerang dan siput laut), Crustasea (udang-udangan) dan ekhinodermata (hewan berkulit duri contohnya teripang).

           Namun, Akhir-akhir ini istilah global warming sering muncul dan semakin menjadi-jadi ketika peristiwa demi peristiwa, bencana demi bencana silih berganti terjadi di berbagai belahan dunia yang menurut para ilmuwan ini diakibatkan oleh global warming. Para Klimatolog di British Meteorogical Office (BMO) menghitung bahwa 2007 akan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah bumi. Penyebabnya adalah peningkatan pemanasan global dan efek penyinaran matahari. Suhu rata–rata bumi, berdasarkan pengukuran BMO selama periode 1961-1990 adalah1400C. Kenaikan suhu yang sangat kecil sangat berpotensi membunuh banyak spesies aquatik dan menyebabkan kekeringan dan gagal panen.

            Kenaikan suhu pada perairan juga sangat mengganggu kelangsungan hidup biota- biota laut yang ada. Dengan kenyataan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas dengan jumlah pulau-pulau kecil yang cukup besar, maka Indonesia termasuk negara yang memiliki kerentanan yang sangat tinggi terhadap perubahan iklim.


           Laut menutupi 70% permukaan bumi dan memegang peranan penting dalam lingkungan global. Laut mengatur iklim bumi, laut juga berfungsi sebagai daerah wisata, media transportasi, tempat berkumpulnya informasi genetika dan biologi, dan sebagai penampungan limbah. Sekitar 20% penduduk bumi hidup di kawasan pesisir laut. Kawasan pesisir merupakan lingkungan yang paling beragam dan prodiktif di antara kawasan-kawasan lainnya di dunia. Namun saat ini laut dan kawasan pesisir di dunia telah mengalami tekanan yang disebabkan oleh berbagai faktor sepperti tekanan pertambahan penduduk di kawasan pesisir, eksploitasi dan penghancuran habitat, meningkatnya pencemaran baik dari atmosfer, darat, maupun dari sungai. Berbagai tekanan tersebut akan meningkatkan kerentanan kawasan pesisir dan laut terhadap perubahan iklim (Mclean and Tsyban, 2001).

          Pemanasan Global merupakan peristiwa meningkatnya suhu di atmosfer, laut, dan daratan bumi. Pemicu utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam yang dibuang melalui asap knalpot, cerobong pabrik, pemakaian CFC pada pendingin udara dan alat elektronik lain yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfir. Akibatnya bumi menyerap lebih banyak energi matahari daripada yang dilepas kembali ke luar angkasa.

           Pemanasan global yang terjadi saat ini sangat memberi dampak pada kawasan pesisir dan laut, dimana pada kawasan tersebut terdapat ekosistem yang kompleks seperti hutan mangrove, batu karang dan rawa payau. Pada berbagai ekosistem tersebut, pemanasan global mempengaruhi sifat-sifat fisik, biologi dan biokimia laut dan pesisir sehingga merubah struktur ekologis, fungsi dan penyediaan barang serta jasa yang diberikan oleh laut dan pesisir. Terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim menimbulkan berbagai kejadian ekstrim yang berdampak pada laut dalam skala luas.

          Meningkatnya suhu air laut sebesar 0,2 hingga 2,50C akan mempengaruhi pertumbuhan dan kecepatan reproduksi organisme yang hidup di daerah laut tropis. Telah ditemukan pada daerah pantai Jakarta banyak batu karang yang mati akibat bleaching. Batu karang memegang peranan penting dalam daur hidup spesies laut dan mempengaruhi habitat laut. Perubahan yang terjadi pada habitat laut akan mempengaruhi ekosistem pantai sehingga mempengaruhi ketersediaan ikan-ikan spesies tertentu dan berdampak pada tangkapan nelayan-nelayan di Indonesia.

         Salah satu akibat dari kenaikan suhu air adalah coral bleaching (pemutihan karang). Pemutihan karang adalah perubahan warna pada jaringan karang dari warna alaminya yang kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan menjadi warna putih pucat. Pemutihan karang dapat mengakibatkan kematian pada karang. Pemutihan karang diakibatkan karena hilangnya alga simbiotiknya yang bernama zooxanthellae yang banyak sekali hidup di jaringan karang atau hilangnya pigmen warna yang memberikan warna pada karang, dapat menyebabkan pemutihan pada karang. Tanpa zooxanthellae tersebut karang tidak dapat bertahan hidup lebih lama.

         Peristiswa pemutihan sering dihubungkan dengan gangguan lingkungan seperti naiknya suhu air laut. Karang dapat hidup dalam batas toleransi suhu berkisar dari 20 sampai 300C. Suhu kritis yang dapat menyebabkan karang memutih tergantung dari penyesuaian karang tersebut terhadap suhu air laut rata-rata daerah dimana ia hidup. Karang cenderung memutih apabila suhu meningkat tajam dalam waktu yang singkat atau suhu meningkat perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang. Gangguan alam yang lain yang dapat menyebabkan pemutihan karang yaitu tingginya tingkat sinar ultra violet, perubahan salinitas secara tiba-tiba, kekurangan cahaya dalam jangka waktu yang lama, dan penyakit.

          Terumbu Karang adalah ekosistem yang sangat sensitive terhadap kondisi perubahan iklim ( long-term climate change). Secara fisiologi perubahan anomaly suhu air laut yang di kenal dengan SST (sea surface temperature) menyebabkan penenurunan kerja fotosintesis dan juga penurunan efisiensi fotositesis. Pada prisinsipnya penurunan kerja fotosintesis disebabkan peningkatan suhu lingkungan yang mengarah pada penyerapan cahaya yang berlebih. oleh penyerapan kelebihan cahaya menyebabkan kerusakan foto-inhibitor pada pusat reaksi fotosistem II dan secara umum merusak membran dan protein oleh adanya oksigen tunggal, superoksida, dan radikal bebas lainnya dan hal ini menjadi medioator dalam peristiwa pemutihan. Sedangkan secara ekologi perubahan suhu akan menyebabkan penurunan kondisi kesehatan terumbu karang, penurunan produktivitas dan biodiversity yang ujung-ujungnya akan merubah structure komunitas.

         Karena suatu kondisi, alga mengalami kematian. Umumnya disebabkan oleh tekanan lingkungan seperti adanya pencemaran. Akibat dari kematian alga, jaringan terumbu menjadi menjadi pudar sehingga warna putih kalsium karbonat yang seperti tulang kelihatan. Peristiwa itulah yang disebut bleaching atau pemutihan. Mirip seperti kita mencuci baju yang terkena noda dengan cairan pemutih. Dalam tekanan lingkungan yang normal, terumbu bisa pulih dan alga akan tumbuh lagi seperti sediakala. Tapi ketika pencemaran semakin parah, terumbu dapat terancam mati secara massal. Butuh bertahun-tahun untuk mengembalikan kondisi seperti semula.

         Oleh karena itu kesadaran lingkungan akan bahaya gas karbondioksida dari pembakaran bahan bakar fosil sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan penelitian, kenaikan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer kita yang mengakibatkan kenaikan suhu permukaan air laut merupakan salah satu penyebab dari kematian terumbu karang dalam 3 dekade terakhir.

          Efek berikutnya dari kematian terumbu karang adalah berubahan komposisi ekosistem terumbu. Yang selanjutnya mengakibatkan perubahan berantai seluruh laut. Terumbu karang telah bertahan dari perubahan lingkungan selama jutaan tahun. Namun laju perubahan lingkungan global dewasa ini dapat terjadi dalam kecepatan yang tak terduga akibat aktifitas manusia. Sehingga nasib terumbu karang di masa depan akan semakin tak menentu.

KESIMPULAN


         Pemanasan Global merupakan peristiwa meningkatnya suhu di atmosfer, laut, dan daratan bumi. Pemicu utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfir. Akibatnya bumi menyerap lebih banyak energi matahari daripada yang dilepas kembali ke luar angkasa.

          Pemutihan karang adalah perubahan warna pada jaringan karang dari warna alaminya menjadi warna putih pucat. Pemutihan karang dapat mengakibatkan kematian pada karang. Pemutihan karang diakibatkan karena hilangnya alga simbiotiknya yang bernama zooxanthellae yang banyak sekali hidup di jaringan karang.

          Permasalahan diatas seharusnya menjadi perhatian kita sebagai penikmat hasil laut untuk peduli dan menjaga kelastarian laut kita sehingga tercapai tujuan dan maksud Allah memberikan semua fasilitas didunia ini adalah untuk dimanfaatkan.


 Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat

memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari laut itu) kamu

mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai... (Q.S: 16: 14)

DAFTAR PUSTAKA


Al Quran Alkarim. Q.S: 16:14

http:///Facebook%20%20%20Efek%20Global%20Warming%20terhadap%20Pe
mutihan%20Karang%20%28Coral%20Bleaching%29.htm

http://www.terangi.or.id/id/index.php?
option=com_content&task=view&id=9&Itemid=41

http://www.kuala.or.id/index.php?option=com_k2&view=item&id=74:status-
terumbu-karang-aceh

Mclean, R.F., and Tsyban, A. (2001) in McCarthy, J.J., et.al, (2001). Climate
Change 2001: Impacts, Adaptation, and Vulneability. Contribution
of Working Group II to the Third Assessment Report of the
Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press,
Cambridge, United Kingdom and New York, USA.

1 Komentar:

  1. saran, dicek lagi eydnya. untuk isi... hm, perlu saya baca ulang...
    semangat!

    ReplyDelete