Wednesday, May 30, 2012

Writing, Writing, and Writing


Oleh: Lihazna

Tulisan, penulisan dan menulis selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari bloging. Tidak mungkin kan, bloging tanpa adanya tulisan untuk diposting? Dan untuk membuat sebuah tulisan penulis harus melakukan aktivitas menulis. Eits, kecuali buat para pecinta copas yang kadang yaaah bikin gondok penulis orisinil atau blog khusus gambar! Tapi sekalipun itu gambar tetap ada aktivitas menulis di sana, walau hanya 2 huruf, 3 kata atau sebatas judul. Tapi secara garis besar haluan bloging, jika anda ingin membuat entri maka anda harus menulis.
Ngobrol – ngobrol mengenai aktivitas menulis dan sekelumit tentang menulis, maka akan muncul berbagai pertanyaan mengenai bagaimana agar tulisan kita enak dibaca, disukai oleh pembaca. Namun sesungguhnya ada pertanyaan yang lebih esensial yang layak untuk ditanyakan.
Dalam sebuah acara yang di adakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Semarang dengan tajuk Gempa Literasi, Agus M. Irkham menyebutkan ada 3 buah pertanyaan pokok yaitu:
1. Kenapa kita menulis?
2. Kenapa sesuatu itu harus ditulis?
3. Kenapa harus saya yang menulis?
Dalam kesempatan ini hanya pertanyaan pertama yang sempat beliau jawab dengan tuntas sisanya Li coba jelaskan untuk kanca muda sesuai kapasitas Li.
Penulis yang baru saja melahirkan karya bersama Gol A Gong dengan judul Gempa Literasi ini mengungkapkan bahwa pada dasarnya ada 3 alasan dasar mengapa seseorang itu menulis, berikut ini Li tampilkan untuk kanca muda :
1. Alasan Ekonomi
Anda menulis karena anda ingin kaya. Itu lumrah. Royalti dan honor anda menulis saat ini mampu menjadi tumpuan hidup yang menjanjikan mengingat perkembangan dunia baca-tulis dan penerbitan. Namun jika hanya sebatas menjadi kaya untuk diri sendiri itu menjadi sebingkai asa yang kosong. Kosong karena melacurkan karya diri dan membiarkannya menguap sebatas untuk ego pribadi, tanpa ada kemanfaatan bagi sesamamu.
2. Alasan Sosiologi
Jika alasan anda menulis untuk kepuasan sesaat seperti keterkenalan, ketenaran, maka itu akan menjadikan alasan anda pada poin sosiologi. Namun jika ini alasan utama anda maka anda harus bersiap diri untuk mental anda jika suatu saat banyak karya yang anda lahirkan namun keterkenalan tak kunjung singgah pada diri anda. Waspada!
Anda bisa menjadi gila karena tak ada yang mengenali anda sekalipun banyak karya anda yang melegenda. Well, semua ada dalam kontrol jika alasan sosiologis anda adalah menyalurkan ide, membiarkan gagasan anda menggelinding bak roda tanpa rem yang mengalir seiring karya dan tulisan yang anda buat. It’s more than extraordinary!
3. Alasan Ideologi
Alasan ketiga akan menjadi koridor dari setiap tulisan anda. Jika ideologi yang menjadi alasan anda sekedar tulis ikut pasar, maka tulisan yang anda lahirkan tidak akan memiliki koridor yang jelas. Identitas akan dibawa ke mana ide dan gagasan anda semakin rancu. Karena pola – pola yang anda tampilkan sekadar mengikut dan mengekor model pasar.
Alasan ini akan saling berkaitan dengan pertanyaan kedua. Mengapa sesuatu itu harus ditulis? Jika alasannya mengikuti arus pasar yang tren, maka sesuatu itu harus ditulis karena dinanti oleh pasaran. Jika alasan mengikuti itu adalah karena ingin berbagi, maka sesuatu itu anda tuliskan karena anda ingin membaginya. Namun kembali pada konteks ideologi maka apakah hikmah yang ingin anda sampaikan dari tulisan Anda menjadi sesuatu yang penting. Karena tulisan ada, film dibuat dan sejarah itu dibukukan adalah karena untuk diambil hikmahnya.
Bila pembicaraan dialihkan pada terlalu idealis hingga terlalu kaku dalam tulisan maka saran saya, anda perlu sesekali melongok tren pasar, hal apa yang sedang booming. Bukan untuk ikut dan mengekor tetapi untuk membuat tulisan dengan tema yang hits  di pasar sesuai kacamata ideologi anda tentunya yang memberikan kemanfaatan.

Lalu Kenapa Harus Saya yang Menulisnya?
Jika sudah mencapai pertanyaan ini maka semua jawaban yang akan Anda jawab akan sangat berkaitan dengan jawaban pertanyaan – pertanyaan sebelumnya. Tentunya antara satu dengan yang lainnya memiliki jawaban yang berbeda, sehingga izinkan saya mengemukakan jawaban pribadi saya atas pertanyaan ini kanca muda.
Mengapa harus saya yang menulisnya?
Karena saya mau menjadi bagian dari peradaban. Karena peradaban terukur salah satunya dari tulisan. Bukankah hingga saat ini pemisah masa prasejarah dengan masa bersejarah adalah dengan adanya tulisan?
Mengapa harus saya?
Mengutip dari kata yang diucapkan oleh Umar Bin Khatab ra sebagai berikut:
“Jika ada 1000 orang yang membela kebenaran (Islam), aku salah seorang diantaranya. Jika ada 100 orang yang membela kebenaran, aku tetap berada diantaranya. Jika ada 10 orang pembela kebenaran, aku tetap ada dalam barisan itu. Dan jika ada 1 orang yang tetap membela kebenaran, akulah orangnya.”
Karena jika apa yang kita sampaikan adalah kebenaran maka kebenaran itu layak dan wajib untuk disampaikan. Jika apa yang kita tulis membawa kemanfaatan maka akan berlimpah pula manfaat yang kita peroleh karenanya. Karena kita menginspirasi, karena kita ingin berbagi.
Dan karena ini saya menulis di sini.
Mengapa harus saya?
Karena saya ingin melaksanakan kewajiban saya untuk menyampaikan pesannya. Menyampaikannya walau hanya satu ayat.
Dalam QS Ali Imran : 104, Alloh berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang – orang yang beruntung.”
Mengapa? Mengapa harus saya?
Saya tidak mau rugi, sia–sia atau kehilangan kesempatan emas. Mengapa? Karena tulisan yang bermanfaat akan membawa manfaat pula bagi penulisnya. Jika tulisan saya menginspirasi seseorang berbuat baik dan orang yang berbuat itu menularkannya pada yang lain lalu betapa tidak membahagiakan melihat rantai kemanfaatan mengalir dengan mudahnya.
Ini masihlah sekelumit kecil alasan mengapa menulis. Masih ada banyak hal yang belum terkupas. Kebaikan dan keburukan, namun jika optimisme dan positif merasuk dalam perspektif kita, maka yang terlihat dominan adalah kebaikannya. Koridor menjadi batas, motivasi menjadi mengokoh, dan dikukuhkan dengan niat awal yang baik maka keburukan akan tertutup dengan kebaikan. So mengapa saya masih enggan untuk menulis?
Writing, Writing, Writing!!
Keep fighting!!!
Disunting oleh Admin FLP Semarang
Sumber Asli: Dandelion Hurricane

0 Komentar:

Post a Comment