• Serah Terima Amanah

    Serah Terima Amanah dari Syah Azis Perangin Angin (Ketua FLP Semarang 2011 - 2014) kepada Muh. Hafidz Nabawi (Ketua FLP Semarang Periode 2014 - 2016). Semoga dapat membawa FLP Semarang menjadi lebih baik. Amin...

  • Pelantikan Pengurus Wilayah FLP Jateng di Semarang

    Pelantikan Pengurus FLP Wilayah jawa tengah di SDIT Cahaya Bangsa Semarang. Semoga amanah ya... Amin..

  • Open Recruitmen Anggota FLP SMG

    Berpose setelah selesai mengikuti Rekrutmen Anggota Baru FLP Semarang... Ayo, Tunjukkan Orange-Mu.. Menanti karya Flpers Semarang... Semoga makin produktif... Amiin..

Friday, November 2, 2012

"I'm sorry good bye..."


Bunda Nay
 
 “Punten teteh, ini teh sebentar lagi mau ada acara maulid nabi, biasanya kita bikin acara di kampus....nah kebetulan kita kekurangan panitia, gimana atuh misalnya teteh gabung bantuin kita-kita jadi panitia” Dwi merayu Mey yang lagi makan mie ayam di kantin Mang Udin.
“Sok atuh, boleh aja ... tapi jangan jadi sie acara ya... eh ya ketuanya siapa?”
“ketuanya Kang Aden, anak teknik . Emangnya kenapa nggak mau jadi sie acara?”
“Ya... aku kan kuliah sambil kerja, kalo jadi sie acara kan harus punya banyak waktu buat rapat-rapat. Sementara aku waktu di kampus cuma sampai jam dua. Jam 3 harus sudah kerja bantu jaga toko bibi...”
“O.. gitu, tapi yang penting bisa bantu kan teh...?” Dwi terus berharap
“Insya Alloh, mungkin di konsumsi aku bisa bantu....”
“Sip, nuhun atuh teh udah mau bantu”
“Sama-sama”
Begitulah awal mula persinggungan Mey dengan anak-anak remaja masjid kampus. Sejak itu Mey jadi sering terlibat acara-acara keislaman di kampus. Sesuatu yang selama ini tak didapatkannya. Apalagi saat bersama keluarganya dulu. Mey sering dimarahi ayahnya bila ketahuan sholat atau puasa.
Bukan perkara mudah bagi Mey berani menunjukkan jati dirinya yang muslim di tengah keluarga besar beretnik tionghoa dan beragama lain. Seperti Ibunya yang sering mendapat perlakuan diskriminatif oleh keluarganya.
Mey merasa dekat dengan teman-teman masjid kampus seperti saudara. Mereka banyak membantu saat Mey ingin belajar tentang Islam lebih banyak.
Sayangnya Mey tak punya waktu banyak untuk aktifitas di kampus selain kuliah, pulang dia harus bekerja di tempat Bibi Aminah yang selama ini sudah baik memberi tempat tinggal gratis. Sejak keputusan Mey memakai jilbab, ayahnya mengusir Mey dari rumah. Maka praktis sudah dua tahun Mey tidak lagi berhubungan dengan orang tuanya. Mey tak tahu apakah selama itu orang tuanya mencarinya atau tidak. Yang jelas setiap kali Mey mencoba menelpon ibunya karena rasa rindu yang amat dalam, ayahnya selalu tak pernah memberi ijin. Mey hanya sempat mendengar tangisan ibunya diujung telepon. Sebenarnya Mey ingin sekali pulang menemui orangtuanya, tapi Bibi Aminah melarangnya, karena waktu yang belum tepat katanya.
Demi melunasi rasa rindu yang menderu, Mey hanya bisa memandangi wajah orang tuanya yang ada dalam bingkai foto, itu pun yang kebetulan ada di rumah Bibi Aminah. Selebihnya Mey hanya bisa menangis di penghujung malamnya saat berdoa di akhir sholat. Bibirnya tak pernah berhenti bermunajat semoga Alloh membukakan hati ayah ibunya agar mau menerimanya kembali.
Mey amat beruntung memiliki satu bibi seperti Bibi Aminah yang selalu baik dan perhatian padanya, suami dan anak Bibi Aminah juga menerimanya dengan tangan terbuka.
###########
CINTA DI TOKO BANGUNAN
Mata Bibi Aminah berbinar-binar saat Mey memberitahu kalau Cik Renata akan membangun rumah dan bermaksud membeli semen dan perlengkapan bangunan lainnya dalam jumlah besar. Mey memang sudah dipercaya paman dan bibinya untuk mengurus Toko “SUKSES MAKMUR”, jadi untuk urusan uang dan pelayanan toko Mey lah yang bertanggung jawab. Dibantu oleh tiga orang kuli, Mey cukup sukses mengurus toko tersebut. Maklum Bibi Aminah sedang punya bayi kecil yang harus dirawat di rumah, sementara suami Bibi Aminah harus mengurus toko kelontong satunya. Jadilah kehadiran Mey disambut baik oleh bibinya karena bisa membantu, apalagi Mey memang terbiasa mengurus toko ayahnya sejak usia SMP.
“ Jadi total belanja semuanya berapa Mey?”
Cik Renata bertanya sambil mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya
“Semua jadi 15.545.000 Cik”
“ Katanya ada discount 10 % Mey... saya kan udah langganan, masak nggak ada discount...”
“ Oh... pasti Cik, tadi kan jumlah totalnya.... discountnya tidak sama Cik, untuk cat merk ini memang discount 10 % setiap pembelian diatas 250.000 dan berlaku kelipatannya selama masa promo, tapi kalau kalau yang lain discountnya 5 %”
“OK, eh Mey emang Bu Aminah kemana, kok nggak kelihatan? “
“ Itu Cik.....di rumah ngurus bayi....”
“ O.... tapi kok nggak pernah lihat hamil sebelumnya, tahu-tahu punya bayi?”
“ Alhamdulillah , itu dia yang namanya rejeki Cik....”
“Maksudnya?”
“Bibi Aminah kan lama nikah tapi cuma punya anak satu karena ada kelainan di rahimnya dan harus diangkat, lama pengen punya anak lagi, eh kemarin ada warga yang menemukan bayi di dekat pos satpam... terus rame bingung dibawa ke kantor polisi, karena nggak ada juga yang mengakui makanya bayi itu diminta Bibi buat diasuh...”
“Kalau gitu nanti malam saya mau mampir nengok bayi, kebetulan saya dan suami ada acara di daerah dekat rumah bu Aminah. Kalau gitu ini saya bayar dulu belanjaannya...”
“ Iya...” Mey menerima credit card yang diberikan Cik Renata
“ Makasih ya Cik....”
“Sama-sama...”
Seperginya Cik Renata, sebuah mobil xenia warna hitam berhenti tepat di depan Toko SUKSES MAKMUR. Seorang lelaki gagah berkacamata hitam turun dari mobil.
“Selamat sore...”
Laki-laki gagah itu menyapa kemudian membuka kaca matanya, senyumnya manis tampak barisan gigi putih di dalamnya.
“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu...?” Mey menyapa ramah
“Maaf, apa benar ini Toko milik Pak Suseno?”
Mey mengamati wajah teduh itu, Mey sepertinya tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya. Karena setahunya ia kenal semua kenalan, kolega dan pelanggan pamannya.
“Benar, tapi Paman tidak disini karena mengurus toko satunya yang ada di dekat Pasar Rebo..kalau boleh tahu ada perlu apa ya, mungkin nanti bisa saya sampaikan”
“Cuma main kok, saya anak teman baiknya Om Suseno, Pak Barata. Sebulan yang lalu papa meninggal dan saya tidak sempat mengabari Om Suseno karena papa meninggalnya di Bali dan minta dikebumikan sekalian di sana. Tapi sebelum meninggal dan dirawat di Rumah Sakit papa sering sekali cerita tentang kebaikan Om Suseno, mereka teman sejak SMU. Tapi sempat terputus hubungan sejak Papa pensiun dan lebih banyak menghabiskan waktu di kampung halamannya di Bali. Papa sempat bilang kalau dia ingin sekali ketemu sama Om Suseno, tapi belum sempat terwujud Alloh sudah memanggilnya....jadi saya pengin sekali menyambung tali silaturahmi yang sempat terputus antara Papa dan Om Suseno...”
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un, saya ikut berbela sungkawa atas meninggalnya papanya maaf tadi belum kenalan namanya siapa...?”
“Oh iya sampai lupa, saya Bagus lahir dan besar di Bali...”
“Saya Mey... Meylani, keponakan Pak Suseno. Oh ya silahkan duduk ...”
“ Trimakasih...”
“Sebentar saya hubungi paman, maaf mau minum apa? Panas atau dingin?”
“ Em... dingin aja...”
Semenit kemudian, mereka langsung menjadi akrab dan larut dalam obrolan ringan. Ternyata mereka memiliki kesamaan, sama-sama kuliah di Disain Grafis. Bedanya Bagus sudah selesai dan menjadi asisten dosen, sementara Mey masih satu tahun lagi.
Mey tak dapat pungkiri penampilan dan pribadi Bagus amat sopan dan mempesona. Dengan potongan cepak ala Jet Lee dalam film “The Bodyguard from Beijing” dan ditunjang tubuh jangkung membuat Bagus semakin kelihatan gagah.
Hari-hari berlalu. Tanpa terasa pertemuan hari itu yang terbilang singkat cukup meninggalkan kesan bagi keduanya, khususnya bagus, yang tanpa dia sadari ternyata tumbuh benih-benih cinta kepada Mey. Beberapa kali bertemu saat mengunjungi Om Suseno membuat Bagus merasa Mey cocok untuknya. Bagus merasa yakin kalau Mey adalah gadis yang tepat untuk dinikahinya. Apalagi Bagus ingin mempererat hubunganya dengan Om Suseno sebagai amanah papanya sebelum meninggal, mungkin dengan menikahi Mey hal itu dapat terwujud. Tak tanggung-tanggung Bagus langsung mengajak mamanya dari Bali untuk melamarnya, padahal saat itu Bagus belum tahu apakah Mey juga punya perasaan yang sama sepertinya.
Tepat hari Minggu di satu siang yang bersahabat, Bagus berkunjung ke rumah Om Suseno. Kebetulan toko libur di hari minggu.Om suseno terlebih Mey kaget luar biasa saat tiba-tiba tanpa pemberitahuan ada tamu dari Bali.
Mata Om Suseno terbelalak ketika membuka pintu dan mendapati wajah Amelia ada di depan pintu, wajahnya memang masih cantik seperti saat mereka bertemu dulu.
“Assalaamu’alaikum....”
“Waalaikum salam....a... Amel... Amelia....kamu Amelia istri Barata....??”
Amelia tersenyum manis, ternyata 10 tahun tak bertemu Suseno masih ingat betul dengan wajahnya.
“Ini benar-benar surprise... ayo... silahkan masuk.....Ma.... ada tamu dari Bali nih....”
Tak lama istri Suseno muncul dengan menggendong bayinya yang baru 3 bulan.
“Siapa pa... ya Alloh... ini teh Mbak Amel... Amelia.... ? istri Mas Barata? Subhanalloh....menih geulies pisan... gimana kabarnya...?”
Aminah langsung memeluk Amelia dengan rasa kangen yang begitu dalam setelah lama tak bertemu.
“Alhamdulillah baik, ini anak kamu yang ke berapa?”
“ Dua... maklum... kami 9 tahun nikah tapi baru dikasih momongan, eh sekalinya ada ana, eh dua sekaligus...”
“Maksudnya?”
“Sebenarnya anak kami satu dan sekarang kuliah di Jakarta. Kalau yang bayi ini kami mengasuh anak orang yang ditinggal orang tuanya...”
“ O....”
Pertemuan siang itu benar-benar seperti reuni, mereka cerita mengingat masa lalu karena dulu mereka adalah teman SMU. Bahkan yang menarik dulu sebenarnya Suseno sempat naksir Amelia, tapi begitu tahu Barata sahabat baiknya yang berasal dari Bali itu juga diam-diam naksir Amelia, maka ia mengalah dan jadilah kemudian Barata menikah dengan Amel. Sementara Suseno menikah dengan gadis pilihan orang tuanya, Aminah.
Sebentar kemudian Mey keluar membawa 4 gelas minuman dingin. Entah mengapa tiba-tiba Mey merasa grogi, apalagi saat bersalaman dengan mamanya Bagus.
“Kenalkan ini Mey ponakan saya ...”
Mey tersenyum seraya mencium tangan wanita setengah baya itu. Ada perasaan dag dig dug di hati Mey.
“O... jadi ini yang namanya Mey..cantik sekali...”
Mey tersipu dipuji Mamanya Bagus, ia bermaksud kebelakang tapi Bu Amelia melarangnya.
“ Begini mas Suseno... kedatangan kami kesini pertama ingin melaksanakan amanah Papanya Bagus sebelum meninggal yaitu bertemu dengan Mas Suseno sekeluarga, saya senang akhirnya keinginan suami saya terpenuhi...yang kedua....Bagus sudah cerita banyak tentang Mey... dan kedatangan kami kesini bermaksud melamar Mey.....”mata Aminah dan Suseno membulat saling berpandangan.
Mey terdiam, dadanya langsung berdegub kencang, tak mengira sama sekali kedatangan Bagus kesini ingin melamarnya. Padahal sebelumnya Bagus tidak mengatakan apa-apa. Apalagi ingin melamarnya., bahkan Suseno yang sedang minumpun langsung tersedak mendengar ucapan Amelia.
“ Melamar ?... apa kami nggak salah dengar...bukannya Bagus dan Mey baru aja bertemu beberapa kali, itupun belum pernah ngobrol serius...?” Suseno benar-benar tidak percaya.
“Iya om... saya sama Mey memang belum lama kenal, kami juga baru aja ketemu 3 kali. Tapi entahlah, saya merasa cocok dan punya keyakinan kalau Mey jodoh saya... makanya saya nggak ingin berlama-lama, takut ada fitnah di hati... saya juga nggak ingin buang-buang waktu dengan pacaran. Jadi kedatangan saya hari ini ingin mengajak Mey serius....”
Bagus bicara dengan begitu meyakinkan, Mey semakin terdiam tak tahu harus berkata apa.
“Kalo Om sih nggak bisa menerima atau menolak, semua terserah Mey karena dia yang akan menjalani semuanya. Gimana Mey....?”
Mey jadi salah tingkah, semua orang di ruangan itu menatap penuh harap menunggu jawaban darinya. tapi Mey benar-benar belum siap denngan jawaban apapun.
“Maaf Mas Bagus, paman, bibi, dan Tante Amel... saya belum bisa menjawabnya sekarang, saya minta waktu satu minggu untuk memberi jawaban...”
Begitulah jawaban Mey akhirnya. Semua setuju dengan permintaan Mey yang butuh waktu satu minggu untuk memikirkan lamaran Bagus.
Hari-haripun berlalu, dengan penuh harap-harap cemas Bagus menunggu jawaban Mey atas lamarannya. Sehari rasanya jadi seminggu menunggu detik-detik jawaban Meylani.
Dan betapa girangnya bagus saat handphonenya berbunyi, sebuah pesan datang dari Mey. Bagus langsung loncat-loncat di kamar karena saking girangnya mendapat jawaban Mey. Ya... Mey menerima lamarannya untuk menjadi Nyonya Bagus.
Maka tanpa pikir panjang lagi Bagus langsung memberitahu mamanya atas berita bagus itu, seminggu kemudian mereka datang ke Bandung untuk membahas masalah tanggal pernikahan meraka. Saking bahagianya, Bagus sampai menangis di pusara papanya untuk meminta ijin menikah.
“Kalau jodoh nggak akan lari kemana...”begitu pepatah bilang. akhirnya di sebuah siang yang amat bersahabat Bagus resmi menjadi suami Meylani. Sebagai wali, Mey minta tolong kepada kakak kandungnya yang tinggal di Kediri karena Ayah Mey belum juga mau menerima Mey. Hanya Ibunya yang bersedia datang ke pernikahan yang amat sederhana itu, tidak ada kemewahan sama sekali. Mereka hanya akad nikah dan menggelar walimatul ‘ursy, Mey ingin ada keberkahan di pernikahannya. Sebuah adegan penuh haru terjadi saat Mey bertemu Ibunya dan memohon restu atas pernikahannya yang mungkiin masih amat muda di usianya yang baru 22 tahun. Ibunya memeluk Mey erat, tangisnya meledak. Seperti pelukan bayi yang lama ditinggal Ibunya.
Usai menikah, Bagus dan Mey tinggal di sebuah kontrakan sederhana masih satu kota dengan Pamannya. Mereka amat bahagia meskipun semua serba sederhana . Dengan pinjaman modal dari mamanya, Bagus membuka usaha jasa rental mobil untuk pernikahan dan cuci mobil dengan sistem siap panggil kapanpun. Bagus mengajak 2 temannya sewaktu kuliah untuk mengelola usahanya. Alhasil berkat keuletan dan kegigihan Bagus dan teman-temannya, hanya dalam waktu 18 bulan usaha mereka lumayan sukses.
Tak tanggung-tanggung, Bagus bisa membeli rumah lumayan mewah dari keuntungan usahanya, bahkan seorang pengusaha dari Malaysia yang ternyata kawan lama memberinya pinjaman modal untuk mendirikan showroom mobil. Mey merasa menjadi wanita paling sempurna dan bahagia karena memiliki suami sebaik Bagus yang amat sayang keluarga. Semua kemewahan diberikan oleh Bagus untuk Mey.
Tapi itu hanya bertahan 2 tahun pertama dalam pernikahan mereka. Setelah itu Bagus seperti orang lain untuk Mey. Kesibukannya yang luar biasa mengurus bisnis di berbagai kota membuat Bagus jadi hampir tak punya waktu utnuk Mey dan buah hatinya yang waktu itu baru berumur 9 bulan. Sempat Mey protes, tapi Bagus tak juga berubah.
Tadinya sering pulang malam, lalu 2 hari baru pulang, dan terakhir sejak Bagus juga melebarkan bisnisnya di Bali tempat kelahirannya, Bagus malah baru pulang seminnggu sekali.
Tak jarang mereka jadi sering bertengkar setiap kali mereka membahas jadwal keluar kota Bagus. Senin- Rabu di Bandung, Kamis – Jumat di Jakarta dan Sabtu di bali. Mey tahu apa yang dilakukan bagus semua untuk membahagiakannya, tapi bila akhirnya harus begini Mey merasa tak sanggup. Mey hanya punya waktu minggu untuk sekedar bisa melepas rasa rindu dan ngobrol seperti dulu. Mey merasa bagus menjadi orang lain. Mey gelisah, bosan, dan ingin teman untuk mencurahkan perasaanya, rindunya, impian-impiannya. Pernah Mey mengadu pada mertuanya, tapi Mama Bagus hanya menyuruhnya bersabar karena semua yang dilakukan Bagus adalah untuknya. Bagitu juga dengan bibi dan pamannya, mereka menyuruh Mey bersabar karena semuanya pada akhirnya untuk kebahagiaan Mey.
Hati Mey meledak, tak sanggup membiarkan semuanya begini. Semua kemewahan yang diberikan Bagus seakan tak ada lagi artinya di mata Mey. Hingga suatu malam saat ia begitu kesepian dan bagus masih ada acara di Singapura sampai 2 minggu Mey iseng membuka facebooknya. Mey lelah mencoba menghubungi suaminya, lebih dari 10 kali Mey menelpon tapi selalu reject, hanya sms berhuruf balok “JANGAN HUBUNGI DULU SAYANG, AKU LAGI KETEMU KLIEN PENTING, NANTI AKU CALL”.
Mey mencoba melupakan kesedihannya, setelah menidurkan bayinya yang montok, Mey membuka laptop. Sebelumnya Mey paling jarang membuka facebook. Tapi malam itu dia ingin menghubungi teman-temannya, menuangkan perasaannya. Iseng Mey meng-share “ Dia dekat tapi jauh... “
Mata mey terbelalak, semenit kemudian ada 10 comment yang masuk. Semua teman-teman SMP dan SMU nya. Bahkan yang paling membuat Mey tak percaya, ada 60 email masuk dan 5 diantaranya dari seseorang bernama Wisnu. Wisnu Pradana ya... Mey tak lupa nama itu. Sebuah nama yang dulu pernah menjadi bagian di hari-harinya bahkan pernah berikrar untuk setia selamanya.
Wisnu... ah... kenapa tiba-tiba ada rasa rindu di hati Meylani, kenangan masa lalu berkelibat di matanya. Sejenak Mey lupa akan masalahnya dan hanyut ke masa lalu.
Wisnu Pradana.... Anak seorang pejabat penting di Kediri dan sekarang masih menyelesaikan kuliah S2 nya di Malaysia. Datang dengan tiba-tiba, mengingatkan semuanya, bahkan yang lebih membuat mata Mey membulat saat melihat statusnya yang masih melajang hingga kini.
Di emailnya wisnu menulis, “ Selamat malam princess... aku menagih janji orang yang dulu pernah berjanji untuk selalu setia...”
“Kenapa kamu menghilang dari peredaran dan tak pernah bisa kutemui...”
“ Mencoba melupakanmu adalah seperti mecoba bunuh diri “
“Aku tahu kamu sudah menikah, tapi jangan pernah berharap aku akan melupakanmu... karena kamu adalah separuh dari jiwaku, denyut nadiku, dan bagian aliran darahku...jangan pernah menyuruhku untuk melupakanmu dan pindah kepada hati yang lain.. apapun kamu sekarang aku akan terus menunggumu... meski aku tahu kamu tak akan pernah kembali padaku tapi aku akan terus di sini... di tepian cinta yang aku tak tahu kapan akan berakhirnya...”
Aaaaaaaa................. Mey pusing, membaca email-email dari Wisnu. Ternyata dia belum bisa melupakannya, apakah Mey salah telah menikah dengan Bagus, atau jangan-jangan Bagus bukanlah cinta sejatinya dan Wisnu lah jodoh sebenarnya. Setan terus menghembuskan perasaan-perasaan bersalah ke hati Mey karena telah meninggalkan Wisnu dan menikah dengan Bagus.
Setan terus menghembuskan pembenaran-pembenaran ke hati Mey untuk berhubungan lagi dengan Wisnu lewat dunia maya itu. Dan hati Mey yang sedang kosong, kalut dan penuh kegundahan seakan mengiyakan saja semua bisikan setan. Jadilah malam itu Mey kembali hanyut dalam curhat-curhat yang tak seharusnya ia lakukan sebagai seorang wanita yang telah memiliki suami.
Keesokan harinya dan seterusnya Mey jadi rajin buka facebook, update status dan chatting ke teman-temannya termasuk Wisnu Pradana. Prahara rumah tangganya yang tak berujung bahkan semakin runcing dan tak ada jalan keluar membuat Mey semakin nyaman terus berhubungan dengan Wisnu walaupun hanya didunia maya dan tak pernah bertemu sekalipun. Tapi Mey merasa nyaman dan merasa enjoy dengan semuanya.
Terlebih saat Bagus menabuh genderang perang, alias tak pulang sama sekali selama satu bulan tanpa kabar. Pamitnya ke Bali menemui mamanya sekalian ngurus bisnis di sana tapi ternyata tidak pulang ke mamanya saat dicek oleh Mey. Sungguh Mey merasa Bagus telah mengkhianati kepercayaan dan cintanya.Terakhir Mey mendapat kabar kalau Bagus main bisnis saham, dan kabar buruk terjadi Bagus kalah tender 2 Milyar, saat itu Mey sedang seru-serunya hubungan dengan Wisnu di dunia maya. Mey hampir pingsan waktu datang 3 orang daari pihak bank menyita rumahnya. Kata orang itu rumah, kendaraan dan juga perusahaan dijadikan agunan oleh Bagus untuk mendapatkan uang banyak yang digunakan membeli saham. Bagus yang sebelumnya tak punya pengalaman saham tergiur keuntungan yang begitu banyak dengan membeli saham. Tapi ternyata bagus salah perhitungan. Tanpa pikir panjang Bagus membeli saham dalam jumlah yang tidak sedikit bahkan sampai menggadaikan rumah, mobil mewah, dan perusahaan tanpa sepengetahuan Mey.
Dalam kekalutan Mey pergi dari rumah dan kembali kerumah Bibi Aminah, di sana Mey ceritakan semua yang dialaminya termasuk apa yang telah dilakukan Bagus. Sementara Wisnu dengan sejuta pesonanya menawarkan kebahagiaan yang mungkin tak didapatkan Mey dari Bagus. Wisnu menyuruh Mey minta cerai ke Bagus, ia tak ingin dan tak rela Mey diperlakukan seperti itu oleh Bagus. Hampir saja Mey mengiyakan dan menuruti nasehat Wisnu saat tiba-iba Bagus datang dengan bersimpuh di kaki Mey. Dia menangis, meminta maaf, dan berharap Mey mau kembali padanya. Tapi hati Mey terlanjur sakit atas perlakuan Bagus.
“Mey.... maafkan aku Mey... aku tahu aku salah, aku tahu aku tak mendengar semua nasehatmu, aku khilaf Mey... aku silau akan dunia dan harta... aku lupa akan cintamu yang begitu besar dan suci... aku ingin kita kembali seperti dulu... seperti saat kita belum punya apa-apa... hidup sederhana tapi penuh cinta...”
Paman dan Bibinya meminta agar Mey mau memaafkan kesalahan Bagus, tapi mereka tak dapat memaksa bila Mey punya keputusan lain.
Bagus terus meminta maaf, tapi Mey tak sanggup berkata apa-apa. Hanya linangan air mata yang membasahi pipinya. Mulutnya seperti terkunci rapat. Bagus memeluk Mey yang terdiam kaku, tak ada respon sama sekali dari Mey. Bagus menyadari mungkin apa yang dilakukannya sudah amat keterlaluan dan butuh waktu bagi Mey untuk memikirkan tentang permintaan maafnya. Akhirnya Bagus melepaskan pelukannya, mengambil dagu Mey dan menatapnya tajam seraya berkata.
“ Maafkan aku Mey, aku tahu mungkin aku terlalu memaksakan kehendak. Dan aku tahu kamu butuh waktu untuk bisa memaafkan aku....”
Akhirnya Bagus pamit meninggalkan Mey, ia tahu Mey shock dengan semua ini. Seperginya Bagus, Mey langsung berlari ke kamarnya, tak dihiraukannya tangisan si montok dalam gendongan Bibi Aminah. Mey menangis sejadi-jadinya, Apa yang dilakukan Bagus memang keterlaluan, tapi apakah tiada maaf untuk suaminya, masih pantaskah ia memberi kesempatan kedua kepada Bagus? Pertanyaan demi pertanyaan itu terus perang di hatinya. Sejujurnya ia masih amat mencintai suaminya yang telah memberinya buah hati yang begitu cantik, Najla Qaulan Syadiida. Mey ingn membesarkan anaknya dengan kasih sayang yang utuh dari dia dan suaminya. Tapi disatu sisi tawaran Wisnu amat menngodanya, Wisnu begitu mencintainya, buktinya hingga saat ini Wisnu tak juga menikah karena tak bisa melupakannya. Apa yang dilakukan Bagus saat ini bukan tidak mungkin suatu saat akan terulang lagi. Penghianatan cinta Bagus amat mengiris-iris hatinya.
Tagisan Mey begitu menjadi hingga tak tahu Bibi Aminah masuk ke kamar dan duduk di sampingnya. “ Bibi ikut prihatin atas semua kejadian ini Mey, tapi... yakinlah pasti ada hikmah di balik semua ini. Dalam membina rumah tangga tidak mungkin tanpa masalah... apalagi kalian masih sangat muda, apa yang terjadi saat ini, semoga semakin mampu mendewasakan kalian, nanti Bibi dan Paman akan bicara lagi ke Bagus... sementara waktu mungkin kamu perlu menenangkan diri sebelum mengambil keputusan. Yang jelas apapun yang menjadi keputusanmu Bibi hargai itu...sekarang lebh baik kamu ambil wudhu dan sholat... mohon petunjuk agar kamu diberi hati yang bersih, pikiran tenang, dan dilepaskan dari semua prasangka buruk agar kamu bisa mengambil keputusan terbaik...” Bibi Aminah mengelus pundak Mey dan kemudian pergi menininggalkan Mey sendiri.
@@@@@@@@@@@@
“ Good night princess... ?”
‘hello.... kenapa ga jawab..?.”
“Kamu masih sedih princess?”
Malam itu Mey online, Yahoo Mesengger -nya aktif, seperti malam-malam sebelumnya sejak dua minggu terakhir Wisnu selalu hadir di facebooknya, mencoba mendapatkan hati Mey lagi. Mungkin Wisnu memang datang di saat yang begitu tepat. Saat Mey merasa sendiri dan tak kenal lagi siapa suaminya, Mey yang butuh tempat curhat, Mey yang kesepian lalu Wisnu datang bak pangeran yang datang dengan membawa kuda putih gagah lalu menawarkan bantuan.
Tak satupun pertanyaan dan sapaan Wisnu dijawab Mey. Malam itu adalah akhir dri segalanya. Ya... Mey harus mengambil sikap tegas. Memaafkan Bagus dan kembali kepadanya ataukah menerima Wisnu Pradana, seseorang yang pernah memberi kisah manis dimasa lalunya.
“Princess... aku tahu kamu sedih... tapi semua ini akan segera berakhir, percayalah karena aku akan membawamu pergi dari mimpi buruk ini... akulah kekasih sejatimu.... Bagus hanyalah mimpi buruk yang mungkin harus segera kamu buang jauh jauh... aku akan membahagiakanmu... takkan pernah sedikitpun aku akan membiarkanmu dalam kesedihan... “
“Yang harus kamu lakukan sekarang adalah cepat urus surat ceraimu... kemudian aku akan datang menikahimu,.... aku akan membawamu ke Mallay, kita akan hidup bahagia sayang...”
Begitulah rayuan demi rayuan Wisnu untuk mendapatkannya kembali. Mey memejamkan mata, menarik nafas panjang hinga beberapa kali. Ia sadar hidup adalah pilihan, dan apapun keputusannya malam ia siap menerima konsekuensinya.
“Bismillahirohmanirohhim... bismillah.... biidznillah.... semoga apa yang aku tulis malam ini terhindar dari fitnah, dan prasangka prasangka.
Mas wisnu, sungguh semua ini amat berat untukku. Tapi aku yakin keputusanku ini menjadi keputusan terbaik untuk aku dan Mas Wisnu....
Apa yang terjadi dalam pernikahanku memang menyakitkan buatku, tapi aku sadar ini adalah pelajaraan berharga yang akan semakin mendewasakanku... setelah permintaan maaf Mas Bagus, dan kesungguhannya untuk tak mengulangi kesalahannya lagi, saat itu juga luluh hatiku... aku lihat cinta di matanya, aku lihat kesungguhan di matanya, dan aku lihat kejujuran di ucapannya...aku akan memaafkannya, dan kembali menata puing-puing cinta kami yang sempat berserakan.... aku masih teramat mencintainya... selalu... sekarang dan selamanya hingga maut memisahkan kami....
Mas Wisnu, aku yakin Alloh sudah menyiapkan jodoh untuk Mas Wisnu...
Belajarlah untuk melupakan aku, dan segera menikahlah....maafkan aku “
Begitulah akhir dari semuanya, Mey menutup laptopnya. Merapikan jilbabnya di depan kaca. Mengoleskan bedak dan lipstik tipis di bibirnya. Pangeran pujaan hatinya telah menunggu di ruang tamu. Mey telah menyiapkan senyum terindahnya untuk sang pujaan hati.......... Bagus suaminya.
@@@@@@@@@@@@

OASE...



 

“Sayang….maafin mama nggak sempat nunggu kamu pulang. Tadi sekretaris Papa Heri ngasih tahu Mama kalau Papa Hery sakit dan janji dengan banyak klien terbatalkan. Mama harus ke Medan sekarang juga, mungkin sampai Papa Hery sembuh. Tapi tenang aja, selama Mama nggak di rumah, ada Bang Denny yang akan ngurusi kamu . Jangan bandel ya…… Nurut sama abang kamu. Ok….take care my dear……love you…Mama.”

Sebuah pesan tertempel di pintu kamar Saski.


“BETE……..”


Saski terus menggerutu. Tega-teganya Mama ninggalin dia sendiri. Dan lebih parah lagi menyerahkan semua urusan rumah ke Denny. Itu artinya Denny bakal gede kepala karena diberi kekuasaan. Kalau saja menangis bisa menyelesaikan masalah, ingin rasanya Saski menangis sekeras-kerasnya. Kenapa harus ada Papa Hery di ehidupannya, dan kenapa harus ada sosok bernama Denny Saputro di rumahnya. Andai bisa memilih dan tak kasihan ke Mama pasti dia lebih memilih Mama tak menikah lagi. Apalagi dengan Papa Hery, mantan guru SMP-nya yang kini beralih menjadi pengusaha.

Semua gara-gara Tante Wina sahabat Mama. Dua tahun lalu setelah kematian papanya karena kecelakaan kerja, mama menjadi single parent. Suatu hari tante Wina sakit Diabetes Militus hingga komplikasi ke jantung, ginjal dan matanya. Semua pengobatan sudah dijalaninya tapi tak ada perubahan berarti, bahakn mata tante sampai mengalami kebutaan. Karen amasa hidupnya tak lama lgi, tante Wina berpesan agar mama menikah dengan suaminya. Sebenarnya mama menolak, tapi tante Wina terus memohon hingga akhirnya mama tak kuasa menolak permintaan sahabatnya itu. Tante Wina sempat tak sadarkan diri di ICU selama 4 hari, hingga sebuaah keajaiban terjadi. Satu jam sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir tante Wina memberi isyarat agar mama segera menikah dengan suaminya. Dan akhirnya mereka benar-benar menikah di depan jenzah tante Wina. Semua yang ada di ruangan itu tak kuasa menahan tangis, melihat ketulusan mama yang bersedia menikahi suami tante Wina di saat suasana serba tidak memungkinkan.
Awalnya semua berjalan dengan baik karena ternyata papa Hery begitu menyayanginya. Tapi semua berubah sejak 2 bulan lalu. Sejak kedatangan anak papa Hery yang selama ini kuliah di Melbourne University karena mendapat beasiswa. Dia pulang ke Indonesia dan tinggal bersama mereka. Denny yang sok imut, sok baik, dan perhatian dalam sekejap mampu mengambil hati mama. Bahkan mama begitu mudah mempercayai Denny.

@@@@@@@@@


“Sas…..Saski…bangun…..makan yuk…..”

Denny mengetuk pintu kamar Saski tiga kali tapi tak juga ada jawaban.
“Sas….bangun….”
“Aku masih ngantuk…..”
“Hei…anak gadis nggak bagus bangun kesiangan….pamali, tau…..”
“Iya…iya….cerewet banget……”
“Abang.tunggu di meja makan. Tuh, abang beliin bubur ayam kesukaan kamu. Ntar keburu dingin lho…….”
Saski manyun. Sok perhatian banget sih…….batinnya. Mungkin Denny pikir dengan memberii perhatian bisa mengambil hati Saski. Tapi Saski nggak akan berubah.
Dengan berat hati Saski beranjak dari tempat tidur dan mandi, setelah itu pergi ke meja makan. Di sana Denny sudah menunggu, secangkir teh panas dan semangkok bubur ayam sudah siap di meja makan Saski.
“Harusnya yang nyiapin sarapan kan aku…..tapi….EGP……bodo amat……aku kan nggak nyuruh dia, salah dia sendiri…..” Saski bicara dalam hati.
“Nggak usah merasa bersalah gitu Sas….. Abang tahu dalam hati sebenarnya kamu mau menyiapkan sarapan. But It’s ok girl…..Abang senang kok bisa ngurus kamu…”
“Enak aja, nggak usah GR ya….udah ah….jadi nggak mood sarapan. Aku ke kampus dulu…..”
“Abang antar ya……”
“What….!!! Hei….aku bisa nyetir sendiri, nggak perlu sopir. Mana kuncinya……”
Saski mencoba merebut kunci dari tangan Denny tapi tak berhasil.
“Mama bilang kamu nggak boleh bawa mobil, biar Abang yang antar jemput kamu…”
“Oh ya….jadi sekarang semua yang atur kamu ? Heran…..kenapa sih mama begitu percaya banget sama kamu….”
“Sas, kamu kan belum begitu lancer bawa mobil, abang nggak mau terjadi apa-apa sama kamu…..”
“sebenarnya apa sih mau kamu…? Kamu udah rebut mama dari aku. Mama kamu rebut, dan sekarang kamu mulai sok ngatur-ngatur aku…..puas kamu….??!!”
“Udah buruan…ntar kamu telat…..”
Denny segera masuk mobil. Dengan hati dongkol Saski masuk ke mobil juga.
“Oke juga mentalnya......aku omelin terus, tapi tetep kalem aja. Tapi aku mau tahu sampe kapan dia betah di rumah ini……”. Hati Saski terus bicara. Otaknya terus berpikir bagaimana caranya agar Denny tidak betah tinggal di rumahnya.

@@@@@@@@


Ini bulan ke tiga Saski hidup dengan satpam super galak dan sok ngatur. Siapa lagi kalau bukan abang tirinya, Denny. Saski semakin risih dengan sikap Denny yang over protektif. Ini nggak bole itu nggak boleh, benar-benar seperti di penjara. Bayangin aja, tiap hari pulang pergi keliah diantar, pergi ke luar harus pamit, bahkan jam sembilan malam harus sudah di rumah. Dan waktu Saski protes ke mama, mamanya Cuma nyuruh Saski ikut semua kata Denny.

Seperti malam ini, Saski udah siap ngedate bareng cowok barunya, Sebastian Kurniawan. Mereka baru jadian seminggu yang lalu, 4 hari sebelum mama pergi. Saski mengoleskan lipstick warna pink, blass on tipis di kedua pipinya agar tampak lebih merona.
Suda 3 kali dia mengganti bajunya sampai pilihannya jatuh pada tank top warna pink dibalut jaket kesayangannya, rok mini bahan jeans pun jadi paduan yang dia pilih.
Setelah memutar tubuhnya ke kanan, ke kiri di depan kaca dan merasa sudah pas semua, Saski keluar kamar. Tian, panggilan saying Sebastian, sudah menunggu di luar. Tapi begitu Saski sampai ruang tengah, Denny ada di sana. Saski mencoba terus cuek berjalan, tapi Denny menghalanginya, berdiri di depan pintu dengan kunci mobil dan rumah di tangannya.
“Mau kemana ?”
“Apa urusan kamu…..emang aku harus lapor setiap kali mau pergi……”
“Memang harus begitu….ini pesan mama…..aku harus jagain kamu. Sekarang Abang nanya, kamu mau kemana ?”
“Hang out lah……ini kan malam minggu……jadi aku bisa pulang lebih malam….”
“Hang out…dengan baju seperti ini…….rok mini…..tank top…..nggak ada baju lain ?”
“Hello….ini Jakarta. Apanya yang salah dengan bajuku……Mama aja nggak pernah ngelarang aku pake baju apapun. Sekarang kamu……sook ngatur-ngatur baju segala….”
“Kamu nggak boleh pergi….”
“What…?!!. Enak aja kamu bilang, aku udah janjian sama temenku….”
“Kalau gitu Abang yang antar……”
“Come on…..aku bukan bayi lagi. Aku udah 18 tahun. Aku bisa kemana-mana sendiri......
Terus terang, aku nggak suka sikap kamu yang sok ngatur. Rumah ini benar-benar seperti neraka, apa-apa nggak boleh…… Kenapa sih sekarang mama begitu percaya sama kamu…..”
“Semua demi kebaikan kamu Sas……Abang sayang kamu…..Abang nggak ingin ada apa-apa dengan adik Abang satu-satunya……kamu ngerti kan……?”
“Kamu yang seharusnya ngerti aku……pokoknya kau tetep pergi………”
“Nggak……”
“Please…….”
“Abang yang antar atau tidak pergi sama sekali……..’
“Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu……ini 2010, bukan 1945…..ini Jakarta, bukan kampong pedesaan………Aku heran….katnya kamu lulusan Melbourne Universitty, tapi kok nggak gaul gini……”
“Pokoknya nggak ada hang out atau clubbing malam ini. Oke….?!!”, Denny tersenyum. Saski bersungut-sungut, segera lari ke kamar. Wajahnya penuh kemarahan.
Di kamar Saski mengamk, membanting barang-barang kesukaannya.
“Aku bersumpah……Aku benci kamu selamanya…..Aku akan cari cara gimana kamu harus pergi dari rumah ini…..!!!. Jangan panggil aku Saski kalau aku nggak bisa ngusir kamu makhluk jelek……..Aku benci….!!!”

@@@@@@@@


“Ma…..kapan mama pulang ?”. Suara di ujung telepon terdengar penuh harap, sesekali isak tangisnya masih terdengar.

“Belum tahu saying……Kondisi Papa Heri belum stabil. Kenapa ? Kan ada Abang Denny yang bisa nemenin kamu kemana-mana…….”, ucap mama lembut.
“Tapi ma….Saski nggak suka dengan Denny……dia sok ngatur-ngatur, apa-apa nggak boleh…. Masa Saski nggak boleh ngedate sama Tian……lagian tadi malam kan malam minggu. Udah gitu sekarang dia suka ngatur-ngatur baju Saski…..yang terlalu mini lah, ketat lah…pokoknya mama cepet pulang, Saski udah nggak betah lagi……..”
“Sabar saying…….. Mama percaya, apa yang Abang Denny lakukan karena dia saying kamu……oke ?. Sekarang mama ke RS dulu ya………bye…I love you……”
“Ma….mama…….ya….putus……..”
Saski ngambek karena mama memutus telponnya. Padahal sekarang susah banget nelpon mamanya.
“Bi…..Bibi………….”, Saski berteriak dari kamar. Bibi Mimin yang bru pulang dari kampong kemarin segera ke kamar Saski, padahal di dapur bibi sedang memasak.
“Iya non……ada apa…? Bibi lagi masak di dapur.”
“Siapa yang nanya..!!. Tuh bersihin kamar, aku mau mandi……pokoknya selesai mandi semua udah harus rapi……”
“Tap….tapi non…..masaknya gimana…?”
“bodo……”
Bi Mimin menarik nafas panjang. Berhadapan dengan mejikan yang satu ini memang harus ekstra sabar kalu tidak ingin runyam. Bi Mimin segera ke dapur untuk mengambil keranjang sampah. Tapi di belakang ada Denny yang melihatnya.
“Lho…..Bibi kok masaknya ditinggal……untung nggak gosong……”
“Anu Mas……itu…..Non Saski nyuruh Bibi bersihin kamarnya. Padahal Bibi udah bilang lagi masak.”
“Keterlaluan tuh anak…..Udan, mana keranjang sampahnya. Bibi terusin masaknya”
“Tapi Mas…….”
“Udah…Bibi tenang aja…..”. Denny membawa keranjang sampah, sapu dan lap pel ke kamar Saski yang masih berantakan dan terbuka lebar. Begitu Denny naruh barang-barang itu, Saski keluar dari kamar mandi.
“Ngapain bawa-bawa lap pel, keranjang sampah dan sapu ke kamarku ?. Bibi mana ? Disuruh bersihin malah pergi………..”
“Bibi lagi mask Non……jadi mohon maaf, silahkan kamarnya dirapikan sendiri…..”, ucap Denny sambil ngeloyor pergi.
“What…?!!. Enak aja….bibi dibayar kan buat bersih-bersih……Emangnya aku pembantu apa ?”. Saski marah-marah.
“Selamat bersihin kamar Saski manis……..” ucap Denny meledek.
Sambil marah-marah dan teurs menggerutu Saski akhirnya membersihkan pecahan guci, dan barang-barang yang berantakan akibat ulahnya sendiri radi malam. Di dapur, Denny dan bibi cekikikan karena sukses memberi pelajaran ke Saski yang sok bossy.

@@@@@@@@


Saski curhat dan nagis habis-habisan di depan Tian. Siang itu Saski ada jadwal kulia tambahan, tapi demi bias pergi dengan Tian, Saski rela bolos kuliah dan ngedate disebuah mall dekat kampus.

“Ya ampun saying…..jahat banget sih abang kamu…..Emang mama kamu kapan pulangnya ? Kalau kayak gini terus, mana bias kita hang out malam-malam…… Masak malam mingu juga nggak boleh pergi…..”
“Tuh dia masalahnya. HP mama sering nggak aktif, udah gitu katanya papa Heri masih di RS……”
“Ya udah…..nggak usah sedih gitu, kan kita tetep bisa BBM-an……aku ngerti kamu kok… Ntar kalau kondisi udah memungkinkan kita bisa sering ketemuan kok…..” ucap Tian penuh perhatian.
“Ya ampun…..kamu pengertian banget…..aku jadi makin saying……..”
“Kalau gitu minggu ini kita nggak usah ketemuan aja dulu……ntar kalau mamamu udah pulang cepet call aku ya……..’
“Ok…..”
begitulah akhirnya Saski sepakat untuk nggak ketemuan dulu demi menghindari omelan-omelan Denny. Selesai makan mereka jalan-jalan sampai nggak ingat sudah jam sembilan malam.
Saski kalang kabut begitu tahu jam sembilan. Tian langsung mengantar Saski pulang, padahal ia masih kangn Saski.

@@@@@@@@


Denny masih menonton bola di TV, saat suara bel berbunyi beberapa kali. Denny pura-pura cuek, dibiarkan Saski trus memencet bel.

Tapi lama-lama kasihan juga. Denny beranjak ke pintu.
“dari mana ? Jam segini baru pulang……” ucap Denny datar. Saski menunduk.
“Sekarang pinter ya…..bilangnya ada kuliah tambahan, taunya pergi jalan-jalan sama Tian……Kenapa ngga clubbing sekalian…….” Denny mulia bernada tinggi.
“kamu bayar berapa ke temen-temen kamu buat bohong……… Kamu tau ? Abang jemput kamu jam dua….dan dua jam abang nuggu kamu di parkiran…… Temen-temen kamu bilang kamu lagi ada jam tambahan…….
Jam 4 abang cari kamu nggak ada, abang telpon Hp kamu mati…Mau kamu apa sih ?!!”
“Aku kan udah minta maaf…….”
“Minta maaf itu mudah. Tapi kamu udah menyalahgunakan kepercayaan abang……. Kamu tau ngak, betapa kuatirnya abang waktu dengar di TV ada korban pembunuhan dengan cirri-ciri mirip kamu…….. Abang ke sana ke sini nyari informasi, sampai ada yang bilang kalau kamu lagi jalan-jalan sama Tian…….. Abang kuatir Sas…!!!!”
Saski ketakutan. Belum pernah Denny semarah itu. BIcaranya tinggi tapi penuh kekhawatiran. Saski jadi merasa bersalah.
“Kamu nggak tau siapa Tia…….Dia itu cowok nggal bener……”
“Bohong !!!”
“Terserah….percaya atau nggak…..Abang Cuma bilang sekali…..”
“Tian cowok baik-baik. Aku lebih kenal dia daripada kamu…….Kamu nggak berhak menilai dia……” ucap Saski mulai marah.
“Abang nggak ingin kamu kecewa Sas……..”
“Pokoknya aku nggak suka kamu ngatur-ngatur hidupku……aku benci kamu……..”
“Ok. Kalau memang kamu nggak suka abang atur-atur kamu, mulai malam ini juga abang janji nggak akan ganggu hidup kamu……..Semua terserah kamu…..tapi ingat, kamu harus siap dengan segala konsekuesinya…….”
“Ok, deal…..”
“Deal………”
Akhirnya mulai malam itu Denny berjanji untuk tidak lagi mengatur dan banyak bicara urusan Saski. Mereka sendiri-sendiri, seperti sebelum Denny masuk ke rumah itu.

@@@@@@@


Hari ini adalah hari kebebasan buat Saski, seperti habis dalam penjara bertahun-tahun. Maka hari itu juga Saski mengundang temen-temennya untuk hang out nanti malam, mencoba menikmati hidup setelah lama terpenjara oleh aturan-aturan Denny. Mereka janjian clubbing sampai malam, dan Tian sudah pasti ikitan.

Nampakya Sas tidak tahu kalau diam-diam Denny terus memantau dan mencari tahu apa dan dimana Saski pergi., dan malam ini Denny siap-siap membuntuti Saski dan teman-temannya.
Saat semua pengunjung sedang asyik dengan house music yang di mix oleh DJ, dari jauh Denny melihat Saski, Tian dan teman-temannya duduk melingkar di sofa dengan lampu temaram. Saski berteriak-teriak kegirangan merasakan kebebasannya dari belenggu Denny.
Ketika Saski cs ingin beranjak ntuk turun ke dnace floor dengan alunan musik yang diramu oleh DJ, tiba-tiba ada suara riuh.
“Angkat tangan semua……..Jangan ada yang bergerak……... Semua tetap di tempat….”
Sekelompok polisi dating dengan tiba-tiba, dan satu persatu pengunjung digeledah. Yang tidak membawa identitas dan dicurigai membawa narkoba atau senjata tajam langsung dibawa ke kantor polisi.
Saski menangis histeris karena ketakutan. Saat dompetnya digeledah, polisi tak menemukan KTP di dompet Saski. Dia lupa kalau tadi siang KTP dan dompetnya tertinggal di rumah, dan dia bawa dompet satunya.
Kalang kabut perasaan Saski saat polisi menyuruhnya ikut ke kantor polisi. Dan adegan mencengangkan terjadi saat polisi menemukan dua bungkus kecil bubuk kecil yang dicurigai shabu-shabu di tas Saski.
“Pak…..itu bukan punya saya…….sumpah pak……..”
“Nanti saja keterangannya di kantor polisi……..”
“Tapi pak………..”
“Sudah ikut saja….”
Dan tiba-tiba Tian mencoba lari saat polisi juga menemukan lintingan rokok yang diduga ganja di saku celana Tian. Karena berusaha kabur dengan melompat meja, polisi mengejarnya hingga melepaskan tembakan ke arah kaki Tian. Karena kesakitan, Tian ambruk, diborgol tangnnnya dan diseret ke mobil polisi. Saski menangis sepanjang perjalanan.
Sesampai di kantor polisi, satu persatu diinterogasi dan Saski baru tahu kalau Tian memang buronan polisi. Dia masuk DPO, pengedar narkoba yang terkenal di kalangan mahasiswa. Aksinya lihai dan licin.
Saski terus menangis, meratapi nasibnya. Ia amat ketakutan karena seumur hidupnya baru kali ini masuk kantor polisi, apalagi karena kasus.
Satu persatu yang ada di kantor itu di tes urine setelah diinterogasi..
“Nama lengkap ?”
Ssaki terus gemetaraan saat polisi menginterogasinya.
“Saskia Veranda”
“Umur ?”
“18 tahun”
“Pekerjaan ?”
“Mahasiswi”
“Kenapa di tas anda ada barang ini ?”
“Pak, itu bukan punya saya”
“kalau bukan punya anda, lantas punya siapa ?”
“Anu pak……ta….tadi seingat saya temen saya bilang mau nitip sesuatu di tas……tapi saya nggak tahu barang apa………”
“Namanya siapa ?”
“Tian Pak……..Sebastian Kurniawan “
“Dia itu siapa anda ?”
“Em……pacar Pak……”
“Anda tahu apa pekerjaannya ?”
“Nggak Pak…….Dia bilang supplier furniture antik ke luar negeri…….tapi pastinya nggak tahu…………”
“Anda tahu…..pacar anda itu pemakai dan juga Bandar narkoba…….dia buron polisi 3 bulan ini………”
“Nggak Pak…..Tapi saya nggak ikut dipenjara kan Pak…….. Saya anak baik-baik. Saya bisa hubungi pengacara keluarga saya……..”
“Ok, silahkan……….”
Dengan gemetaran Saski menghubingi Denny. Denny yang sudah tahu kalau Saski di kantor polisi berlagak tidak tahu apa-apa.
“Den….tolong aku………”
“Kenapa Sas ? Kamu dimana ?”
”Aku…….au di kantor polisi……..”
“Apa ?!! Di kantor polisi ? Bukannya kamu lagi hang oout sama temen-temen kamu ?”
“Ceritanya nanti……Sekarang kamu k sini…….Aku takut…..please……..”
“Sorry Sas…..bukannya kita udah sepakat untuk sendiri-sendiri. Aku nggak mau lagi ngurusi kamu……….”
“Tapi Den…..please…..Cuma kamu yang bisa nolongin aku……Aku nggak mungkin ngasih tau mama……Please Den…….tolongin aku……..’
Denny menahan tawa, mendengar Saski terus memohon sambil menangis, sangat berbedadari biasanya yang sok dewasa bisa menyelesaikan semuanya.

@@@@@@@


Denny baru selesai mengaji saat tiba-tiba Saski masuk kamar. Pintu kamar Denny kebetulan terbuka lebar.

“Boleh ngomong nggak ?”
Denny yang masih memakai sarung jadu heran dengan tingkah Saski yang sok manja.
“Aku mau ke mall…..temenin yuk……temenku ultah besok, aku mau nyari kado……”
“Nggak mau…….”
”Please……..ya…….mau ya…….”
“Nggak mau…..biasanya kan sama temen-temen kamu……..”
“Aku maunya sama Abang…..”. Denny mendelik, nggak percaya dengan ucapan Saski.
“Apa……..tadi bilang apa ?”
“Abang…..Abnag Dennya…..”
“He……he……he….. KOk tiba-tiba manggil abang….”. Denny menggoda, Saski jdi tersipu malu. Mama ikut-ikutan ke kamar Denny.
“Ih……rukun amat…….ngobrol apa sih…….mama ikutan dong…..”
“Em……mau nraktir Bang Denny ma………Kan dia yang udah nyelametin Saski dari kantor polisi. Ternyata serse yang di kantor itu temen baiknya Bang Denyy…..Makasih ya bang……” ucap Saski tersipu.
“Tapi ntar sama mama papa sekalian biar seru………”
“Sama pacar Bang Denny juga boleh….”
“Abang nggak punya pacar……”
“Kenapa ?”
“He….he…..he……Abang nati pacaran. Kalau emang udah siap trus suka sama orang, pasti langsung abang ajak nikah, bukan pacaran…….”
“Trus……kapan kenalnya kalo gitu…?”
“Ya….pacarannya abis nikah aja, pasti seru……”
“Aneh…..”
“Ye…..makanya baca buku, dengerin pengajian……jangan clubbing mulu……kalau tiba-tiba malaikat maut dating trus kamu matinya pas lagi clubbing, mau nggak ??”
“Ih ngeri……..”
”tuh kan…..emang ngeri……makanya sekarang nggak usah clubbing-clubbingan segala, mending fokus kuliah biar cepet kelar…..trus gaulnya sama temen yang bener……..”
“Abang sok alim……..”
“Ye……mending sok alim, daripada sok…….tar……..sok…….”
“Abang kamu bener tuh……kalau temenan pilih-pilih, jangan sembarangan…….”
“Tapi susah Ma…..nyari temen baik-baik….”
“Siapa bilang ? Habisnya nyarinya ke mall sama clubbing…..ya temennya yang kayak gitu. Tapi coba deh…….sekali-kali di kampus kamu main tuh ke anak-anak rohis kampus. Pasti anaknya nggak aneh-aneh. Besok Abang kenalin sama adik temen Abang yang kuliah di kampusmu juga”
“Siapa ?”
“Aisyah”
“Ok”

@@@@@@@


Saski masih melamun di teras samping rumah saat abangnya lewat. Mama dan papnya sedang pergi ke hajatan Pak Windu, tetangga sebelah gang.

“Abang pergi dulu ya…..”
“Eh….Abang mau kemana ?”
“Tuh tadi ada undangan pengajian remaja di masjid deket rumah. Mau ikut ?”
“Emang boleh ? Lama nggak ? pulangnya jamberapa ?”. Denny geleng-geleng diberondong pertanyaan.
“Hm….dasar bawel. Giliran ke mall aja nggak nanya ini itu. Eh…..ke masjid kok cerewet….”
”He….he….he…..iya ya……Aku ikut. Yuk….!”. Denny melongo melihat Saski ngeloyor jalan duluan.
“Enak aja ikut……..tuh baju kamu…….”
Saski tertawa begitu sadar dia cuma pake kaos belel dan celan pendek.
“He….he…..he….lupa…. Tapi aku nggak punya baju panjang Bang…..Eh, tapi pinjem punya mama bentar ya……..”
Saski segera berlari ke kamar mama, dan sebentar kemudian…..toreng……toreng….
toreng……. Denny di buat melongo melihat penampilan Saski yang memakai setelan baju panjang dan jilbab warna biru.
“Subhanalloh……..cantiknya adik Abang……”
“Ih….Abang jangan meledek…….” Saski tersipu-sipu dipuji Denny.
“Serius….Abang nggak bohong. Kamu lebih cantik pake jilbab daripada Cuma pake tank top dan rok mini…….”’
Sepanjang perjalanan Saski baru merasa kalau abangnya ini memang benar-benar sayang dia. Buktinya tak lebih dari 4 bulan Denny benar-benar bias merubah kelakuannya. Walaupun awalnya dia merasa Denny sok ngatur dan mau menang sendiri.
Satu hal yang membuat Saski salut. Denny tak kenal putus asa apalagi dendam atas semua perlakuan dan kata-katanya selama ini. Sasaki merasa selama ini hatinya hampa, gersang dan tak tenang. Apalagi sebagai anak semata wayang yang semuanya serba tercukupi, tapi selalu kesepian.
Kehadiran Denny bagai oase di padang tandus siang hari.
“Pantas saja mama begitu percaya Bang Denny, sekarang aku tahu jawabannya….” Ucap Saski dalam hati.
“kamu kenapa senyum-senyum sendiri ?” Denny melambai-lambaikan tangannya
“Eh……anu…..nggak apa-apa kok…….”Saski senyum penuh bahagia.
“Aneh……….he……he….he……”

THE END

SEMUA KARENA ANDREA


by Bunda Nay

“ Besok ayah dan ibu ke pengadilan... kamu mau ikut ...?”
Aku masih teringat kata-kata itu, karena itu adalah kalimat terakhir sebelum ayah dan ibu benar-benar perpisah. Rasa marah dan menyesal belum hilang dari hatiku hingga sekarang, dan aku belum bisa memaafkan diriku sendiri atas perceraian ayah dan ibu.
Andai saja hari itu aku ikut ajakan ibu ke pengadilan, andai saja hari itu aku tak egois dan merelakan acaraku. Mungkin saja saat ini aku masih melihat ayah dan ibu bersama di rumah, dan masih kurasakan kehangatan canda tawa saat bersama mereka. Kini Aku terus mengutuk semua kebodohanku. Padahal akulah kunci semuanya yang mungkin tak diketahui ayah dan ibu.Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi selama Ayah kerja diluar kota, Aku tahu tentang laki-laki yang datang kerumahku, Aku tahu semuanya..., isu perselingkuhan, dan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Tapi Entahlah, saat itu aku merasa tak ada gunanya aku ceritakan semuanya. Toh aku hanya anak kelas dua SMP yang mungkin tak dianggap oleh mereka.
Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana aku hidup dengan andrea yang sangat kusayangi lebih dari diriku sendiri. Apapun yang terjadi, aku harus tetap tegar. Aku tak ingin perceraian itu mempengaruhi kredibilatas dan juga kepopuleranku sebagai murid teladan sekaligus ketua osis dis ebuah sekolah terfaforit dikotaku.
Aku terus berusaha setegar karang, mencoba setahan baja saat para tetangga heboh mengomentari perceraian orang tuaku. Ada yang menyalahkan ibuku karena tak setia dengan cintanya, ada yang menyalahkan ayahku karena kerja di tempat jauh dan jarang pulang. Tapi ada juga yang senang mendengar perceraian itu.
Ah.....lama-lama kupingku panas juga, terlebih karena berita heboh di kampungku. Tak ada 1 tahun ibu dekat dengan seorang laki-laki yang cukup berumur tapi belum juga menikah. Lelaki itu sering berkunjung ke rumah peninggalan ayahku yang aku tempati bersama ibu. Sementara Andrea kecil, dia lebih memilih tinggal bersama nenek yang tak begitu jauh dari rumah kami, hanya beda beberapa gang. Dia yang paling depresi atas keputusan cerai orang tua kami. Maklum, budaya demokrasi belum ada di rumahku. Seharusnya aku dan Andrea dimintai pendapat atau mungkin dilibatkan sebelum ayah dan ibu memutuskan bercerai.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin mengembalikan semuanya apalag berharap mereka kembali.
**************
Menjelang tes kenaikan kelas, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah nenek. Aku bilang ke nenek kalau aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu menemani Andrea kecil. Padahal itu ku lakukan karena aku tak sudi melihat lelaki itu, yang semakin sering datang mengunjungi ibu. Sungguh, aku tak rela ada lelaki lain menginjakkan kaki di rumah yang sudah hampir 10 tahun memberi kenangan indah padaku, Andrea dan ayah ibuku.
Tapi, aku benar-benar lemah di depan ibuku. Rasa takut dan hormat membuat lidahku kelu untuk sekedar protes atau mengutarakan isi hatiku.
Ah.....aku hanya bisa diam dan diam. Aku benar-benar tak tega melihat Andrea sealu diolok-olok teman-temannyakarena tak lagi memiliki ayah ibu yang utuh seperti lainnya.
Aku sedang membantu nenek menyiapkan makanan saat tiba-tiba ku dengar Andrea lari dngan menangis tergugu, pintu kamar dibanting dengan keras.
“Brakkkk.....!!!”
Aku dan nenek segera menemui Andrea yang sudah tengkurap di kasur dengan tangisan yang semakin menjadi.
“Kamu kenapa Dek......Ada yang jahat sama kamu....?” Ke belai rambut Andrea. Nenek mengambilkan minum untuknya.
“Minum dulu biar tenang......” Nenek memberikan segelas air putih. Andrea masih sesenggukan. Dadanya turun naik.
“Sekarang bilang ke Mas ada apa ?
“Ayah......Ayah......”
“Ayah kenapa ?”
”Ternyata benar kata orang-orang....ayah sudah punya calon istri”
“kamu tahu darimana ?”
”Tadi waktu Adek pulang sekolah, Adek melihat ayah naik becak sama mbak Dewi, mereka mesra sekali......” Seketika emosiku meluap. Ku tinju pintu kamar yang mulai rapuh. Aku bingung dengan jalan pikiran orang tuaku. Bukannya memikirkan bagaimana perasaan aku dan Andrea atau mencari solusi bagaimana pendidikan terbaik bagi kami, tetapi mereka malah sibuk saling menunjukkan keegoisan masing-masing. Ibu semakin dekat dengan lelaki itu, sementara ayah juga seolah nggak mau kalah dengan semakin dekatnya dia dengan Mbak Dewi, perempuan seumuran ibuku tapi belum juga mendapatkan suami.
Ayah dan ibu seakan unjuk aksi kalau mereka bisa lebih dulu mendapatkan pasangan lagi. Yang semakin membuaut aku naik pitam, lelaki dan perempuan yang sedang dekat dengan orang tua kami adalah sama-sama warga di kelurahanku, ahanya beda beberapa RT.
Aku tidak bisa menghentikan tangis Andrea, gadis kecilku, adik semata wayang yang aku punya. Terlalu kecil untuk Andrea mengerti arti hidup, apalagi usianya baru 10 tahun.
Aku berteriak lagi sambil ku tinjukan lagi tanganku hingga memar. Nenek memelukku dari belakang dari belakang, mencoba meredam emosiku.
“Sabar ya nak......Kamu yang paling besar, kamu harus kuat, tabah, dan jangan putus asa......Nenek tahu kalian amat sedih dengan perceraian orang tua kalian..... Nenek juga nggak ingin semuanya terjadi. Tapi.....ini kenyataan.....Kalian harus menghadapinya.....Kalian kebangaan nenek.....Buat nenek bangga ya sayang.....” Nenek berkaca-kaca menahan airmatanya jatuh. Ku balikkan tubuh dan ke peluk tubuh tua nenek.
“Sekarang kita tinggalkan adekmu, biarkan dia tenan dulu. Nanti nenek yang akan bicara ke Andrea......Ayo, makan dulu......” Aku ikuti lagkah nenek, ku biarkan Andrea yang masih menutupi mukanya dengan bantal.
**********
Usai pembagian raport kenaikan, aku rayakan keberhasilanku dengan teman-teman. Meski aku begitu banyak masalah, tapi aku tetap juara 1 di sekolah. Bahkan tak ada satupun teman-teman di sekolah yang tahu kalau aku anak broken home.
Seperti biasa, ku bagi sedih dan senangku pada alam. Pada terjal dan berlikunya tebing, pada kerasnya terik matahari, dan pada dinginnya malam di puncak gunung Sindoro.
Yah, bagiku hanya pada nenek dan alam aku rela manumpahkan semua yang menyesakkan dadaku. Di sini aku bebas berteriak sekencang-kencangnya tanpa ada tekanan ataupun larangan seperti kurasakan di rumah. Hidupku bagai dua sisi, kutub utara dan kutub selatan yang tak pernah bertemu. Di sekolah aku selalu menjadi nomer satu, suaraku, pendapatku, atau apapun yang aku lakukan begitu mahal harganya. Tapi di rumah.......aku seperti bukan siapa-siapa. Apalagi pendapatku, tak pernah bernilai apa-apa.
Untuk segala urusa, sekolah, makanan, baju, sepatu, atau bahakn permainan adalah hak mutlak ibuku. Tak pernah sedikitpun aku ditanya suka atau tidak. Seperti seorang prajurit militer, aku hanya boleh berkata “siap, laksanakan !”
Pun ketika ku dengar desas-desus lelaki itu akan melamar ibuku, aku juga tak mnedengar ibuku cerita atau sekedar meminta pendapatku atau mungkin Andrea. Yah....selalu begitu........
Bahkan untuk mengambil raport saja, aku sering minta tolong ibu temanku. Beliau sedah seperti orang tuaku sendiri. Ibet namanya, sahabat sekaligus kuanggap seperrti saudara. Di sana aku sering numpang tidur saat aku jenuh di rumah atau di temapt nenek. Bahkan 3 hari menjelang penerimaan raport, aku kabur dari rumah nenek. Aku bilang ada kegiatan sekolah. Begitulah, aku teramat baik dan penurut di mata orang tua dan nenekku, sehingga apapun yang aku lakukan mereka pasti mereka percaya. Mereka tak tahu kini aku mulai menjadi pembangkang, bahkan pembohong !
************
Setahun berlalu, aku mulai sibuk dengan dunia SMU ku. Sebagai lelalki normal aku mulai tertarik dengan lawan jenis. Apalagi dari penampilan, aku cukup berada di atas rata-rata menurut temanku. Maka ku mulai petualangan baruku. Aku mulai kenal rokok, bahkan sampai minum. Kadang aku juga heran mengapa aku melakukannya. Atau mungkin karena aku sedang butuh sebuah pengakuan. Ya....pengakuan yang tak aku dapatkan di rumah.
Entahlah, aku juga semakin menikmati cap “play boy” dari teman-teman perempuan di sekolahku. Aku tak peduli lagi apa yang ayah ibu lakukan, yang penting semua kebutuhanku dan Andrea tercukupi. Ayah setiap bulan atau setiap kali pulang dari luar kota pasti mengirimku uang yang jumlahnya lebih dari cukup untuk ukuran anak SMU, dan itu tanpa sepengetahuan ibu.
Dengan kepercayan dari orang-orang dekatku, aku semakin bebas melakukan apapun yang aku suka.
Diam-diam aku dan Andrea sering bertemu ayah dan diberi uang. Tapi ternyata kabar itu sampai juga ke ibuku. Sore itu sepulang dari sekolah kami disidang ibu. Ibuku naik pitam, merasa ditampar karena diam-diam aku sering menemui ayah dan diberi uang oleh ayah tanpa sepengetahuan ibu. Aku mencoba menjelaskan tapi ibu semakin marah. Aku bingung, apanya yang salah dengan aku dan Andrea. Toh apapun yang terjadi tidak ada bekas ayah atau ibu. Jadi apa yang aku lakukan memang satu kewajaran, memeberi uang anaknya.
Kami beretngkar hebat. Ibu tetap tidak suka aku dan Andrea sering mengunjungi ayah, apalagi tanpa sepengetahuan ibu. Dan aku tetap bersikukuh apa yang aku lakukan tidak salah. Akhirnya dengan kemarahan memuncak tangis ibu meledak kemudian masuk ke kemar dan menguncinya. Aku coba mengetuk pintunya dan meminta maaf berkali-kali, tapi pintu tetap terkunci dari dalam. Pun tidak ada kalimat yang keluar dari bu selain tangis yang semakin menjadi.
Aku memeluk Andrea yang ketakutan. Ku tenangkan dia dan ku ajak pulang ke rumah nenek. Aku tahu apa yang Andrea rasakan. Kami seperti anak ayam yang kehujanan dan kehilangan induk kami, merasa hidup tak berarti lagi. Nenek selalu mengajari kami untuk berjiwa besar. Apalagi watak ibu memang keras dari dulu, atak takut pada siapapun, termasuk nenek. Sayang kakek sudah meninggal, karena hanya beliau yang bisa menaklukkan hati ibu.
***************
Satu minggu sudah ibu mendiamkan aku, walalupun aku sudah meminta maaf berkali-kali. Bahkan buntutnya Adrea tak lagi semangat belajar. Kasihan dia, hatinya begitu mudah hancur. Sejak ibu memarahinya, nilai-nilai pelajarannya menurun drastis. Aku terus memompakan semangat ke Andrea, tapi belum juga berhasil.
Sementara aku mencoba mencari ketenangan. Aku langkahkan kakiku kemana ia suka. DI keheningan malam, menyusuri keangkuhan kota. Hatiku begitu hampa, kenapa semua ini terjadi padaku dan Andrea. Kenapa kami dipaksa harus mengerti arti hidup di usia kami yang masih begitu muda ? Kenapa mereka harus bercerai demi ego masing-masing ? Kenapa nggak ada yang mengerti perasaan aku dan Andrea ? Kenapa ? Kenapa ?
Pertentangan demi pertentangan terus berperang di hatiku. Ku coba mencari jawabannya tapi tak juga aku temukan. Dalam kekalutan, ku beli obat sakit kepala, 10 biji. Ku telan semua. Lalu aku terus berjalan, berharap ada mobil atau motor yang menabrakku, tapi mobil mobil itu malah menepi seperti memberiku jalan. Aku semakin pusing, kepalaku berputar-putar, bum yang ku injak semakin tak rata lagi, terus berputar......dan kemudian gelap...........
Saat ku buka mata, aku sudah dikelilingi banyak orang. Nenek, Andrea, Budhe Safira, dan beberapa tetangga. Tapi tak ku lihat sosok yang ku cari-cari, Ibu. Ku coba bangun, tapi kurasakan tubuhku begitu berat. Nenek menyodorkan segelas susu. Ku minum beberapa teguk dan aku seperti mendapat kekuatan. Sosok yang ku cari berikutnya adalah Andrea. Tangan mungilnya mengelus-elus pipiku. Ku tangkap tangannya, ku peluk tubuhnya erat seakan tak ingin ku lepas lagi.
Segala penyesalan merasuki hatiku. Aku telah melakukan kebodohan begitu besar. Hampir saja aku mati dan meninggalkan gadis kecil yang selalu menunggu senyumku. Aku harus tegar ! Aku harus kuat ! Aku harus tetap tersenyum ! dan aku harus bisa dibanggakan ! Ya......aku kebanggan Andrea, aku harus bisa menjadi pegangan untuknya. Akan ku tunjukkan pada ayah, ibu, nenek dan semuanya bahwa aku bisa dibanggakan, dengan atau tanpa ayah ibu seperti dulu.
Semua akan ku lakukan, karena orang yang sangat ku sayangi.....ya....semua karena Andrea. Perlahan senyumku mengembang, ku tatap mata sayu Andrea.
“Maafin Mas ya Dek......Mas sayang kamu.......” Mata Andrea berkejap-kejap, kemudian memelukku lagi. Semua yang ada di sana tak kuasa menaan air mata, melihat dua bocah berjuang hiudp dengan cinta.
“Ah....Andrea.....aku berjanji akan kutinggalkan semua perbuatan dan perilaku buruk di masa lalu, belajar menajdi lebih baik........Semoga Alloh selalu membimbingku menjadi pribadi tangguh dan pantas kamu banggakan.........”
THE END

Thursday, November 1, 2012

AKU DAN FLP



                            Oleh: Alissyfa
Cinta pertamaku pada FLP bermula sekitar 5 tahun lalu. Ketika itu menjelang liburan sekolah setelah kelulusan SMP. Bisa dibayangkan roman kehidupan seorang gadis kecil yang kaku, masih bingung, meraba-raba mana bentuk, mana topeng untuk dipakai saat berkumpul bersama teman-teman. Agaknya peristiwa pada cinta pada pandangan pertama ini berbuntut panjangm, hinga kini, kini aku duduk di semester 6, di sebuah Universitas Islam yang sering kali kusebut “The Andaluslan University”.
Ketika itu, setelah seusai pulang dari pendaftaran siswa baru di SMA ! Purwodadi, yang katanya ‘sekolah favorit’. setibanya dirumah, ternyata kakak laki-lakiku yang sulung juga baru saja sampai kampung halaman, ‘mudik’. Dulu merupakan istilah asing di telingaku. “Dek, aku bawa buku bagus”. Kata masku pendek. Buku sedang dengan warna merah tua, bergambar wanita dengan jilbab diusung judul ‘gara-gara jilbabku’ diujung paling atas buku tersebut. Tak lupa torehan nama penulis di bawahnya: Asma Nadia, dkk.” Wah novel religi. Nggak gitu tertarik, paling ceritanya sama, kesedihan, monoton, dan penuh kepasrahan”. Jawabku sambil bergidik. Masku hanya tersenyum kecil. Lalu mengusap kepalaku dan meletakkan buku itu ditanganku .
Meski minatku pada tiap genre bacaan selalu berubah-ubah (tergantung mood), akhirnya kubaca juga buku bernuansa novel tersebut. Selembar, dua lembar, 15 menit, setengah jam, semalam suntuk kupaksa untuk menyelesaikan bacaan ‘kecil’ yang memancing rasa penasaranku. Tumpahan kisah haru, tentang perjuangan mengibarkan ‘panji’ jilbab yang dituturkan sangat apik, mulai dari Ifa Avianty, Jazimah Al-Muhyi, Maya Lestari G.F, Leyla Imtichonah, dan Asma Nadia sendiri tentunya, berbekas rasa heran. Heran pada diriku sendiri. Satu kalimat dari Andi Tenri Dala F, dia bilang : “tiada yang membelenggu kita kecuali pikiran kita sendiri”. Glek. Aku sadar meskipun pura-pura masih bermimpi. Kendala akhwat yang satu ini pun sama denganku, kurasa hobi berrmain musik sangat tidak pantas dimonopoli orang-orang dengan penutup kepala ini.
Takut di cap sok alim? tidak juga. Cuma rasanya terlalu aneh saja, apa kata orang nanti jika melihat pemain musik, gedombrangan pula, dan gitaris atau violisnya seorang wanita berjilbab? “Namun rasanya seperti jatuh cinta pada seseorang tapi tidak bisa mengungkapkannya”. tutur salah satu penulis di buku tersebut. Begitulah, karena pada dasarnya saya suka membaca buku bermakna, ( cieee……), maka begitu pun buku tersebut mulai merasuki rongga hati mengalir deras bersama ketupan semangat penuh inspirasi dari para penulisnya. Belakangan baru ku tahu semua nama penulis yang telah kuceritakan itu sebagian besar adalah pejabat FLP di kota tempat mereka tinggal. Luar biasa. Bisa-bisa nya masku mengganti ceramah hariannya yang membosankan itu dengan memberiku buku cantik ini. Trik yang cukup cerdas, ( thanks ya mas, jika boleh kusebut dirimu sebagai agen pengantar hidayah kecil ini untukku ^_^ ).
Masa orientasi siswa kuputuskan untuk berjilbab. Sedikit banyak aku bercermin pada kisah-kisah di buku tersebut. Alhamdulilah hingga sekarang, selalu kutemukan lagi goresan nasihat, saran nan manis dari para dakwatun nisa’ ini tiap kubaca buku tersebut, Andaikata suatu saat nanti aku bisa berdiri pada mereka, di satu celah sastra yang masih kusimpan di hati, betapa aku berharap semoga mereka berkenan menurunkan ilmu ‘kanuragan kepenulisan islami’ ini, untuk kusalurkan ulang pada generasi sesudahku, semoga saja…
Semarang, 7 Juni 2012
      22.05 WIB

Lianata Hidayati, bernama pena Alissyfa, Lahir di Grobogan, 21 Oktober 1991, penikmat sastra, penulis-pemula, berminat pada travelling, literatur, dan dunia berbau seni, terutama seni musik. Saat ini meneruskan studi di Universitas Islam Sultan Agung Semarang, di Prodi pendidikan bahasa Inggris, Semester 6, bisa dihubungi lewat email : electra91@gmail.com

AKU DAN FLP



Bismillahirahmanirahim

Minggu yang lalu aku pulang dari Kota Garam untuk kembali ke Semarang. Seperti biasa aku akan naik bis ke Sukun, dan menunggu Mas Dimas (kakakku) menjemput dan mengantarku sampai kos.
Selama di perjalanan sepanjang sore itu, seperti biasa juga aku menceritakan apa yang terjadi selama di rumah, apa yang aku alami atau ia akan menceritakan apa yang baru saja ia lakukan. Kami mengobrolkan tentang apapun.
Di ujung cerita, keluar satu kalimat penutup ceritaku. “Kadang aku merasa iri, mas..”
Rasa-rasanya setelah mengucap itu beban seperti telah mencair perlahan. Kata yang sesungguhnya ingin aku beberkan jauh-jauh hari namun kuurungkan.
“Manusiawi”. Jawaban yang singkat.
Aku menghela nafas, sehening mungkin agar ia tak mendengarnya. Ya, jawaban seperti itu sangat klise menurutku.
Tak lama kemudian, ia justru bertanya: “Sekarang begini, kamu ingin jadi ikan kecil di kolam yang kecil, ikan kecil di kolam besar, ikan besar di kolam kecil, atau ikan besar di kolam yang besar?”
“Ikan besar di kolam yang besar”, jawabku.
“Iya, tapi ikan yang besar dulunya adalah seekor ikan yang kecil, nok.”
Aku sedikit terhenyak.
“Kamu saat ini ibarat seekor ikan yang kecil di kolam kecil. Jika kamu ingin berada di kolam yang besar, jadilah kamu ikan yang besar dulu.
Mengapa ikan kecil dimasukkan ke kolam yang kecil? Itu karena sesuai porsinya. Ikan kecil itu akan dibiarkan tumbuh berkembang di tempat yang sesuai untukknya. Ketika ia sudah mulai besar, maka manusia akan memindahkannya ke kolam yang lebih besar.
Sedangkan jika ikan besar masih berada di kolam kecil ia sendiri tak akan berkembang. Ikan yang sudah membesar itu pun juga akan mengganggu bahkan akan memangsa ikan-ikan kecil yang juga berada di dalamnya.
Nah kalau kamu jadi ikan yang masih kecil, tiba-tiba sudah minta dimasukkan ke dalam kolam yang besar, tahu apa yang akan terjadi?
Kamu tidak akan pernah terlihat. Mereka akan sulit melihatmu, meski kamu seekor ikan yang indah, mampu berenang dengan baik, tapi tidak akan banyak yang tahu bahwa kamu ada. Bahkan sangat mungkin terjadi kamu akan dilahap oleh ikan-ikan yang jauh lebih besar darimu.
Mungkin saat ini memang kamu masih menjadi ikan kecil di kolam yang kecil. Berusahalah untuk berkembang di dalam kolammu yang kecil, sehingga mereka akan lebih mudah melihatmu tumbuh menjadi besar. Setelah engkau mampu membesarkan dirimu di kolam yang kecil, dengan sendirinya engkau akan dipindahkan ke kolam yang lebih besar.”
Mataku berkaca-kaca, dan akhirnya tumpah bendungan air mataku ini, untung saja mas Dimas tak melihatnya. Rasanya semua kata-katanya tadi telah menorehkan makna yang luar biasa.
“Kamu sudah selesai membaca novel yang baru saja kamu beli kemarin?”
“Sudah mas, bagus.”
“Nah, kamu tahu kan orang-orang besar seperti mereka dulu sekolah dimana? Apakah mereka sekolah di tempat-tempat yang keren, yang terkenal, mahal dan bergengsi?”
“Tapi mas, bukankah dengan sekolah di tempat-tempat yang luar biasa seperti itu lebih menjanjikan melahirkan generasi-generasi yang luar biasa, pengalaman dan ilmu yang didapat dari sana lebih banyak.”
“Nok, mereka yang bisa sekolah di tempat yang luar biasa memang menang satu tingkat dari orang yang sekolah di tempat yang biasa. Tapi, banyak orang yang cepat merasa puas bahwa ia bisa sekolah di tempat itu, sehingga seringkali lupa bahwa langkah-langkah selanjutnyalah yang menentukan masa depan. Dengan perasaan puasnya itu mereka terlenakan, lebih sering bermain, berfoya-foya dengan membanggakan status tempatnya bersekolah. Tapi bukankah sudah banyak contoh nyata, bahwa orang-orang yang tempat tinggalnya di pedesaan, jauh dari peradaban kota dengan kondisi yang memprihatinkan, kemiskinan, sekolah yang reot, dan segala keterbatasan lainnya, justru semua itulah pembangkit semangatnya untuk berjuang sehingga pada akhirnya merekah yang akan menang. Belajar itu bisa dimana saja, yang terpenting adalah semangat dan niat kita.”
Ya, kupikir jika aku hanya terus meratapi kegagalanku yang lalu, itu akan membuatku yang kalah justru semakin kalah. Setiap orang bisa saja kecewa, tapi selalu ada cara untuk mengelolanya.
Untuk itu, aku mulai mencoba berbagai cara untuk “membesarkan diri”, mengembangkan potensi, belajar dari manapun, kepada siapapun dan sampai kapanpun InsyaAllah. Aku akan membangun cinta menulis agar mampu menginspirasi orang lain seperti halnya penulis-penulis yang telah banyak menginspirasiku melalui buku-bukunya. Dan aku memilih Forum Lingkar Pena (FLP) untuk mengembangkan kecintaanku dan kemampuanku. Kekecewaanku karena terlambat mendapat info open recruitment FLP kemarin, mungkin karena Allah ingin aku lebih banyak belajar terlebih dahulu. Aku berharap bisa bergabung dengan FLP untuk belajar bersama dan membangun ukhuwah serta menemukan iman yang tak sendiri. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
 


Biodata

Nama   : Destya Sekar Ayu
Hobi    : membaca, menulis dan traveling
Riwayat Pendidikan:  1. TK Bhayangkari
                                    2.  SD N Leteh III Rembang
                                    3. SMP N 2 Rembang
                                    4. SMA N 1 Rembang
                                    5. UNNES (IKM 2011)